NPSN : 60714452 | NSM : 111235030055 | IJOB NO. : MIS/03.0055/2017 | AKTE NOTARIS : NO. 4, MUNYATI SULLAM, S.H., M.H. | Pengesahan Akta Notaris : AHU-119.AH.01.08.TAHUN 2013 / 26 JUNI 2013 | Tanggal Pendirian : 01 JANUARI 1965
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, November 13, 2025

Beberapa Ciri Guru yang tidak Empati terhadap Sekolahnya


Berikut beberapa ciri-ciri guru yang tidak empati terhadap sekolahnya:
1. 🧍‍♂️ Tidak peduli terhadap lingkungan sekolah
Tidak ikut menjaga kebersihan, keindahan, dan kenyamanan sekolah.
Tidak merasa memiliki terhadap fasilitas sekolah.

2. 🗣️ Kurang menghargai rekan kerja dan pimpinan
Sering mengeluh, menjelekkan sekolah atau kepala sekolah.
Tidak mau bekerja sama dalam kegiatan sekolah.

3. 📚 Tidak terlibat dalam kegiatan sekolah
Enggan berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler, rapat, atau acara sekolah.
Hanya datang untuk mengajar, tanpa peduli pada kehidupan sekolah secara keseluruhan.

4. 🕒 Kurang disiplin dan tanggung jawab
Sering datang terlambat atau pulang sebelum waktunya.
Tidak menyiapkan pembelajaran dengan baik.

5. 💬 Tidak peka terhadap kebutuhan peserta didik dan lingkungan sekolah
Tidak berusaha memahami permasalahan siswa atau kondisi sekolah.
Acuh terhadap kesulitan siswa atau rekan kerja.

6. 💼 Berorientasi pada kepentingan pribadi
Lebih mementingkan keuntungan pribadi daripada kemajuan sekolah.
Tidak punya semangat untuk memajukan nama baik sekolah.

7. 💔 Tidak memiliki rasa bangga terhadap sekolahnya
Tidak ikut mempromosikan atau menjaga citra baik sekolah.
Menganggap sekolahnya tempat kerja biasa, bukan bagian dari dirinya.
Share:

Minggu, November 09, 2025

Bahaya Ghibah: Dosa yang Terasa Ringan, Namun Berat di Sisi Allah


Dalam kehidupan sehari-hari, ghibah atau menggunjing sering kali dianggap hal sepele. Kadang muncul dalam obrolan ringan, kadang dibungkus dalam bentuk candaan atau bahkan dalih “sekadar cerita”. Padahal, di balik ringan lidah mengucapkannya, tersimpan dosa besar yang menggerogoti hati, menghapus pahala, dan merusak ukhuwah sesama muslim.

Makna Ghibah Menurut Islam

Secara bahasa, ghibah berarti membicarakan seseorang di belakangnya. Rasulullah ﷺ menjelaskan makna ini dengan sangat jelas:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْغِيبَةُ؟ قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ.
قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ.

Artinya:

“Ghibah adalah engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci.”
Sahabat bertanya: “Bagaimana jika apa yang aku katakan benar ada pada dirinya?”

Beliau menjawab: “Jika benar ada padanya, maka engkau telah menggunjingnya. Jika tidak ada, maka engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)

Ghibah dalam Pandangan Al-Qur’an

Allah ﷻ menggambarkan betapa menjijikkan perbuatan ghibah dengan perumpamaan yang mengguncang hati:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini mengajarkan bahwa menggunjing seseorang sama menjijikkannya seperti memakan daging saudaranya yang sudah meninggal — sebuah gambaran yang mengguncang nurani siapa pun yang masih memiliki hati yang hidup.

Dampak Buruk Ghibah

  1. Menghapus pahala amal kebaikan.
    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”
    Para sahabat menjawab: “Orang yang tidak punya uang dan harta.”
    Beliau bersabda:
    “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan membawa shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia telah mencaci orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Maka kebaikannya diberikan kepada mereka, dan bila habis kebaikannya sebelum membayar semua kesalahannya, dosa-dosa mereka diberikan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka.”
    (HR. Muslim)

  2. Menumbuhkan kebencian dan perpecahan.

    Ghibah mematikan ukhuwah, menumbuhkan prasangka, dan menimbulkan permusuhan di tengah umat.

  3. Merusak hati pelakunya.

    Hati yang terbiasa menjelekkan orang lain akan kehilangan rasa kasih sayang dan empati. Lidah menjadi tajam, namun hati menjadi beku.

Menjaga Lisan, Menyelamatkan Iman

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Diam lebih mulia daripada berbicara yang melukai. Menahan diri dari ghibah bukan berarti lemah, melainkan tanda kematangan iman dan keteguhan hati.

Ubah Ghibah Menjadi Doa

Daripada membicarakan kekurangan orang lain, lebih baik kita mendoakan agar Allah memperbaikinya. Sebab, siapa tahu orang yang kita bicarakan justru lebih dekat dengan surga dibanding kita yang suka menggunjing.

Ghibah adalah dosa yang ringan di lidah, namun berat di timbangan amal. Mari kita jaga lisan, sucikan hati, dan isi waktu dengan kebaikan. Karena setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.

Share:

Rabu, Oktober 01, 2025

Hari Kesaktian Pancasila: Refleksi dan Spirit Kebangsaan untuk Generasi Masa Kini


Hari Kesaktian Pancasila, yang diperingati setiap 1 Oktober, bukan sekadar momen untuk mengingat sejarah kelam G30S/PKI, tetapi juga kesempatan bagi seluruh warga bangsa untuk merenungkan makna dan relevansi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila, sebagai dasar negara dan ideologi bangsa, lahir dari proses panjang perjuangan para pendiri bangsa untuk menyatukan keragaman budaya, suku, agama, dan adat istiadat di Indonesia.

Makna dari Hari Kesaktian Pancasila terletak pada pengakuan akan kekuatan nilai-nilai Pancasila sebagai perekat persatuan dan panduan moral bangsa. Kesaktian Pancasila bukan semata kekuatan simbolik, tetapi juga kekuatan nyata dalam menjaga stabilitas sosial, mendorong toleransi, dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keadilan dan kemanusiaan. Peringatan ini mengingatkan kita bahwa ancaman terhadap persatuan dan integritas bangsa dapat muncul kapan saja, dan hanya dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila kita mampu menjaga keharmonisan kehidupan berbangsa.

Spirit Hari Kesaktian Pancasila mengajak generasi muda untuk tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku nyata: menghormati perbedaan, menjaga persatuan, menegakkan keadilan, serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa. Di era globalisasi ini, ketika arus informasi dan budaya asing begitu deras, kesadaran akan jati diri bangsa menjadi semakin penting. Pancasila hadir sebagai landasan moral dan ideologis yang menuntun kita untuk tetap konsisten dalam membangun bangsa yang adil, makmur, dan beradab.

Dengan memahami makna dan spirit Hari Kesaktian Pancasila, kita diingatkan bahwa menjaga persatuan bangsa bukan tugas sekelompok orang, tetapi tanggung jawab seluruh warga negara. Hari ini menjadi momentum refleksi bagi setiap generasi, untuk memastikan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya menjadi slogan, tetapi hidup dan tercermin dalam setiap tindakan nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


----------
Penulis : Murdiyanto
Pembina Ekskul & Pemerhati Pendidikan MI Watuagung
Share:

Minggu, September 28, 2025

Keberhasilan Pendidikan Lahir dari Tekad, Keistiqomahan, dan Kebersamaan


Seringkali keberhasilan suatu lembaga pendidikan ataupun prestasi seorang siswa diidentikkan dengan kecerdasan atau kepintaran yang dimiliki. Padahal, kenyataannya, kecerdasan hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor yang menentukan keberhasilan. Sejarah panjang dunia pendidikan menunjukkan bahwa ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar kepintaran, yakni tekad, keistiqomahan, dan kebersamaan.

Seorang pimpinan lembaga pendidikan yang cerdas memang memiliki nilai tambah, tetapi kecerdasan itu tidak akan bermakna apabila tidak diiringi dengan tekad yang kuat dalam mewujudkan visi bersama. Begitu pula seorang siswa yang pintar, tidak otomatis akan sukses jika tidak memiliki daya juang, keuletan, dan ketekunan dalam belajar. Justru mereka yang istiqomah, konsisten dalam berusaha, serta tidak mudah menyerah, lebih berpeluang meraih keberhasilan sejati.

Keistiqomahan menjadi kunci utama dalam menjaga ritme perjalanan pendidikan. Ia ibarat bahan bakar yang terus menyalakan semangat, meskipun jalan yang ditempuh penuh rintangan. Sementara itu, kebersamaan adalah ruh yang menguatkan. Lembaga pendidikan yang kokoh lahir dari kerja kolektif: kepala sekolah yang bijak, guru yang ikhlas, siswa yang semangat, serta orang tua yang mendukung. Kebersamaan ini menciptakan suasana kondusif di mana setiap individu merasa memiliki peran dan tanggung jawab dalam meraih prestasi.


Prestasi pendidikan tidak pernah tercipta hanya oleh satu orang yang cerdas, melainkan hasil kolaborasi dari seluruh unsur yang saling menguatkan. Kekompakan antara guru dan siswa, sinergi antara sekolah dan masyarakat, serta komitmen bersama dalam menjaga nilai-nilai luhur pendidikan, inilah yang sejatinya membuahkan keberhasilan.

Oleh karena itu, penting untuk menanamkan kesadaran bahwa pendidikan bukanlah arena untuk mengagungkan kecerdasan semata. Pendidikan adalah perjalanan panjang yang membutuhkan tekad yang bulat, istiqomah dalam langkah, dan kebersamaan yang kuat. Dengan itulah lembaga pendidikan akan tumbuh berkembang, dan siswa akan menemukan jati dirinya sebagai insan berprestasi yang bermanfaat bagi kehidupan.


-----------
Penulis : Murdiyanto
Pemerhati Pendidikan / Pembina Eskul MI Watuagung
Share:

Senin, September 22, 2025

Dukungan Orang Tua sebagai Pondasi Keberhasilan Anak dalam Belajar di Sekolah

Foto : Kampus MI Watuagung - 22/09/2025

Keberhasilan seorang anak dalam menempuh pendidikan tidak pernah lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari kualitas pembelajaran di sekolah, semangat belajar yang tumbuh dalam diri anak, hingga peran keluarga, khususnya orang tua. Dalam konteks ini, dukungan orang tua menjadi salah satu syarat utama keberhasilan anak di sekolah. Tanpa keterlibatan aktif dari orang tua, sehebat apa pun metode pembelajaran yang diberikan guru di kelas, sering kali tidak berjalan maksimal.

Orang tua adalah guru pertama bagi seorang anak. Sejak kecil, anak belajar berbicara, bersikap, hingga membentuk karakter melalui bimbingan orang tuanya. Maka, ketika anak mulai memasuki dunia sekolah formal, peran orang tua tidak serta merta berhenti. Justru, dukungan orang tua menjadi kunci yang memastikan anak mampu menghadapi berbagai tantangan belajar. Dukungan ini bukan hanya dalam bentuk materi, seperti menyediakan seragam, buku, atau fasilitas belajar, melainkan juga berupa perhatian, motivasi, dan keterlibatan emosional.

Banyak penelitian pendidikan menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan perhatian dan dukungan dari orang tuanya cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi. Misalnya, orang tua yang rutin menanyakan pelajaran apa yang dipelajari hari itu, memberikan semangat saat anak merasa kesulitan, atau memberi penghargaan sederhana atas pencapaiannya, akan menumbuhkan rasa percaya diri anak. Ia merasa dihargai, dicintai, dan dipahami. Rasa inilah yang kemudian menumbuhkan dorongan internal untuk terus berusaha dan meraih prestasi yang lebih baik.

Selain itu, keterlibatan orang tua juga terlihat dalam menjalin komunikasi dengan guru. Sekolah dan rumah seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan bersinergi dalam mendukung tumbuh kembang anak. Ketika orang tua rajin menghadiri pertemuan wali murid, memahami perkembangan belajar anak, serta mau berdiskusi dengan guru tentang kendala yang dihadapi, maka jalan menuju keberhasilan anak semakin terbuka. Sinergi ini menciptakan suasana pendidikan yang lebih sehat, di mana anak tidak merasa tertekan, tetapi justru merasa didukung dari dua arah: rumah dan sekolah.

Namun, realitas di lapangan masih menunjukkan adanya orang tua yang kurang memberikan dukungan optimal. Ada yang terlalu sibuk bekerja sehingga abai terhadap pendidikan anak, ada pula yang beranggapan bahwa keberhasilan anak sepenuhnya tanggung jawab sekolah. Sikap seperti ini tentu tidak tepat, sebab pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Sekolah berperan sebagai lembaga formal yang memberikan ilmu, sementara orang tua bertugas menciptakan iklim belajar yang kondusif di rumah. Tanpa kehadiran kedua unsur ini, keberhasilan anak akan sulit tercapai.

Dengan demikian, dukungan orang tua bukan hanya menjadi faktor tambahan, tetapi justru syarat penting yang menentukan keberhasilan anak dalam belajar di sekolah. Anak yang didampingi, diberi perhatian, dan dimotivasi oleh orang tuanya akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih bersemangat, mandiri, dan percaya diri. Oleh karena itu, mari para orang tua menyadari betapa besar peran mereka dalam membangun masa depan anak. Pendidikan yang baik bukan hanya soal sekolah yang berkualitas, melainkan juga tentang orang tua yang hadir dengan cinta, perhatian, dan dukungan yang tulus.


--------
Penulis : Murdiyanto
Pemerhati Pendidikan - Ketua BSA Trenggalek
Share:

Senin, September 15, 2025

Mengabaikan Amanah: Tanggung Jawab yang Terlupakan, Antara Kelalaian, Pengkhianatan, dan Kedzaliman dalam Perspektif Islam


Pendahuluan

Amanah adalah sebuah konsep yang sangat fundamental dalam ajaran Islam. Kata amanah sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti kepercayaan atau titipan. Dalam konteks syariat, amanah mencakup tanggung jawab yang harus dijalankan dengan penuh kesungguhan, baik yang berhubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia.

Sayangnya, dalam realitas kehidupan, banyak di antara kita yang diberi amanah namun justru tidak menunaikannya sebagaimana mestinya. Fenomena ini bukan hanya persoalan moral, tetapi juga persoalan aqidah, karena amanah merupakan salah satu tanda keimanan seorang Muslim. Ketika amanah ditelantarkan, maka rusaklah nilai keimanan, hilanglah rasa kepercayaan, dan muncul berbagai bentuk kedzaliman.

Amanah dalam Perspektif Al-Qur’an

Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap amanah. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil...” (QS. An-Nisa: 58).

Ayat ini menjelaskan dua hal penting: pertama, amanah harus disampaikan kepada yang berhak, tidak boleh dikhianati. Kedua, amanah menuntut adanya keadilan dalam melaksanakan tanggung jawab. Maka, siapa pun yang diberi amanah – baik berupa jabatan, kekuasaan, harta, ilmu, maupun tugas sosial – wajib menjalankannya dengan penuh tanggung jawab.

Amanah dan Keadilan: Dua Hal yang Tak Terpisahkan

Amanah tidak bisa dipisahkan dari keadilan. Sebab, hakikat dari menjalankan amanah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Sebaliknya, meninggalkan atau mengkhianati amanah sama halnya dengan perbuatan dzalim. Dzalim secara bahasa berarti wadha’ asy-syai’ fi ghairi mahallihi (meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya).

Contoh yang paling nyata adalah seorang pemimpin yang diberi amanah untuk menyejahterakan rakyat, namun justru menelantarkannya demi kepentingan pribadi. Ia telah dzalim, karena tidak menempatkan hak rakyat sesuai kedudukannya. Demikian pula seorang bendahara yang menggelapkan uang, seorang guru yang lalai mendidik, atau seorang suami/istri yang tidak menjaga kehormatan keluarga – semuanya termasuk bentuk kedzaliman yang lahir dari pengkhianatan terhadap amanah.

Hadits Nabi tentang Amanah

Rasulullah SAW menegaskan:

“Apabila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran.” (HR. Bukhari).

Hadits ini menggambarkan bahwa ketika amanah tidak dijalankan, maka kehancuran bukan hanya menimpa individu, tetapi juga masyarakat secara luas. Sebuah bangsa akan hancur bila para pemimpinnya tidak amanah. Sebuah organisasi akan rusak bila para pengurusnya mengkhianati amanah. Bahkan sebuah keluarga pun bisa berantakan bila amanah tidak dijaga.

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah.” (HR. Ahmad).

Ini menunjukkan bahwa amanah bukan hanya urusan sosial, melainkan juga cerminan dari iman. Orang yang mengkhianati amanah berarti ia telah merusak integritas imannya sendiri.

Dzalim: Konsekuensi dari Mengabaikan Amanah

Mengabaikan amanah jelas termasuk kedalam kategori dzalim. Ada tiga bentuk kedzaliman yang timbul dari pengkhianatan terhadap amanah:

  1. Dzalim terhadap diri sendiri – karena ia menjerumuskan dirinya dalam dosa dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.

  2. Dzalim terhadap orang lain – karena dengan menelantarkan amanah, ia mengurangi hak orang lain yang seharusnya ia jaga.

  3. Dzalim terhadap Allah SWT – karena amanah sejatinya adalah perintah Allah, sehingga mengkhianatinya sama saja dengan meremehkan titipan-Nya.

Rasulullah SAW pun pernah ditanya tentang tanda-tanda kiamat, beliau menjawab:

“Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran.” Sahabat bertanya: “Bagaimana maksudnya amanah disia-siakan?” Rasulullah menjawab: “Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari).

Hadits ini memberikan pelajaran penting: menyalurkan amanah kepada orang yang tidak layak adalah sebuah bentuk kedzaliman sejak awal. Apalagi jika orang yang sudah diberi amanah kemudian menelantarkannya, maka kerusakan akan semakin besar.

Relevansi dalam Kehidupan Sehari-Hari

Dalam konteks kehidupan modern, amanah tidak hanya berbicara tentang jabatan publik, tetapi juga mencakup setiap aspek kehidupan:

  • Amanah dalam pekerjaan: melaksanakan tugas dengan jujur dan profesional.

  • Amanah dalam keluarga: menjaga nafkah, kehormatan, dan pendidikan anak.

  • Amanah dalam organisasi: mengelola keuangan, program, dan tanggung jawab sosial dengan benar.

  • Amanah dalam ilmu: menyampaikan pengetahuan tanpa diselewengkan.

Jika amanah diabaikan, maka muncullah berbagai penyakit sosial: korupsi, nepotisme, manipulasi, ketidakadilan, hingga kehancuran moral. Semua itu berakar dari satu hal: tidak menjaga amanah.

Penutup

Mengabaikan amanah adalah sebuah bentuk kelalaian sekaligus pengkhianatan. Dalam perspektif Islam, hal ini termasuk kategori dzalim, baik kepada diri sendiri, orang lain, maupun kepada Allah SWT. Oleh karena itu, setiap Muslim wajib menyadari bahwa amanah adalah ujian yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Ahzab: 72:

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan sangat bodoh.”

Ayat ini menegaskan bahwa amanah adalah sesuatu yang sangat berat. Barangsiapa yang menunaikannya dengan baik, maka ia akan mendapatkan pahala besar. Sebaliknya, siapa pun yang mengabaikannya, maka ia termasuk dalam golongan orang-orang yang dzalim.


------------
Penulis : Murdiyanto
Pembina Ekskul MI Watuagung
Wk. Ketua PC GP. Ansor Trenggalek

.
Share:

Minggu, September 14, 2025

Menyongsong 96 Tahun Lembaga Pendidikan Ma’arif NU: Bermutu dalam Ilmu, Bermartabat dalam Sikap


Tanggal 19 September 2025 menjadi momentum istimewa bagi Nahdlatul Ulama, khususnya bagi keluarga besar Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. Di usia yang ke-96 tahun, lembaga ini bukan sekadar simbol keberlanjutan pendidikan, tetapi juga bukti nyata dari perjuangan panjang dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menanamkan akhlak mulia sesuai nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Tema yang diusung tahun ini, “Bermutu dalam Ilmu, Bermartabat dalam Sikap”, mengandung makna yang sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. Mutu ilmu adalah fondasi bagi generasi bangsa agar mampu bersaing di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi. Namun, ilmu saja tidak cukup tanpa sikap yang bermartabat. Di sinilah peran Ma’arif NU menegaskan diri sebagai lembaga yang tidak hanya mencetak generasi cerdas secara intelektual, tetapi juga anggun dalam moral, berkarakter, dan menjunjung tinggi akhlakul karimah.

Selama hampir satu abad, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU telah menghadirkan ribuan sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi di seluruh penjuru negeri. Kehadirannya menjadi benteng peradaban yang menyatukan antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama, antara intelektualitas dan spiritualitas, antara kemandirian dan pengabdian. Model pendidikan ini menjadi jawaban nyata atas kebutuhan bangsa yang tidak hanya membutuhkan manusia pintar, tetapi juga manusia yang berjiwa luhur, berkarakter kebangsaan, dan siap mengabdi untuk kemaslahatan umat.

Tantangan ke depan tentu semakin besar. Era digital, derasnya arus budaya global, serta tantangan krisis moral di kalangan generasi muda menuntut inovasi dan keteguhan visi. Namun, dengan pengalaman panjang serta dukungan para kiai, guru, dan seluruh pemangku kepentingan, Ma’arif NU diyakini mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan identitas.

Di momentum harlah ke-96 ini, kita patut memberikan apresiasi kepada para pendidik, tenaga kependidikan, dan seluruh penggerak Ma’arif NU yang dengan penuh keikhlasan terus menebar manfaat dan mendidik generasi bangsa. Semoga dengan semangat “Bermutu dalam Ilmu, Bermartabat dalam Sikap”, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU semakin kokoh menjadi pilar pendidikan bangsa, melahirkan generasi yang cerdas, berdaya saing tinggi, berakhlak mulia, serta siap menjaga martabat agama, bangsa, dan negara.

Selamat Hari Lahir ke-96 Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama. Jayalah Ma’arif NU, jayalah pendidikan Indonesia!


Penulis : Murdiyanto (Pembina Ekstrakurikuler MI Watuagung)
Logo Harlah ke-96 LP Ma'arif NU dapat diunduh Disini
.
Share:

Rabu, September 03, 2025

Guru dan Pegawai Sekolah yang Terjebak Ego: Ancaman bagi Kemajuan Pendidikan


Sekolah adalah tempat lahirnya generasi penerus bangsa, di mana guru dan pegawai sekolah memegang peranan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, inspiratif, dan penuh semangat. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ada sebagian guru maupun pegawai sekolah yang justru terjebak pada rutinitas, tidak memiliki kreativitas, dan lebih mengedepankan ego masing-masing. Fenomena ini, meskipun terlihat sepele, sebenarnya menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan serta kemajuan sebuah lembaga pendidikan.

Guru yang minim kreativitas cenderung hanya menjalankan tugas secara formalitas. Pembelajaran menjadi kaku, monoton, dan tidak mampu membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik. Padahal, dunia pendidikan menuntut adanya inovasi dan metode pembelajaran yang menarik agar siswa merasa betah belajar serta mampu mengembangkan potensi terbaiknya. Ketika kreativitas tidak hadir dalam diri seorang guru, maka murid tidak akan mendapatkan pengalaman belajar yang berkesan.

Lebih parah lagi, ketika ego pribadi lebih dikedepankan dibandingkan kerja sama tim, maka akan muncul gesekan antar individu. Guru dan pegawai yang sibuk mempertahankan gengsi serta kepentingan masing-masing akan sulit diajak bekerja sama membangun visi sekolah. Akibatnya, suasana kerja menjadi tidak sehat, komunikasi terhambat, bahkan bisa melahirkan perpecahan internal.

Dampak dari kondisi ini sangat jelas terlihat. Pertama, mutu pendidikan menurun karena proses pembelajaran tidak berkembang sesuai kebutuhan zaman. Kedua, sekolah kehilangan daya saing dengan lembaga lain yang lebih inovatif. Ketiga, citra sekolah di mata masyarakat ikut terpengaruh karena dianggap tidak mampu mencetak lulusan yang unggul. Tidak jarang, kondisi ini berujung pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah tersebut.

Agar kondisi ini tidak semakin parah, ada beberapa langkah nyata yang bisa ditempuh:

  1. Penguatan Budaya Kerja Sama
    Sekolah perlu menanamkan budaya kolektif bahwa keberhasilan bukanlah hasil kerja individu semata, melainkan buah sinergi semua pihak. Kegiatan rutin seperti rapat koordinasi, diskusi terbuka, atau kerja kelompok antarguru bisa menjadi sarana membangun solidaritas.

  2. Pelatihan dan Pengembangan Kreativitas
    Guru dan pegawai sekolah harus difasilitasi dengan pelatihan yang berorientasi pada peningkatan kompetensi, kreativitas, dan inovasi pembelajaran. Workshop, seminar, hingga pelatihan berbasis teknologi pendidikan bisa menjadi cara untuk menumbuhkan ide-ide segar.

  3. Sistem Apresiasi dan Evaluasi Kinerja
    Kreativitas dan kerja sama tim perlu dihargai dengan sistem apresiasi yang jelas, misalnya penghargaan guru kreatif atau pegawai teladan. Sebaliknya, evaluasi kinerja juga harus berjalan tegas agar semua pihak memiliki kesadaran untuk memperbaiki diri.

  4. Kepemimpinan yang Visioner dan Tegas
    Kepala sekolah harus menjadi teladan sekaligus penggerak utama. Kepemimpinan yang visioner, tegas, dan mampu merangkul semua pihak akan menciptakan iklim sekolah yang sehat dan berorientasi pada kemajuan bersama.

  5. Peningkatan Rasa Kepedulian Sosial
    Guru dan pegawai sekolah harus disadarkan bahwa pekerjaan mereka adalah amanah besar yang menyangkut masa depan anak bangsa. Menumbuhkan empati dan kepedulian sosial akan mengikis ego pribadi serta memperkuat semangat pengabdian.

Pendidikan adalah proses mencetak generasi emas bangsa. Bila guru dan pegawai sekolah gagal menghadirkan kreativitas dan hanya mementingkan diri sendiri, maka sesungguhnya mereka telah menutup pintu bagi masa depan sekolah dan anak-anak didik yang mereka bimbing. Dengan membangun budaya kerja sama, meningkatkan kreativitas, serta menyingkirkan ego, sekolah akan menjadi rumah yang nyaman untuk belajar, berkembang, dan melahirkan generasi unggul.


Penulis : Murdiyanto (Aktivis Pendidikan / Organisasi)

Share:

Sabtu, Agustus 23, 2025

Madrasah Ibtidaiyah: Menanam Ilmu, Menumbuhkan Akhlak Mulia


Pendidikan adalah investasi terbaik untuk masa depan. Di tengah arus perkembangan zaman yang begitu cepat, Madrasah Ibtidaiyah (MI) hadir sebagai pondasi awal bagi anak-anak kita untuk tumbuh menjadi generasi yang cerdas sekaligus berakhlak mulia.

MI tidak hanya sekadar sekolah dasar yang mengajarkan baca, tulis, hitung, atau ilmu pengetahuan umum lainnya. Lebih dari itu, madrasah mengajarkan bagaimana ilmu pengetahuan berpadu dengan nilai-nilai keagamaan. Di sinilah keistimewaan MI: membekali anak-anak dengan kecerdasan intelektual sekaligus kecerdasan spiritual.

Bayangkan betapa indahnya ketika seorang anak sejak dini sudah terbiasa membaca doa sebelum belajar, disiplin melaksanakan salat, hormat kepada guru, sekaligus mampu memahami pelajaran sains, matematika, dan bahasa dengan baik. Inilah generasi yang kita cita-citakan: generasi berilmu, beriman, dan berakhlakul karimah.

Madrasah Ibtidaiyah juga menjadi tempat persemaian nilai-nilai kebangsaan. Anak-anak diajarkan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman. Dengan begitu, MI tidak hanya mencetak pribadi muslim yang taat, tetapi juga warga negara yang cinta Indonesia.

Lebih dari itu, madrasah tersebar hingga ke pelosok desa, membuka akses pendidikan bagi semua kalangan. Tidak ada sekat kaya atau miskin, desa atau kota, semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan meraih cita-cita di MI.

Karena itulah, sudah seharusnya kita semua—orang tua, masyarakat, dan pemerintah—bersinergi mendukung perkembangan Madrasah Ibtidaiyah. Dukungan nyata, baik melalui perhatian, doa, maupun kontribusi, akan menjadi energi besar bagi madrasah dalam melahirkan generasi unggul penerus bangsa.

Mari bersama-sama kita jaga, kita rawat, dan kita majukan Madrasah Ibtidaiyah. Karena dari madrasah inilah akan lahir generasi yang bukan hanya pandai, tetapi juga santun, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman.



Penulis : Murdiyanto
Wakil Sekretaris MWC NU Watulimo
Share:

Selasa, Maret 23, 2021

Menghargai Kelebihan Orang Lain


Menghargai kelebihan orang lain bukanlah sifat bawaan manusia, tetapi sifat yang butuh dilatih terus menerus hingga menjadi ahli. Tanpa dilatih serius, maka dapat muncul perkataan-perkataan yang sepintas benar tetapi sebenarnya bertujuan untuk menganggap kelebihan orang lain sebagai hal percuma, meskipun secara logika aneh sekali. Misalnya:

1 - Ketika melihat orang yang diluaskan rezekinya, lalu berkata: "Buat apa kekayaan, toh kekayaan tidak dibawa mati". Secara logika pernyataan itu bisa dibalik menjadi pernyataan yang juga benar tetapi absurd: "Buat apa hidup miskin, toh kemiskinan tidak dibawa mati". Selain itu kekayaan sangat besar potensinya untuk bekal mati bila digunakan secara tepat.

2 - Ketika melihat orang yang diberi wajah tampan/cantik, lalu berkata: "Buat apa wajah tampan/cantik, toh nanti kalau tua peyot juga". Pernyataan ini secara logika bisa dibalik: "Buat apa jelek sejak muda, apalagi nanti kalau tua?". Kalau anugerah wajah bagus tidak ada kelebihannya, maka apalagi wajah yang tidak bagus. Demikian juga dengan pernyataan: "Buat apa cantik fisik, yang penting cantik hati". Pernyataan terakhir ini tidak nyambung sebab yang cantik fisik bisa juga cantik hati dan sebaliknya yang tidak cantik fisik bisa juga tidak cantik hati.

3 - Ketika melihat orang yang diberi keluasan ilmu, lalu berkata: "Buat apa ilmu tinggi, yang penting kan amal". Secara logika, tinggi rendahnya ilmu tidak ada hubungannya dengan amal. Orang berilmu tinggi bisa beramal baik dan bisa juga tidak. Orang tidak berilmu juga bisa beramal baik dan bisa juga tidak. Yang jelas berilmu lebih utama daripada tidak berilmu. 

Begitulah gambaran yang sering terjadi pada orang yang sulit menghargai kelebihan orang lain. Semua kelebihan duniawi tersebut Allah yang memberikan, baik kelebihan harta, ilmu, nasab, keelokan tubuh, banyaknya pengikut, popularitas, jabatan dan apa pun, semuanya dari Allah dan didapat murni atas kehendak Allah. Demikian juga kelebihan ukhrowi, seperti ketakwaan, kesabaran, qana'ah dan lain sebagainya juga dari Allah. Kelebihan yang manapun wajib disyukuri dan disambut gembira ketika dimiliki oleh seorang muslim. 

Bila hati seseorang bersih, ia akan menghargai kelebihan-kelebihan itu dan mensupport orang lain yang memilikinya untuk bersyukur. Sebaliknya bila hati terkena penyakit hasud, maka ia akan meniadakan kelebihan itu dan menempatkannya selalu dalam konteks buruk seolah itu adalah kutukan dari Allah atau setidaknya hal percuma yang tidak perlu disyukuri. Mari cek hati kita masing-masing.

Dalam hadis sahih tercatat bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa orang terbaik di masa jahiliyah adalah juga orang terbaik di masa islam ketika mereka mengerti aturan agama. Dari sini kita tahu bahwa Nabi Muhammad sama sekali tidak menafikan kelebihan yang dimiliki seseorang di masa jahiliyahnya, justru beliau tetap menghargainya ketika yang bersangkutan masuk islam. Karena itu tidak perlu heran ketika Khalid bin Walid Sang jenderal jahiliyah ketika masuk islam dijadikan jenderal pasukan muslim. Andai memakai logika hasud, tentu hilang lah semua kelebihan itu dan dianggap nol ketika masuk Islam.
.
.
Sumber : FB. Abdul Wahab Ahmad
Foto : Kegiatan Maramis MI Watuagung 2017
Share:

Terjemahkan

Arsip Digital Online

Mars LP Ma'arif NU