NPSN : 60714452 | NSM : 111235030055 | IJOB NO. : MIS/03.0055/2017 | AKTE NOTARIS : NO. 4, MUNYATI SULLAM, S.H., M.H. | Pengesahan Akta Notaris : AHU-119.AH.01.08.TAHUN 2013 / 26 JUNI 2013 | Tanggal Pendirian : 01 JANUARI 1965
Tampilkan postingan dengan label Cerita Siswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Siswa. Tampilkan semua postingan

Minggu, September 21, 2025

Earlyta : Indahnya Hari Minggu yang Tenang, Saat Pagi Sejuk, Doa Terpanjat, dan Kebahagiaan Tumbuh


Hai teman-teman, perkenalkan namaku Earlyta Nahda Rafanda Dianto. Aku adalah siswi kelas V di MI Watuagung. Aku tinggal di Dusun Suwur RT 27 RW 08, Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.

Hari ini, Minggu, 21 September 2025, aku memulai hariku dengan penuh semangat. Tepat pukul 05.00 WIB aku bangun tidur, lalu segera menggosok gigi dan mandi. Setelah itu, aku berwudhu dan melaksanakan sholat Subuh. Hati terasa begitu tenang ketika selesai menunaikan kewajiban di pagi yang masih sunyi.


Sekitar pukul 05.45 WIB, aku membantu ibuku menyiram tanaman di halaman rumah. Udara pagi yang sejuk membuatku merasa bahagia. Melihat dedaunan yang basah oleh percikan air, rasanya begitu menyenangkan, seolah alam ikut tersenyum bersama kami.

Setelah menyiram tanaman, aku beristirahat sebentar sambil menunggu sarapan pagi. Tepat pukul 07.00 WIB, ibu menyiapkan sarapan sederhana berupa nasi dengan telur. Walaupun sederhana, buatan ibu selalu terasa istimewa. Selesai sarapan, aku bersantai sambil membantu ibu menjaga adikku yang masih kecil, karena ibu harus mencuci pakaian di belakang rumah.


Siang harinya, sekitar pukul 13.30 WIB, aku melipat pakaian yang sudah kering lalu memasukkannya ke dalam lemari dengan rapi. Setelah pekerjaan itu selesai, aku pun beristirahat sejenak dengan tidur siang.

Sore hari tiba, pukul 16.00 WIB aku bangun, lalu mandi dan menunaikan sholat Ashar. Setelah semua selesai, aku kembali membantu ibu dengan menyapu teras rumah. Angin sore yang berhembus terasa menyejukkan, membuat suasana menjadi lebih damai.

Begitulah aktivitas hari Mingguku. Walaupun sederhana, namun penuh makna. Dari bangun pagi hingga sore hari, aku belajar bahwa kebersamaan dengan keluarga, membantu orang tua, dan melaksanakan kewajiban ibadah adalah bagian dari kebahagiaan yang sesungguhnya.


-----------
Oleh : Earlyta Nahda Rafanda Dianto
Siswi Kelas V MI Watuagung
Keterangan : Cerita diedit seperlunya oleh Tim Redaksi
Share:

Zaskia Samha Saufa : Seuntai Kisah dari Pagi hingga Senja


Watuagung (21/09) - Halo semuanya, perkenalkan namaku Zaskia Samha Saufa. Hari ini aku ingin bercerita tentang keseharian dan kegiatan yang aku lakukan.

Pagi hari aku bangun tidur sekitar pukul 05.10 WIB. Setelah bangun, aku menyiapkan diri dan pada pukul 06.00 WIB aku mencuci muka agar terasa lebih segar. Setelah itu aku melanjutkan aktivitas dengan bermain sebentar.

Menjelang pukul 08.25 WIB, aku pulang ke rumah karena merasa lapar. Sesampainya di rumah, aku tidak langsung makan, melainkan membantu ibu lebih dahulu dengan mencuci piring dan mengisi air. Setelah itu barulah aku sarapan dengan menu telur yang sederhana namun enak.

Setelah sarapan, pada pukul 09.30 WIB aku kembali keluar untuk bermain. Namun tidak lama kemudian aku memutuskan pulang karena sepupu temanku datang. Sampai di rumah, aku mengisi waktu dengan bermain HP hingga pukul 10.49 WIB. Setelah itu, aku pun keluar lagi untuk bermain bersama teman-teman.

Ketika sedang asyik bermain, terdengar panggilan untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Aku pun segera diajak untuk sholat berjamaah di masjid, dan aku mau. Rasanya menyenangkan bisa sholat bersama teman-teman di masjid. Usai sholat, kami melanjutkan kegiatan dengan bermain voli. Permainan berlangsung seru hingga akhirnya kami beristirahat sekitar pukul 13.30 WIB. Karena merasa lapar, masing-masing dari kami memutuskan pulang ke rumah. Aku pun pulang untuk makan siang.


Menjelang sore, sekitar pukul 14.57 WIB, aku belum sempat mandi karena masih membantu ibu di rumah dengan menyapu. Hari ini aku juga tidak mengaji karena memang sedang libur. Waktu pun terus berjalan hingga adzan Maghrib berkumandang pada pukul 17.34 WIB. Aku pun segera melaksanakan sholat.

Itulah rangkaian kegiatanku hari ini. Cukup banyak yang aku lakukan, mulai dari membantu orang tua, bermain dengan teman-teman, hingga beribadah bersama. Sampai jumpa lagi di ceritaku berikutnya!


-----------
Oleh : Zaskia Samha Saufa
Siswi Kelas V MI Watuagung
Keterangan : Cerita diedit seperlunya oleh Tim Redaksi
Share:

Kisah Nabila Putri Rokhimah dalam Harmoni Hari Ahad


Namaku Nabila Putri Rokhimah, seorang siswi kelas VI di MI Watuagung. Aku tinggal di Dusun Suwur, RT 22 RW 07, Desa Watuagung, sebuah desa yang damai dengan udara segar di pagi hari dan suasana hangat kebersamaan antarwarganya.

Hari ini, Ahad, 21 September 2025, aku memulai hariku lebih awal. Tepat pukul 04.50 WIB, mataku terbuka saat fajar mulai menyingsing. Udara pagi begitu sejuk, membuatku merasa segar dan bersemangat. Setelah bangun, aku merapikan tempat tidurku dengan rapi. Bagi sebagian orang, itu mungkin hal kecil, tetapi bagiku, itu adalah langkah awal untuk memulai hari dengan baik.

Ketika jarum jam menunjuk pukul 06.00 WIB, aku menuju dapur untuk membantu ibu. Aroma masakan ibu tercium harum, berpadu dengan wangi kayu basah di halaman yang baru saja disapu. Aku membantu menyiapkan bahan-bahan sederhana, sambil sesekali bercakap ringan dengan ibu. Setelah itu, aku menyapu halaman depan rumah. Suara sapu yang menyisir tanah bercampur dengan kicauan burung membuat pagi hari terasa begitu indah.

Waktu berjalan cepat. Siang pun tiba. Tepat pukul 12.15 WIB, aku melaksanakan sholat Zuhur. Setelahnya, aku melanjutkan kegiatan lain untuk mengisi waktu, kadang membaca, kadang sekadar beristirahat sambil bercengkerama dengan keluarga.

Sore hari, pukul 15.30 WIB, adalah waktu yang paling kunanti. Bersama teman-teman, aku berlatih voli di lapangan desa. Tawa, semangat, dan kerja sama kami berpadu, seolah-olah sinar matahari sore yang keemasan ikut menyemangati langkah-langkah kaki kami. Setiap bola yang melayang tinggi dan setiap teriakan kecil dari teman-teman membuat lapangan itu penuh keceriaan.

Usai latihan, aku pulang dan kembali membantu di rumah. Tepat pukul 16.35 WIB, aku menyapu halaman dan membersihkannya dari dedaunan kering yang jatuh tertiup angin sore. Senja perlahan datang, dan aku menutup hari ini dengan hati yang ringan. Hari Ahadku terasa indah, penuh dengan ibadah, belajar tanggung jawab, kebersamaan keluarga, dan juga semangat persahabatan.


-----------
Oleh : Nabila Putri Rokhimah
Siswi Kelas VI MI Watuagung
Keterangan : Cerita diedit seperlunya oleh Tim Redaksi
Share:

Yunia dan Hari Minggunya: Antara Cinta Keluarga, Keceriaan Teman, dan Cahaya Iman


Halo teman-teman semua, perkenalkan nama saya Yunia Putri Riani, biasanya saya dipanggil Yunia. Saat ini saya duduk di bangku kelas 4 MI Watuagung. Minggu, 21 September 2025, menjadi hari yang begitu berkesan bagi saya, karena di hari itu saya dapat merasakan indahnya kebersamaan, semangat membantu orang tua, dan keceriaan bersama teman-teman.

Pagi hari saya bangun lebih awal, tepat pukul 04.30 WIB. Setelah membuka mata, saya segera berwudhu dan menunaikan shalat Subuh, memulai hari dengan doa dan rasa syukur. Seusai shalat, saya merasakan suasana pagi yang tenang dan sejuk, memberi semangat untuk menjalani aktivitas hari ini.

Sekitar pukul 06.30 WIB, saya membantu Ibu di dapur. Ibu memasak sayur sawi yang segar dan ikan goreng kesukaan keluarga. Saya ikut menyiapkan bahan-bahan masakan, mulai dari membersihkan sayuran hingga menata piring di meja makan. Setelah masakan selesai, kami sekeluarga duduk bersama menikmati sarapan dengan penuh kehangatan.

Hari itu semakin cerah ketika jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Saya pergi berkunjung ke rumah Nenek. Di sana, suasana terasa ramai dan penuh tawa. Saya bermain dengan banyak teman. Kami berlarian seru memainkan petak umpet, menendang bola di halaman, hingga bergembira bermain kartu. Waktu terasa begitu cepat, dan tiba-tiba jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB.

Saya pun berpamitan, kemudian melaksanakan shalat Dzuhur pukul 13.20 WIB, sebelum akhirnya pulang ke rumah. Setibanya di rumah, saya tidak langsung beristirahat. Saya membantu Ibu mencuci piring dan menyapu setiap ruangan di rumah agar tetap bersih dan nyaman. Setelah pekerjaan rumah selesai, saya segera mandi dan berganti pakaian, sebab waktu sudah mendekati pukul 15.30 WIB.

Setelah itu, saya melaksanakan shalat Ashar. Hati saya semakin tenang ketika saya melanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an hingga pukul 16.30 WIB. Membaca ayat-ayat suci membuat sore hari terasa penuh cahaya dan kedamaian.

Hari itu bagi saya adalah gambaran indah sebuah keseharian: dimulai dengan doa, diwarnai dengan cinta keluarga, ditambah keceriaan bersama teman-teman, dan ditutup dengan lantunan ayat suci yang menenangkan hati.


-----------
Oleh : Yunia Putri Riani
Siswi Kelas IV MI Watuagung
Keterangan : Cerita diedit seperlunya oleh Tim Redaksi


Share:

Maulana Iqbal Saputra : Sehari Bersama Doa, Tawa, dan Layang-Layang


Namaku Maulana Iqbal Saputra, teman-teman biasa memanggilku dengan nama Iqbal. Aku adalah seorang siswa kelas 6 di MI Watuagung. Aku tinggal di sebuah dusun yang asri bernama Suwur, Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Tepatnya di RT. 41 RW. 07, sebuah lingkungan yang penuh kehangatan dan kebersamaan.

Hari itu, Minggu, 21 September 2025, menjadi salah satu hari yang penuh makna bagiku. Pagi itu aku terbangun tepat pukul 05.00. Udara sejuk menyapa, membuat tubuh terasa segar dan semangat. Aku segera menuju kamar mandi, membasuh muka, menyikat gigi, lalu berwudu untuk melaksanakan salat Subuh. Dengan khusyuk aku menengadahkan tangan, berdoa agar sepanjang hari ini dipenuhi keberkahan dan kebahagiaan.

Waktu berjalan begitu cepat. Tiba-tiba jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00. Aku pun sarapan dengan penuh kenikmatan. Setelah itu, aku segera keluar rumah dan bermain bersama kawan-kawan di sekitar dusun. Suasana pagi di kampung terasa riuh dan menyenangkan, canda tawa kami berpadu dengan semilir angin yang menyejukkan. Tanpa terasa, permainan itu membuat waktu berlari cepat hingga siang menjelang.

Ketika jam menunjukkan pukul 12.00, aku bergegas pulang. Badan terasa lelah, tetapi hati penuh gembira. Sesampainya di rumah, aku menunaikan salat Zuhur sebagai kewajiban seorang muslim. Usai beribadah, aku pun merebahkan diri dan menikmati tidur siang yang menenangkan.

Sekitar pukul 14.00, aku terbangun. Rasa lapar pun datang. Aku makan siang dengan lahap, lalu bersiap menikmati permainan favoritku—menerbangkan layang-layang. Dengan penuh semangat, aku membawa layang-layang ke lapangan. Kutarik talinya perlahan, hingga akhirnya ia terbang tinggi menari-nari di langit biru. Betapa bahagianya melihat layang-layang itu melayang bebas di angkasa, seakan membawa cita-citaku turut terbang bersamanya.

Sore mulai merayap. Dengan hati-hati, aku menurunkan layang-layang dan pulang ke rumah sekitar pukul 16.00. Segera aku mandi, lalu melaksanakan salat Asar. Seusai beribadah, aku menyempatkan diri untuk membuka buku pelajaran. Meski hari libur, aku ingin tetap mempersiapkan diri, sebab bagiku belajar adalah bekal untuk masa depan.

Hari Minggu ini terasa sederhana, namun begitu berharga. Dari pagi hingga sore, aku jalani dengan penuh makna. Ada doa, ada tawa, ada permainan, ada pula belajar. Semua berpadu menjadi mozaik indah dalam perjalanan kecil seorang anak bernama Iqbal di bawah langit Suwur yang damai.


---------
Oleh : Maulana Iqbal Saputra
Siswa kelas 6 di MI Watuagung
Keterangan : Cerita diedit seperlunya oleh Tim Redaksi
Share:

Jejak Hidup di Hari Libur: Sepenggal Kisah Akmal Bersama Ibadah, Ayam, dan Wayang


Halo, perkenalkan nama saya Septio Akmal Mirsando. Usia saya 12 tahun, dan saat ini saya duduk di bangku kelas 6 MI Watuagung. Saya tinggal di RT 03 RW 01 Desa Ngembel, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang kegiatan saya di hari Minggu, 21 September 2025.

Hari itu saya memulai pagi cukup lebih awal dari biasanya. Tepat pukul 04.30 alarm dalam hati saya membangunkan, lalu saya segera berwudhu dan menunaikan sholat Subuh. Udara pagi terasa begitu sejuk, dan doa yang terucap terasa menenangkan jiwa. Setelah selesai sholat, saya memanfaatkan waktu dengan menghafal pelajaran yang ditugaskan dari sekolah. Belajar di pagi hari memang membuat pikiran terasa lebih jernih dan mudah menangkap pelajaran.

Ketika waktu sarapan tiba, saya bergabung bersama keluarga untuk makan bersama. Setelah itu, saya membantu ibu memberi makan ayam peliharaan di halaman rumah. Suara ayam yang riuh seolah menjadi penyemangat pagi saya. Usai membantu pekerjaan kecil itu, saya mandi dan berganti pakaian.


Sebagai seorang pecinta seni, saya memiliki kegemaran yang cukup unik, yaitu bermain wayang. Hampir setiap hari Minggu saya meluangkan waktu untuk memainkannya. Hari itu pun saya bermain wayang hingga pukul 12.00 siang, meresapi kisah dan gerakannya dengan penuh semangat.

Waktu Dzuhur pun tiba, saya segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat. Setelah itu tubuh saya butuh istirahat, jadi saya tidur siang hingga pukul 15.00. Saat bangun, saya menunggu waktu sholat Ashar, lalu segera melaksanakannya. Karena hari Minggu saya libur mengaji, setelah Ashar saya memanfaatkan waktu untuk membersihkan kandang kambing sekaligus memberi makan kambing peliharaan kami.


Sore menjelang, sekitar pukul 17.00, saya memilih untuk mengaji sendiri di rumah. Setelah itu, saya kembali membuka buku pelajaran sekolah untuk belajar sambil menunggu adzan Magrib berkumandang. Hari Minggu saya pun berakhir dengan rasa syukur, karena telah diisi dengan ibadah, belajar, membantu orang tua, dan juga kesenangan dalam seni wayang yang saya cintai.


----------
Oleh : Septio Akmal Mirsando
Siswa Kelas 6 MI Watuagung
Keterangan : Cerita diedit seperlunya oleh Tim Redaksi
Share:

Jejak Ahad yang Cerah: Rona Laili dan Harmoni Kecil di Dusun Suwur


Namaku Rona Laili Umatul Khoiroh, aku seorang siswi kelas 3 di MI Watuagung. Aku tinggal di sebuah desa yang tenang dan asri bernama Dusun Suwur, RT 22 RW 07, Desa Watuagung. Hari ini adalah hari Ahad, 21 September 2025, sebuah hari yang hangat dengan udara pagi yang segar.

Pagi itu, aku bangun lebih awal, lalu melaksanakan sholat Subuh sebagai awal kegiatan. Setelah itu, aku langsung bergegas mencuci sepatu sekolahku yang sudah kotor karena sering kupakai bermain. Dengan penuh semangat, aku menggosoknya hingga bersih, lalu menjemurnya di halaman agar kering terkena sinar matahari.


Selesai mencuci sepatu, aku menikmati sarapan pagi sederhana bersama keluarga. Rasanya nikmat sekali makan bersama di meja kecil rumah kami. Setelah itu, aku membantu orang tuaku membuat reyeng, yaitu tempat khusus untuk pindang ikan. Aku merasa senang bisa ikut membantu pekerjaan di rumah, karena dengan begitu aku belajar arti kebersamaan dan tanggung jawab.

Siang menjelang, aku keluar rumah untuk bermain bersama teman-temanku. Kami bermain bola di halaman rumahku. Suara tawa dan semangat kami membuat suasana desa terasa lebih hidup. Meskipun sederhana, kebersamaan itu membuat hari Ahadku penuh warna dan kebahagiaan.


Bagi diriku, hari ini bukan hanya tentang mencuci sepatu, sarapan, atau bermain. Tetapi tentang mengisi waktu dengan hal-hal kecil yang bermakna, tentang kebersamaan keluarga, persahabatan, dan kegembiraan yang membuat hidup terasa indah.


-----------
Oleh : Rona Laili Umatul Khoiroh
Siswi kelas 3 MI Watuagung
Keterangan : Cerita diedit seperlunya oleh Tim Redaksi
Share:

Gantari Bintang Sheza Khinanthi : Ketika Bintang Menyapu Embun Fajar dan Menyulam Gerak Tari


Namaku Gantari Bintang Sheza Khinanthi, teman-teman biasa memanggilku Bintang. Aku berusia sebelas tahun dan kini duduk di kelas VI MI Watuagung. Aku tinggal bersama orang tuaku di Dusun Suwur RT. 41 RW. 07 Desa Watuagung, sebuah desa yang tenang dan penuh kehangatan.

Pagi ini, tepat pukul 05.00 WIB, aku terbangun. Fajar baru saja menyingsing, udara masih lembut dan sejuk. Dengan semangat, aku segera berwudhu lalu melaksanakan shalat Subuh. Rasanya indah sekali bisa mengawali hari dengan berdoa, seakan cahaya fajar menyatu dengan doaku.

Sekitar pukul 06.00 WIB, kami sekeluarga duduk bersama menikmati sarapan pagi. Kehangatan keluarga terasa dalam setiap suapan. Kami berbincang ringan, saling bercanda, hingga suasana pagi menjadi penuh tawa dan senyum.

Setelah itu, pukul 08.00 WIB, aku mulai membantu ibu. Aku menyapu halaman rumah yang dipenuhi dedaunan jatuh, lalu membersihkan ruang dalam rumah agar tampak rapi. Meski sederhana, aku merasa bangga bisa ikut meringankan pekerjaan ibu. Setiap sapuan sapu terasa seperti langkah kecilku untuk belajar bertanggung jawab.

Waktu berjalan cepat. Hari ini aku punya kegiatan yang selalu kutunggu-tunggu: les menari. Menari bagiku bukan hanya gerakan tubuh, tapi cara mengekspresikan rasa dan imajinasi. Maka, aku bersiap-siap—mengikat rambut, merapikan pakaian, dan mempersiapkan perlengkapan latihan.

Tepat pukul 11.00 WIB, aku berangkat bersama ibu menuju tempat les menari. Sepanjang jalan, hatiku dipenuhi semangat. Aku membayangkan langkah-langkah baru, gerakan indah, dan alunan musik yang akan menemaniku menari.

Hari ini terasa istimewa. Dari fajar aku belajar kedisiplinan melalui ibadah, merasakan kehangatan keluarga di meja makan, memahami arti tanggung jawab dengan membantu ibu, hingga menyalakan semangat dalam hobi yang kucintai.

Aku percaya, setiap langkah kecilku hari ini adalah cahaya yang akan menuntunku menuju mimpi di masa depan. Ya, aku adalah Bintang, dan aku akan terus menari di balik fajar yang selalu memberi harapan baru.


------------
Oleh : Gantari Bintang Sheza Khinanthi
Siswi Kelas VI MI Watuagung
Keterangan : Cerita diedit seperlunya oleh Tim Redaksi
Share:

Jejak Hari Minggu Mokhammad Davit Orlando: Antara Ibadah, Persahabatan, dan Semangat Belajar


Namaku Mokhammad Davit Orlando, seorang siswa kelas VI di MI Watuagung. Aku tinggal di RT 29 RW 08, Dusun Suwur, Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Hari ini, tepat pada Minggu, 21 September 2025, aku menjalani hari yang penuh makna.

Pagi itu aku terbangun pukul 05.00 WIB. Setelah membasuh wajah dengan air wudhu yang sejuk, aku menunaikan sholat Subuh dengan khusyuk, memohon agar hari yang akan kulalui dipenuhi keberkahan.

Waktu terus berjalan, dan pada pukul 09.00 WIB aku menikmati sarapan pagi sederhana yang terasa begitu nikmat. Setelah itu, aku mengisi waktuku dengan bermain bersama teman-teman di sekitar rumah. Canda tawa kami membuat suasana Minggu terasa semakin hangat dan penuh kebahagiaan.

Menjelang siang, aku tidak melupakan kewajibanku sebagai seorang muslim. Tepat pukul 12.00, aku menunaikan sholat Dzuhur. Setelah itu, aku beristirahat sejenak sebelum melanjutkan kegiatan.

Sore harinya, pada pukul 15.00, aku berangkat mengaji. Suasana belajar Al-Qur’an bersama guru dan teman-teman selalu memberiku ketenangan dan semangat baru. Sepulang mengaji, aku tidak langsung bermain lagi, melainkan melanjutkan waktuku untuk belajar pelajaran sekolah. Dengan begitu, aku merasa hari Minggu ini berjalan seimbang—antara ibadah, bermain, dan menuntut ilmu.

Hari ini benar-benar memberiku pelajaran bahwa waktu akan lebih berarti jika dimanfaatkan dengan baik.


------------
Oleh : Mokhammad Davit Orlando
Siswa Kelas 6 MI Watuagung
Keterangan : Cerita diedit seperlunya oleh Tim Redaksi
Share:

Naila Muazara Shifwa : Harmoni Hari Naila dalam Irama Kehidupan


Halo, perkenalkan namaku Naila Muazara Shifwa, teman-teman biasanya memanggilku dengan sebutan “Naila”. Aku seorang siswi kelas 6 MI Watuagung yang tinggal di Dusun Suwur RT 41 RW 07, Desa Watuagung. Usia ku sekarang 12 tahun, dan setiap hari aku berusaha mengisi waktuku dengan hal-hal bermanfaat.

Hari ini, aku memulai pagi lebih awal. Tepat pukul 04.00 WIB, aku terbangun dari tidur. Udara pagi masih sejuk dan menenangkan. Aku segera mengambil air wudhu dan menunaikan sholat Subuh, sebuah rutinitas yang selalu memberiku kekuatan untuk menjalani hari.


Waktu terus berjalan, hingga pukul 08.00 WIB aku bersiap mengikuti les menyanyi. Bersama ibu, aku berangkat dengan penuh semangat. Suara dan irama adalah bagian dari duniaku, dan aku senang sekali bisa belajar mengolah suara agar semakin indah didengar.


Siang harinya, tepat pukul 12.00 WIB, aku melanjutkan kegiatan di sanggar. Di sana aku banyak mendapat pengalaman baru dan belajar banyak hal yang membuatku semakin percaya diri. Setelah itu, sore mulai menyapa. Pukul 15.00 WIB, aku kembali ke rumah dan membantu ibu membersihkan rumah. Meski terasa lelah, hati terasa senang karena bisa meringankan pekerjaan ibu.


Tak berhenti di situ, pada pukul 17.00 WIB aku melanjutkan kegiatan dengan mencuci motor. Air yang memercik dan rasa puas melihat motor menjadi bersih membuat soreku terasa lengkap.

Begitulah keseharianku, penuh dengan kegiatan yang beragam. Setiap langkah yang kulalui serasa seperti alunan nada yang membentuk harmoni. Dari ibadah, belajar, membantu orang tua, hingga menjaga kerapihan, semua menjadi bagian penting dari perjalanan hidupku.


---------
Oleh : Naila Muazara Shifwa
Siswi Kelas VI MI Watuagung
Keterangan : Cerita diedit seperlunya oleh Tim Redaksi
Share:

Jejak Minggu Penuh Cahaya: Cerita Hanun dalam Harmoni Hari yang Tenang


Hai teman-teman, perkenalkan namaku Hilma Hanuna Khairrun Nisa’, aku duduk di bangku kelas V MI Watuagung. Aku tinggal di Dusun Suwur RT. 27 RW. 08, Desa Watuagung. Hari ini aku ingin berbagi cerita tentang aktivitasku di hari Minggu yang penuh makna.

Pagi itu, tepat pukul 05.05, aku bangun dari tidurku. Dengan mata yang masih terasa berat, aku segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat Subuh. Setelah itu, aku merapikan tempat tidurku agar terlihat rapi dan nyaman. Sebelum melanjutkan aktivitas, aku sempat menonton televisi sebentar untuk mengisi waktu pagi.


Tak lama kemudian, aku membantu ibu membersihkan rumah dan halaman. Rasanya menyenangkan bisa melihat rumah menjadi lebih bersih dan indah. Setelah selesai, aku segera mandi agar tubuh terasa segar. Usai mandi, aku kembali ke dapur untuk membantu ibu memasak. Dari kegiatan itu aku belajar bahwa memasak bukan hanya soal membuat makanan, tapi juga tentang kebersamaan dan kasih sayang dalam keluarga.


Menjelang pukul 10.00, aku mengikuti les Bahasa Inggris dan Matematika. Walau agak lelah, aku tetap bersemangat karena belajar membuatku semakin paham dan percaya diri. Setelah les usai, aku beristirahat sejenak untuk mengembalikan energi.

Siang harinya, setelah sholat Dzuhur, aku bermain bersama teman-teman. Suasana ceria dan tawa riang membuat hari Mingguku terasa lebih indah. Kami berbagi kebahagiaan dengan sederhana, namun sangat berkesan.


Menjelang sore, sekitar pukul 15.30, aku kembali mandi agar badan segar. Kemudian aku membantu ibu lagi, kali ini melipat baju. Meski terlihat sederhana, aku merasa senang bisa meringankan pekerjaan ibu.

Itulah cerita hari Mingguku, teman-teman. Hari yang penuh kegiatan, kebersamaan, dan juga pelajaran berharga. Semoga kalian juga punya cerita indah di hari Minggu kalian. Sampai jumpa, selamat berhari Minggu! 👋🏻


----------
Oleh : Hilma Hanuna Khairrun Nisa’
Siswi Kelas V MI Watuagung
Keterangan : Cerita diedit seperlunya oleh Tim Redaksi
Share:

Jejak Hari Minggu Azriel: Dari Doa Subuh, Aroma Dapur, hingga Senja yang Menutup Cerita


Hai teman-teman semuanya, perkenalkan namaku Muhammad Azriel Fadhil Ramadhan. Aku berusia 9 tahun dan sekarang duduk di bangku kelas 3 MI Watuagung. Aku tinggal di Desa Ngembel, RT 07 RW 02, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.

Hari ini adalah Minggu, 21 September 2025, sebuah hari libur sekolah yang selalu kutunggu-tunggu. Aku terbangun sekitar pukul 05.00 WIB. Udara pagi terasa sejuk dan menenangkan. Setelah membuka mata dan meregangkan tubuh, aku segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat Subuh. Rasanya damai sekali bisa memulai hari dengan doa dan sujud kepada Allah.

Selesai sholat, sekitar pukul 05.30 WIB, aku merapikan kamar tidurku. Setelah itu, aku duduk di depan televisi sejenak sambil menunggu pagi semakin terang, sementara mama sibuk di dapur menyiapkan sarapan untukku. Aroma masakan mama begitu menggugah selera. Tepat pukul 06.30 WIB, aku pun sarapan dengan penuh semangat.


Sekitar pukul 07.00 WIB, aku mandi pagi, lalu setengah jam kemudian membantu mama menyapu halaman rumah dan jalan sekitar rumahku. Aku senang bisa ikut menjaga kebersihan rumah kami. Setelah itu, pukul 08.00 WIB, aku mengisi waktu luang dengan berkebun. Aku menanam dan menyiram tanaman hias milik mama. Melihat tanaman tumbuh segar membuatku merasa bahagia.


Tak terasa waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB. Aku mengambil sepeda kesayanganku dan berkeliling di sekitar rumah hingga menjelang pukul 11.00 WIB. Angin sepoi-sepoi menemani kayuhan sepedaku. Setelah puas bermain, pukul 11.30 WIB, aku mengisi waktu dengan menggambar. Hobi ini membuatku merasa bebas berimajinasi, menuangkan warna dan bentuk ke atas kertas.


Tepat pukul 12.00 WIB, aku menunaikan sholat Dzuhur, lalu beristirahat sejenak dengan tidur siang pada pukul 12.30 WIB. Ketika terbangun pukul 14.00 WIB, aku langsung memberi makan kucing kesayanganku. Senang rasanya melihatnya lahap menyantap makanan.


Pukul 15.00 WIB, aku bersiap-siap untuk berangkat ke masjid. Pukul 16.00 WIB, aku sudah duduk bersama teman-teman mengaji hingga menjelang pukul 17.00 WIB. Setelah pulang, aku kembali membantu mama, kali ini dengan menyetrika baju seragam sekolahku. Selesai pada pukul 18.00 WIB, aku merasa lega dan siap menyambut hari Senin esok.

Itulah sepotong kisah hari Mingguku, dari Subuh hingga senja. Hari yang penuh dengan doa, kegiatan, dan kebersamaan bersama keluarga.


------------
Oleh : Muhammad Azriel Fadhil Ramadhan
Siswa Kelas III MI Watuagung
Keterangan : Cerita diedit seperlunya oleh Tim Redaksi 
Share:

Arcello Dinata Putra : Dari Embun Subuh hingga Mentari Senja


Hai teman-teman, perkenalkan namaku Arcello Dinata Putra, aku duduk di bangku kelas IV MI Watuagung dan tinggal di Dusun Ngembel RT 01 RW 01 Desa Ngembel. Hari ini aku ingin bercerita tentang bagaimana aku menjalani hari Mingguku yang penuh dengan aktivitas bermanfaat.

Pagi itu, tepat pukul 05.00 WIB, aku bangun dari tidurku. Udara pagi terasa sejuk dan menyegarkan. Setelah mencuci muka sebentar, aku segera menunaikan sholat shubuh. Biasanya setelah itu, ibuku langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga. Sementara ibu memasak, tugasku adalah menjaga adikku. Aku menemaninya bermain agar ibu bisa lebih leluasa menyiapkan makanan tanpa terganggu. Walaupun adikku kadang rewel, aku tetap sabar menemaninya karena aku tahu itu adalah bentuk bantuanku untuk ibu.

Waktu terasa cepat berlalu, jarum jam menunjukkan pukul 09.00 WIB. Aku segera mandi agar tubuh terasa segar. Setelah selesai, ibu memanggilku untuk sarapan bersama. Hari ini ibu memasak sayur sop hangat dan ayam goreng renyah. Hmm, rasanya sungguh lezat dan membuat perutku kenyang. Aku sangat bersyukur memiliki ibu yang pandai memasak.

Sehabis sarapan, aku biasanya menonton televisi atau bermain bersama adikku. Kadang kami bermain mobil-mobilan atau menyusun balok. Kegiatan itu berlangsung hingga menjelang siang. Tepat pukul 12.30 WIB, ibu selalu mengingatkanku untuk melaksanakan sholat dzuhur. Aku pun segera berhenti bermain, berwudhu, lalu sholat dengan khusyuk.

Selesai sholat, aku tidak berlama-lama beristirahat. Aku bersiap mengikuti les privat yang dimulai pukul 14.00 WIB. Di les, aku belajar berbagai mata pelajaran, mulai dari Matematika, Bahasa Indonesia, hingga Ilmu Pengetahuan Alam. Guruku di les sangat sabar dalam menjelaskan, sehingga aku merasa semakin semangat untuk belajar. Selain menambah pengetahuan, les privat juga membantuku dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah yang terkadang sulit. Aku merasa sangat terbantu.

Sekitar pukul 15.00 WIB, pelajaran les selesai. Ibu mengingatkanku lagi untuk mandi dan mempersiapkan diri berangkat mengaji. Aku pun segera bersih-bersih agar lebih segar. Mengaji dimulai pukul 16.00 WIB di tempat ustadzku. Di sana aku melaksanakan sholat ashar berjamaah, lalu belajar menulis huruf Arab, membaca Al-Qur’an, dan menghafal doa-doa harian. Kegiatan mengaji membuatku lebih paham tentang agama, sekaligus melatihku menjadi anak yang lebih baik dan taat kepada Allah.

Sekitar pukul 17.00 WIB, aku pulang ke rumah. Badanku sedikit lelah, tetapi hatiku senang karena sepanjang hari ini aku telah menjalani banyak kegiatan yang bermanfaat. Mulai dari membantu ibu, belajar, hingga beribadah. Itulah ceritaku di hari Minggu, teman-teman. Semoga ceritaku bisa menginspirasi kalian untuk mengisi hari libur dengan hal-hal yang berguna.


----------
Oleh : Arcello Dinata Putra
Siswa Kelas IV MI Watuagung
Keterangan : Diedit seperlunya oleh Tim Redaksi
Share:

Mentari Pagi Diego: Awal Hari yang Penuh Semangat


Hallo, perkenalkan namaku Diego Aprilio. Aku berusia 12 tahun dan saat ini duduk di kelas 6 MI Watuagung. Aku tinggal di Dusun Suwur, RT 042 RW 007 Desa Watuagung bersama keluargaku.

Seperti biasa, hari-hariku dimulai sejak pagi. Tepat pukul 05.30 WIB aku terbangun dari tidur. Setelah membuka mata, aku selalu berusaha untuk merapikan tempat tidur terlebih dahulu, supaya kamarku tetap rapi dan nyaman. Kemudian aku menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu, aku melaksanakan shalat Subuh dengan khusyuk.

Selesai shalat, aku biasanya meluangkan sedikit waktu untuk menonton televisi sambil menunggu ibu menyiapkan sarapan. Setelah acara favoritku selesai, aku segera ke meja makan untuk menikmati hidangan sederhana yang dimasak ibu dengan penuh kasih sayang.


Sekitar pukul 10.00 WIB pagi, aku membantu ibu menyapu halaman rumah. Rasanya menyenangkan bisa meringankan pekerjaan ibu meski hanya sedikit. Setelah itu, aku berganti aktivitas dengan bermain bola voli bersama teman-teman di lapangan dekat rumah. Kami tertawa, berlari, dan bersemangat mengikuti permainan hingga badan terasa lelah.

Siang hari, aku pulang untuk makan siang bersama keluarga. Setelah perut kenyang, aku menunaikan shalat Dzuhur kemudian beristirahat dengan tidur siang sejenak. Istirahat membuat tubuhku kembali segar sehingga sore harinya aku bisa bermain lagi bersama teman-teman.

Menjelang malam, aku mandi agar terasa bersih dan segar, lalu kembali menikmati acara kartun favoritku di televisi. Kartun itu selalu membuatku senang dan terhibur setelah seharian beraktivitas. Begitulah keseharianku yang sederhana namun penuh makna.


---------
Oleh : Diego Aprilio
Siswa Kelas 6 MI Watuagung
Keterangan : Diedit seperlunya oleh Tim Redaksi
Share:

Sehari Bersama Zidane : Hari Ahadku, Penuh Cerita dan Makna


Haloo teman-teman, perkenalkan namaku Zidane Fernando Azhar. Aku siswa kelas 3 MI Watuagung, tinggal di Dusun Suwur RT. 26 RW. 08 Desa Watuagung.

Hari ini (Ahad, 21 September 2025) terasa begitu menyenangkan bagiku. Seperti biasa, aku memulai hari dengan bangun pukul 05.00 pagi. Setelah mencuci muka, aku segera berwudhu dan melaksanakan salat Subuh. Rasanya lega sekali bisa membuka hari dengan ibadah.

Karena hari libur, suasana terasa lebih santai. Aku baru mandi sekitar pukul 07.00 WIB, lalu menikmati sarapan lezat buatan ibuku. Perut kenyang membuat semangatku bertambah untuk menjalani aktivitas berikutnya.


Sekitar pukul 08.30 WIB, aku membantu ibuku membersihkan rumah. Aku menyapu lantai dan merapikan ruang tamu. Walau sederhana, kegiatan ini membuat rumah terasa lebih bersih dan nyaman.

Tepat pukul 10.00 WIB, aku duduk di meja belajar. Aku membuka buku dan mengulang pelajaran sekolah. Suasana rumah yang tenang membuatku lebih mudah memahami materi.


Menjelang siang, pukul 12.00 WIB, aku berhenti untuk makan siang. Setelah itu, rasa kantuk pun datang. Aku tidur sebentar, lalu bangun sekitar pukul 13.30 WIB dan segera melaksanakan salat Zuhur.

Siang hingga sore menjadi waktu yang paling aku tunggu. Aku bermain bersama teman-teman di sekitar rumah. Berlari, tertawa, dan bercanda bersama mereka membuat hatiku senang.

Menjelang sore, tepat pukul 16.00 WIB, aku bersiap pergi ke TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Di sana aku belajar mengaji bersama teman-teman, menambah ilmu sekaligus membuat hariku lebih bermakna.


Itulah rangkaian aktivitasku di hari Ahad. Walau sederhana, setiap momen terasa istimewa. Dari bangun pagi, membantu orang tua, belajar, bermain, hingga mengaji, semuanya membuatku bersyukur atas nikmat Allah SWT. Semoga esok hari aku bisa tetap semangat dan terus berbuat baik.


-----------
Oleh : Zidane Fernando Azhar
Siswa Kelas 3 MI Watuagung
Keterangan : Diedit seperlunya oleh Tim Redaksi
Share:

Terjemahkan

Arsip Digital Online

Mars LP Ma'arif NU