NPSN : 60714452 | NSM : 111235030055 | IJOB NO. : MIS/03.0055/2017 | AKTE NOTARIS : NO. 4, MUNYATI SULLAM, S.H., M.H. | Pengesahan Akta Notaris : AHU-119.AH.01.08.TAHUN 2013 / 26 JUNI 2013 | Tanggal Pendirian : 01 JANUARI 1965
Tampilkan postingan dengan label Murdiyanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Murdiyanto. Tampilkan semua postingan

Minggu, November 09, 2025

Bahaya Ghibah: Dosa yang Terasa Ringan, Namun Berat di Sisi Allah


Dalam kehidupan sehari-hari, ghibah atau menggunjing sering kali dianggap hal sepele. Kadang muncul dalam obrolan ringan, kadang dibungkus dalam bentuk candaan atau bahkan dalih “sekadar cerita”. Padahal, di balik ringan lidah mengucapkannya, tersimpan dosa besar yang menggerogoti hati, menghapus pahala, dan merusak ukhuwah sesama muslim.

Makna Ghibah Menurut Islam

Secara bahasa, ghibah berarti membicarakan seseorang di belakangnya. Rasulullah ﷺ menjelaskan makna ini dengan sangat jelas:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْغِيبَةُ؟ قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ.
قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ.

Artinya:

“Ghibah adalah engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci.”
Sahabat bertanya: “Bagaimana jika apa yang aku katakan benar ada pada dirinya?”

Beliau menjawab: “Jika benar ada padanya, maka engkau telah menggunjingnya. Jika tidak ada, maka engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)

Ghibah dalam Pandangan Al-Qur’an

Allah ﷻ menggambarkan betapa menjijikkan perbuatan ghibah dengan perumpamaan yang mengguncang hati:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini mengajarkan bahwa menggunjing seseorang sama menjijikkannya seperti memakan daging saudaranya yang sudah meninggal — sebuah gambaran yang mengguncang nurani siapa pun yang masih memiliki hati yang hidup.

Dampak Buruk Ghibah

  1. Menghapus pahala amal kebaikan.
    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”
    Para sahabat menjawab: “Orang yang tidak punya uang dan harta.”
    Beliau bersabda:
    “Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan membawa shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia telah mencaci orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Maka kebaikannya diberikan kepada mereka, dan bila habis kebaikannya sebelum membayar semua kesalahannya, dosa-dosa mereka diberikan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka.”
    (HR. Muslim)

  2. Menumbuhkan kebencian dan perpecahan.

    Ghibah mematikan ukhuwah, menumbuhkan prasangka, dan menimbulkan permusuhan di tengah umat.

  3. Merusak hati pelakunya.

    Hati yang terbiasa menjelekkan orang lain akan kehilangan rasa kasih sayang dan empati. Lidah menjadi tajam, namun hati menjadi beku.

Menjaga Lisan, Menyelamatkan Iman

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Diam lebih mulia daripada berbicara yang melukai. Menahan diri dari ghibah bukan berarti lemah, melainkan tanda kematangan iman dan keteguhan hati.

Ubah Ghibah Menjadi Doa

Daripada membicarakan kekurangan orang lain, lebih baik kita mendoakan agar Allah memperbaikinya. Sebab, siapa tahu orang yang kita bicarakan justru lebih dekat dengan surga dibanding kita yang suka menggunjing.

Ghibah adalah dosa yang ringan di lidah, namun berat di timbangan amal. Mari kita jaga lisan, sucikan hati, dan isi waktu dengan kebaikan. Karena setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.

Share:

Minggu, Oktober 12, 2025

Semangat Tak Mengenal Libur, Pramuka MI Watuagung Tetap Berkobar di Hari Ahad!


Meski Ahad, 12 Oktober 2025 merupakan hari libur sekolah, MI Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek tetap ramai dengan suara tawa dan semangat juang dari para tunas muda Pramuka. Sebanyak 12 siswa MI Watuagung datang dengan sukarela untuk mengikuti kegiatan pembinaan kepramukaan yang dipandu langsung oleh Pembina Pramuka, Kak Myanto (Murdiyanto).

Kedua belas siswa tersebut adalah Hanun, Erlyta, Gezzi, Nia, Zaskia, Nabila, Rachel, Inara, Akmal, Zidane, Arcello, dan Azriel. Dengan penuh semangat mereka berkumpul di madrasah sejak pagi, mengenakan seragam kaos (PDL / Kostum), berstangan leher, membawa buku catatan, dan wajah yang memancarkan tekad untuk terus belajar serta berlatih.

Dalam kegiatan pembinaan kali ini, para peserta mendapat materi tentang kedisiplinan, kerja sama tim, serta keterampilan dasar kepramukaan. Melalui berbagai kegiatan lapangan dan simulasi, mereka diajak untuk memahami bahwa semangat Pramuka sejati tidak pernah padam meskipun hari libur tiba.


Dalam sambutannya, Kak Myanto menyampaikan pesan yang penuh makna dan motivasi:

“Pramuka sejati tidak menunggu waktu dan perintah. Semangat belajar dan berlatih tumbuh dari kesadaran diri sendiri. Hari ini kalian luar biasa! Di saat teman-teman lain beristirahat, kalian memilih untuk berproses, melatih kedisiplinan dan tanggung jawab. Inilah jiwa Pramuka yang sejati — pantang menyerah, siap mengabdi, dan selalu bersemangat di setiap waktu.”

Kegiatan berjalan dengan penuh keceriaan dan kekompakan. Sambil menyanyikan yel-yel penyemangat, hingga belajar sandi dan tali-temali, suasana hari libur itu terasa begitu bermakna. Para siswa tidak hanya berlatih keterampilan fisik, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai tanggung jawab, keuletan, dan solidaritas antar sesama.


Menutup kegiatan, seluruh peserta bersama Pembina menyanyikan lagu “Yel-yel Armiwag Scout dan Sakoma Beraksi” dengan penuh penghayatan. Wajah mereka memancarkan kebanggaan, bahwa menjadi Pramuka bukan hanya tentang seragam dan barisan, tetapi tentang pengabdian, keteladanan, dan semangat untuk terus berkembang.

Kegiatan pembinaan ini menjadi bukti nyata bahwa di MI Watuagung, pendidikan karakter melalui gerakan Pramuka tidak hanya hidup di hari-hari sekolah, tetapi juga menyala di setiap hati yang mencintai ilmu, kedisiplinan, dan kebersamaan.

🌿 Salam Pramuka! Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan!

Share:

Sabtu, Oktober 11, 2025

Bentuk Karakter Disiplin dan Tangguh, MI Watuagung Gelar Pembinaan Kepramukaan Sehari Penuh Bersama Kak Myanto


MI Watuagung News ~ Dalam upaya membentuk karakter peserta didik yang disiplin, tangguh, dan berjiwa kebersamaan, MI Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek menggelar kegiatan “Pembinaan Karakter Siswa melalui Pendidikan Kepramukaan” pada Sabtu, 11 Oktober 2025. Kegiatan ini diampu langsung oleh Bapak Murdiyanto atau yang akrab disapa Kak Myanto, selaku pembina Pramuka dan program ekstra pada MI Watuagung.

Kegiatan kepramukaan kali ini diikuti oleh seluruh siswa kelas VI dan beberapa perwakilan dari kelas V, IV, dan III, yang dengan semangat mengikuti kegiatan selama satu hari penuh. Adapun kegiatan dibagi menjadi dua sesi, yakni sesi pagi dan sesi siang, dengan rangkaian materi yang dirancang untuk menumbuhkan nilai-nilai karakter, kemandirian, kerja sama, serta kecintaan terhadap madrasah dan tanah air.

Pada sesi pertama (pukul 08.00–11.00 WIB), Kak Myanto membuka kegiatan dengan semangat yel-yel Pramuka dan perkenalan materi dasar kepramukaan. Materi meliputi pengetahuan umum tentang kepramukaan, motivasi semangat belajar dan disiplin, serta yel-yel madrasah dan lagu-lagu pramuka yang membangkitkan rasa kebersamaan. Tidak hanya itu, kegiatan juga diselingi dengan berbagai permainan edukatif yang mengasah kekompakan dan kreativitas siswa.


Dalam penyampaian materinya, Kak Myanto menegaskan,

“Pramuka bukan sekadar baris-berbaris atau bermain tali. Pramuka adalah wadah untuk membentuk pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan siap menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan lingkungannya.”

Sesi pagi ditutup dengan materi pionering dasar, di mana siswa belajar membuat simpul-simpul dan ikatan dengan tongkat serta tali rami, membentuk dragbar dan tiang bendera.

Setelah istirahat siang (pulang), para siswa kembali dengan semangat baru untuk mengikuti sesi kedua (pukul 13.00–15.30 WIB). Pada sesi ini, kegiatan difokuskan pada lanjutan pionering dan senam semaphore. Melalui kegiatan ini, siswa belajar tentang kode isyarat bendera sebagai media komunikasi pramuka, sekaligus melatih ketelitian dan koordinasi tubuh.

Suasana kegiatan berlangsung hidup dan penuh keceriaan, terlihat dari antusiasme para siswa yang berpartisipasi aktif, saling membantu, dan berani tampil di depan teman-temannya.


Kepala MI Watuagung menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Kak Myanto atas dedikasi dan perannya dalam membina karakter siswa melalui kegiatan kepramukaan.

“Kami bangga karena kegiatan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan pramuka, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, dan cinta tanah air yang akan menjadi bekal penting bagi anak-anak di masa depan,” ujarnya.

Kegiatan Pembinaan Karakter Siswa melalui Pendidikan Kepramukaan ini diakhiri dengan refleksi, evaluasi dan menyanyikan yel-yel “Armiwag Scout” dengan penuh semangat dan suasana khidmat. Diharapkan kegiatan semacam ini dapat terus dilaksanakan secara rutin untuk memperkuat karakter siswa MI Watuagung yang cerdas, berakhlakul karimah, dan berjiwa Pramuka sejati. (My)

Share:

Selasa, Oktober 07, 2025

Pembinaan Karakter dan Mentalitas Siswa MI Watuagung: Menumbuhkan Semangat Belajar dan Jiwa Kebangsaan


Watuagung — Selasa (07/10/2025) Madrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung kembali melaksanakan kegiatan positif dalam rangka penguatan karakter dan mentalitas peserta didik. Bertempat di ruang kelas utama, kegiatan Pembinaan Karakter dan Mentalitas Siswa MI Watuagung berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 15.30 WIB dengan penuh semangat dan antusiasme.

Kegiatan ini dilaksanakan setelah Program Madrasah Diniyah (Madin) dan diikuti oleh 21 siswa, yang terdiri dari seluruh siswa kelas 6, serta perwakilan dari kelas 5, kelas 4, dan kelas 3. Adapun pembinaan kali ini dibimbing langsung oleh Bapak Murdiyanto, selaku Pembina Ekstrakurikuler dan Program Unggulan MI Watuagung, yang dikenal aktif dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, serta motivasi belajar bagi para siswa.


Dalam pembinaannya, Bapak Murdiyanto menyampaikan beberapa materi penting yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan. Ia menekankan pentingnya
motivasi belajar, semangat kebersamaan, serta nilai perjuangan dan nasionalisme.
Belajar itu bukan hanya untuk nilai, tetapi untuk masa depan dan kemanfaatan. Kalau kita belajar dengan semangat, kita akan menjadi orang yang berguna bagi agama, bangsa, dan orang tua,tutur beliau di hadapan para siswa.

Untuk menumbuhkan semangat dan mencairkan suasana, kegiatan juga diselingi dengan ice breaking berupa menyanyi bersama lagu-lagu perjuangan dan lagu semangat santri. Suasana riuh penuh tawa dan keceriaan tampak di wajah para siswa yang terlibat aktif dalam setiap sesi kegiatan.

Selain memberikan motivasi belajar, pembinaan juga diisi dengan materi seputar perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya terkait Resolusi Jihad yang digelorakan oleh para ulama Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945. Dalam kesempatan itu, Bapak Murdiyanto menjelaskan makna penting Hari Santri Nasional, yang menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para santri dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa.
Resolusi Jihad itu bukan hanya sejarah, tapi juga teladan. Dari para santri kita belajar arti pengorbanan, cinta tanah air, dan keberanian membela kebenaran, ujarnya penuh semangat.


Melalui kegiatan pembinaan ini, para siswa tidak hanya mendapatkan motivasi belajar, tetapi juga penguatan karakter religius, nasionalis, dan mandiri. Kepala MI Watuagung menyampaikan apresiasinya atas terlaksananya kegiatan tersebut dan berharap pembinaan semacam ini dapat dilakukan secara rutin agar mampu membentuk siswa yang cerdas, berakhlak mulia, serta memiliki mental tangguh dalam menghadapi tantangan masa depan.

Kegiatan ditutup dengan seputar materi kepramukaan dan pesan penutup dari pembina agar seluruh siswa terus menjaga semangat belajar, disiplin, dan saling menghormati sesama teman.
Dengan penuh semangat, seluruh peserta mengakhiri kegiatan dengan yel-yel kebersamaan khas MI Watuagung yang menggema di seluruh ruangan. (My)

Share:

Minggu, Oktober 05, 2025

Semangat Tanpa Batas, Siswa MI Watuagung Tetap Laksanakan Latihan Pramuka di Hari Libur


Watuagung, Watulimo — Semangat belajar dan berlatih para siswa MI Watuagung patut mendapat apresiasi tinggi. Meski hari Ahad, 05 Oktober 2025 merupakan hari libur, sebanyak 10 siswa MI Watuagung tetap datang ke madrasah dengan semangat tinggi untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Kepramukaan.

Kegiatan yang dilaksanakan di ruang kelas dan halaman MI Watuagung ini berjalan penuh antusias dan keceriaan. Para siswa tampak bersemangat mengikuti berbagai latihan teknik kepramukaan dasar seperti yel-yel, tali-temali, dan permainan edukatif yang menumbuhkan kerja sama serta disiplin.

Menariknya, kegiatan ini berlangsung atas inisiatif para siswa sendiri, yang sebelumnya mengajukan permintaan khusus kepada pembina agar tetap diadakan latihan meskipun bertepatan dengan hari libur.

Pembina Ekstrakurikuler Kepramukaan MI Watuagung, Bapak Murdiyanto (Kak Myanto), awalnya tidak berencana melaksanakan latihan karena pada hari yang sama beliau dijadwalkan mengikuti Apel Kebangsaan dalam rangka peringatan HUT ke-80 Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Lapangan Monas, Jakarta. Kak Myanto hadir sebagai Ketua Badan Siber Ansor Trenggalek, yang mendapatkan undangan resmi sekaligus tugas dari Ketua PC GP Ansor Trenggalek untuk mengikuti kegiatan nasional tersebut.


Namun, semangat luar biasa dari para siswa membuat Kak Myanto mempertimbangkan kembali jadwalnya. Beliau akhirnya memilih tetap mendampingi adik-adik Pramuka MI Watuagung dalam latihan kepramukaan di madrasah.

Dalam sambutannya kepada para peserta latihan, Kak Myanto menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas semangat yang ditunjukkan oleh para siswa.

“Saya sangat bangga melihat semangat adik-adik semua. Meskipun hari ini adalah hari libur, tapi kalian tetap ingin berlatih, ingin belajar, dan menunjukkan rasa cinta kepada kegiatan Pramuka. Inilah semangat sejati seorang Pramuka — pantang menyerah, selalu bersemangat, dan berjiwa pengabdian,” ujar Kak Myanto dengan penuh haru.

Beliau juga menambahkan bahwa semangat para siswa MI Watuagung menjadi cerminan karakter disiplin dan tanggung jawab yang terus ditanamkan melalui kegiatan kepramukaan.

“Latihan hari ini menjadi bukti bahwa semangat belajar tidak mengenal waktu dan tempat. Saya merasa terhormat bisa membersamai kalian semua, meskipun sebenarnya saya ada tugas di luar daerah. Tetapi melihat wajah antusias kalian, saya yakin pilihan saya hari ini adalah yang terbaik,” tambahnya.


Kegiatan latihan berjalan dengan lancar dan diakhiri dengan sesi refleksi serta yel-yel semangat Pramuka MI Watuagung. Para siswa pulang dengan wajah gembira dan semangat baru untuk terus mengembangkan diri dalam kegiatan kepramukaan.

Melalui kegiatan ini, MI Watuagung kembali menegaskan komitmennya dalam membentuk karakter peserta didik yang disiplin, berjiwa kepemimpinan, dan memiliki semangat kebersamaan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang inspiratif dan penuh nilai pendidikan. (My)

Share:

Sabtu, Oktober 04, 2025

Ekstrakurikuler Pramuka MI Watuagung Latih Keterampilan Pionering, Kedisiplinan, dan Kebersamaan Siswa


Watuagung, 4 Oktober 2024Madrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, kembali menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Kepramukaan pada Sabtu (04/10/2024). Kegiatan ini dipandu langsung oleh pembina Pramuka MI Watuagung, Bapak Murdiyanto (Kak Myanto), yang dengan penuh semangat membimbing para siswa dalam latihan.

Materi kegiatan kali ini difokuskan pada pionering, peraturan baris-berbaris (PBB), dan game atau permainan edukatif. Seluruh siswa tampak antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan, yang dikemas dengan menarik dan penuh makna.

Kegiatan diawali dengan latihan pionering, yaitu keterampilan mendirikan dan merangkai konstruksi sederhana menggunakan tongkat pramuka dan tali. Melalui materi ini, siswa dilatih untuk bekerja sama, melatih kreativitas, ketelitian, dan daya juang. Pionering juga menumbuhkan semangat gotong royong serta menanamkan rasa percaya diri dalam menciptakan karya secara berkelompok.


Setelah itu, peserta didik diarahkan untuk berlatih peraturan baris-berbaris (PBB). Latihan ini bertujuan membentuk sikap disiplin, tanggung jawab, ketegasan, serta ketertiban gerak. Dengan pembinaan langsung dari Kak Myanto, siswa dididik untuk memiliki postur tubuh yang tegap, kompak, serta mampu melaksanakan perintah dengan cepat dan tepat.

Untuk menutup kegiatan, siswa diajak mengikuti game atau permainan Pramuka. Permainan ini tidak sekadar memberikan keceriaan, tetapi juga mengandung nilai-nilai edukatif seperti kekompakan, keberanian, ketangkasan, serta sportivitas. Melalui permainan, suasana belajar menjadi menyenangkan sehingga siswa mampu belajar sambil bermain tanpa kehilangan makna kedisiplinan.


Dalam keterangannya, Kak Myanto menyampaikan bahwa kegiatan Pramuka bukan hanya sekadar rutinitas ekstrakurikuler, tetapi sarana untuk membentuk karakter unggul, jiwa kepemimpinan, serta kemampuan bekerja sama.

“Pramuka adalah wadah untuk menempa anak-anak kita menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, cerdas, dan mampu bersosialisasi dengan baik. Lewat pionering, PBB, dan permainan, mereka belajar banyak hal yang kelak bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Kak Myanto.


Melalui ekstrakurikuler ini, siswa MI Watuagung diharapkan dapat memiliki keterampilan hidup (life skill) sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan dan tanah air. Semangat belajar yang tercermin dari wajah ceria para siswa menjadi bukti nyata bahwa kegiatan Pramuka mampu menghadirkan pendidikan karakter yang menyenangkan sekaligus mendidik. (My)

Share:

Jumat, Oktober 03, 2025

Ekstrakurikuler Pramuka MI Watuagung Asah Kedisiplinan dan Kreativitas Siswa


Watuagung, 3 Oktober 2025Kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Kepramukaan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek kembali digelar dengan penuh semangat pada Jum’at (03/10/2025). Kegiatan ini dibina langsung oleh Bapak Murdiyanto, yang akrab disapa Kak Myanto, selaku pembina Pramuka madrasah.

Dalam kegiatan kali ini, siswa-siswi MI Watuagung mendapatkan berbagai materi menarik dan edukatif. Materi yang diberikan meliputi hafalan yel-yel dan lagu-lagu Pramuka, hafalan ayat-ayat Al-Qur’an, senam semaphore, serta latihan peraturan baris-berbaris (PBB). Selain itu, terdapat pula penerapan makan komando ala Pramuka yang dikolaborasikan dengan program makan gratis bagi seluruh peserta.


Kegiatan diawali dengan hafalan yel-yel dan lagu Pramuka yang bertujuan menumbuhkan semangat kebersamaan, keceriaan, serta melatih percaya diri siswa dalam berekspresi. Selanjutnya, siswa diajak memperdalam nilai spiritual dengan hafalan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai bekal penguatan karakter religius.

Materi senam semaphore disajikan untuk melatih ketangkasan, kekompakan, serta keterampilan komunikasi isyarat pramuka. Tak kalah penting, latihan peraturan baris-berbaris diberikan guna membentuk kedisiplinan, kerapian, dan sikap tanggung jawab para siswa.

Bagian menarik dari kegiatan ini adalah praktik makan komando ala Pramuka, di mana seluruh peserta makan bersama dengan tata cara dan perintah yang sama, menumbuhkan rasa kebersamaan, kemandirian, serta kedisiplinan. Kegiatan ini juga bersamaan dengan program makan gratis dari madrasah sehingga menambah kegembiraan peserta didik.


Menurut Kak Myanto, kegiatan ekstrakurikuler Pramuka di MI Watuagung bukan hanya sekadar mengajarkan baris-berbaris atau yel-yel, melainkan juga mendidik siswa untuk menjadi pribadi yang disiplin, berakhlak mulia, berani, kreatif, serta mampu bekerja sama dalam tim.

“Pramuka itu bukan hanya soal baris-berbaris, tapi juga bagaimana membentuk karakter siswa yang tangguh, percaya diri, religius, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” ujar Kak Myanto.

Manfaat mengikuti kegiatan Pramuka sangat besar bagi perkembangan siswa. Selain menumbuhkan jiwa kemandirian, keberanian, dan tanggung jawab, Pramuka juga melatih kepemimpinan, kepedulian sosial, hingga kecintaan pada tanah air. Bagi siswa MI, kegiatan ini menjadi media belajar yang menyenangkan karena memadukan nilai pendidikan, keterampilan hidup, dan kebersamaan dalam suasana penuh keceriaan.


Dengan terlaksananya kegiatan rutin ini, MI Watuagung berharap ke depan Pramuka mampu menjadi wadah penguatan karakter siswa sekaligus benteng moral generasi muda di era modern. (My)

Share:

Rabu, Oktober 01, 2025

Hari Kesaktian Pancasila: Refleksi dan Spirit Kebangsaan untuk Generasi Masa Kini


Hari Kesaktian Pancasila, yang diperingati setiap 1 Oktober, bukan sekadar momen untuk mengingat sejarah kelam G30S/PKI, tetapi juga kesempatan bagi seluruh warga bangsa untuk merenungkan makna dan relevansi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila, sebagai dasar negara dan ideologi bangsa, lahir dari proses panjang perjuangan para pendiri bangsa untuk menyatukan keragaman budaya, suku, agama, dan adat istiadat di Indonesia.

Makna dari Hari Kesaktian Pancasila terletak pada pengakuan akan kekuatan nilai-nilai Pancasila sebagai perekat persatuan dan panduan moral bangsa. Kesaktian Pancasila bukan semata kekuatan simbolik, tetapi juga kekuatan nyata dalam menjaga stabilitas sosial, mendorong toleransi, dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keadilan dan kemanusiaan. Peringatan ini mengingatkan kita bahwa ancaman terhadap persatuan dan integritas bangsa dapat muncul kapan saja, dan hanya dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila kita mampu menjaga keharmonisan kehidupan berbangsa.

Spirit Hari Kesaktian Pancasila mengajak generasi muda untuk tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku nyata: menghormati perbedaan, menjaga persatuan, menegakkan keadilan, serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa. Di era globalisasi ini, ketika arus informasi dan budaya asing begitu deras, kesadaran akan jati diri bangsa menjadi semakin penting. Pancasila hadir sebagai landasan moral dan ideologis yang menuntun kita untuk tetap konsisten dalam membangun bangsa yang adil, makmur, dan beradab.

Dengan memahami makna dan spirit Hari Kesaktian Pancasila, kita diingatkan bahwa menjaga persatuan bangsa bukan tugas sekelompok orang, tetapi tanggung jawab seluruh warga negara. Hari ini menjadi momentum refleksi bagi setiap generasi, untuk memastikan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya menjadi slogan, tetapi hidup dan tercermin dalam setiap tindakan nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


----------
Penulis : Murdiyanto
Pembina Ekskul & Pemerhati Pendidikan MI Watuagung
Share:

MI Watuagung Gelar Musyawarah Bersama Wali Murid dan Sosialisasi Program Unggulan Serta Festival Santri Ma’arif NU Trenggalek Ke-5


Watuagung, 01 Oktober 2025 - Madrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung mengadakan Musyawarah bersama perwakilan wali murid di Mushola Hidayatul Musthofa Dusun Suwur, Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Acara ini menjadi momen penting bagi madrasah untuk menyampaikan program-program unggulan serta mempererat komunikasi dan sinergi antara pihak madrasah dan orang tua murid.

Musyawarah dibuka dan dipimpin langsung oleh Kepala MI Watuagung, Bapak Mustarom. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya keterlibatan aktif wali murid dalam mendukung pendidikan anak-anak. 

“Musyawarah ini tidak hanya sebagai forum informasi, tetapi juga sebagai wahana untuk mendengarkan aspirasi orang tua. Setiap program yang kami rancang, baik akademik maupun non-akademik, selalu mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik anak didik. Evaluasi rutin akan kami lakukan setiap beberapa bulan agar setiap langkah yang diambil memberikan hasil yang optimal,” ujar Bapak Mustarom.


Acara dilanjutkan dengan sosialisasi program madrasah yang disampaikan oleh Bapak Murdiyanto, selaku Pembina Ekstrakurikuler sekaligus pemerhati pendidikan pada Madrasah Ibtidaiyah Watuagung. Beliau memaparkan sejumlah kegiatan kreatif dan edukatif, terutama yang terkait dengan peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2025.

“MI Watuagung berpartisipasi aktif dalam Semarak Festival Santri Ma’arif NU Trenggalek Ke-5. Kegiatan ini mencakup Olimpiade Aswaja dan Ke-NU-an, Musyabaqoh Syarhil Qur’an (MSQ), Pawai Ta’aruf Nusantara, lomba kaligrafi, Festival Tahfidzil Qur’an bil Qalam, serta Lomba Jelajah Sejarah Situs Santri Trenggalek (LJS3T). Tujuan utama kegiatan ini adalah menumbuhkan kecintaan siswa terhadap tradisi keislaman, meningkatkan kreativitas, serta memperluas wawasan kebangsaan,” jelas Bapak Murdiyanto.

Wali murid yang hadir terlihat antusias dan memberikan tanggapan positif. Salah seorang wali murid menyampaikan, “Kami merasa senang dan bangga karena anak-anak mendapatkan pendidikan yang tidak hanya akademik, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai agama dan budaya. Program-program seperti festival santri sangat bermanfaat untuk membentuk karakter dan kecintaan mereka terhadap sejarah serta tradisi lokal.”


Selain itu, diskusi dalam musyawarah juga membahas strategi pelaksanaan program madrasah yang lebih efektif, sarana prasarana yang dibutuhkan, serta rencana evaluasi berkala agar setiap kegiatan dapat terukur keberhasilannya. Bapak Mustarom menambahkan, “Keterlibatan orang tua sangat penting, karena pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga rumah dan masyarakat. Dengan sinergi ini, kita berharap generasi MI Watuagung bisa menjadi cerdas, berakhlak mulia, dan unggul dalam prestasi.”

Musyawarah ini menjadi bukti nyata komitmen MI Watuagung dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas dan holistik, dengan menggabungkan prestasi akademik, penguatan karakter, serta kegiatan kreatif yang relevan dengan budaya dan tradisi santri. Dengan program-program unggulan serta partisipasi aktif dalam Semarak Festival Santri Ma’arif NU, madrasah berharap dapat melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan global namun tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. (My)

Share:

Selasa, September 30, 2025

Pembinaan Karakter dan Motivasi Belajar Siswa MI Watuagung oleh Pembina Ekstrakurikuler


Watuagung, 30 September 2025 — Madrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, kembali menunjukkan komitmennya dalam menanamkan nilai karakter dan semangat belajar kepada para peserta didik. Pada hari Selasa, 30 September 2025, MI Watuagung menggelar kegiatan pembinaan karakter siswa yang dipandu langsung oleh Bapak Murdiyanto, Pembina Ekstrakurikuler Pendidikan Kepramukaan.

Kegiatan yang diikuti oleh 20 siswa-siswi MI Watuagung ini berlangsung meriah dan penuh makna. Diawali dengan penyampaian materi motivasi belajar, Bapak Murdiyanto mengingatkan pentingnya kesungguhan dan disiplin dalam menuntut ilmu. “Belajar bukan hanya untuk meraih nilai tinggi, tetapi juga untuk membentuk akhlak, kemandirian, dan jiwa kepemimpinan yang kuat,” ujarnya di hadapan para siswa.


Untuk membangkitkan semangat kebangsaan, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu nasional dan kebangsaan. Suasana semakin hidup ketika para siswa bersama-sama meneriakkan yel-yel khas MI Watuagung yang membakar semangat kebersamaan. Ice breaking interaktif juga dilakukan untuk mencairkan suasana, sehingga siswa lebih antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Setelah sesi motivasi dan penguatan karakter, kegiatan beralih ke halaman sekolah dengan praktik langsung keterampilan kepramukaan. Para siswa dilatih baris-berbaris menggunakan tongkat, mengenal berbagai formasi barisan, serta berlatih pionering melalui keterampilan tali-temali. Aktivitas ini bukan hanya melatih kedisiplinan dan kekompakan, tetapi juga menumbuhkan kreativitas dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan.

Salah satu siswa mengungkapkan kesan positifnya, “Saya senang sekali bisa belajar tali-temali dan baris-berbaris. Rasanya seperti jadi lebih berani dan percaya diri,” ujarnya penuh semangat.


Kegiatan ditutup dengan apresiasi terhadap partisipasi seluruh siswa serta refleksi bersama. Dalam refleksi tersebut, Bapak Murdiyanto kembali menekankan bahwa setiap kegiatan di MI Watuagung bukan hanya sekadar latihan fisik, melainkan juga upaya menanamkan karakter cinta tanah air, kebersamaan, dan semangat pantang menyerah.

Program pembinaan karakter ini sejalan dengan berbagai program kreatif MI Watuagung yang selama ini konsisten mengembangkan potensi siswa, baik di bidang akademik, seni, maupun keterampilan ekstrakurikuler. Kepala MI Watuagung mengapresiasi inisiatif tersebut dan menegaskan bahwa pembinaan seperti ini akan terus dilakukan secara berkelanjutan.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan siswa-siswi MI Watuagung semakin bersemangat dalam belajar, berkarakter kuat, serta siap menjadi generasi muda yang cerdas, berakhlakul karimah, dan berdaya saing tinggi di masa depan. (My)

Share:

Minggu, September 28, 2025

Keberhasilan Pendidikan Lahir dari Tekad, Keistiqomahan, dan Kebersamaan


Seringkali keberhasilan suatu lembaga pendidikan ataupun prestasi seorang siswa diidentikkan dengan kecerdasan atau kepintaran yang dimiliki. Padahal, kenyataannya, kecerdasan hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor yang menentukan keberhasilan. Sejarah panjang dunia pendidikan menunjukkan bahwa ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar kepintaran, yakni tekad, keistiqomahan, dan kebersamaan.

Seorang pimpinan lembaga pendidikan yang cerdas memang memiliki nilai tambah, tetapi kecerdasan itu tidak akan bermakna apabila tidak diiringi dengan tekad yang kuat dalam mewujudkan visi bersama. Begitu pula seorang siswa yang pintar, tidak otomatis akan sukses jika tidak memiliki daya juang, keuletan, dan ketekunan dalam belajar. Justru mereka yang istiqomah, konsisten dalam berusaha, serta tidak mudah menyerah, lebih berpeluang meraih keberhasilan sejati.

Keistiqomahan menjadi kunci utama dalam menjaga ritme perjalanan pendidikan. Ia ibarat bahan bakar yang terus menyalakan semangat, meskipun jalan yang ditempuh penuh rintangan. Sementara itu, kebersamaan adalah ruh yang menguatkan. Lembaga pendidikan yang kokoh lahir dari kerja kolektif: kepala sekolah yang bijak, guru yang ikhlas, siswa yang semangat, serta orang tua yang mendukung. Kebersamaan ini menciptakan suasana kondusif di mana setiap individu merasa memiliki peran dan tanggung jawab dalam meraih prestasi.


Prestasi pendidikan tidak pernah tercipta hanya oleh satu orang yang cerdas, melainkan hasil kolaborasi dari seluruh unsur yang saling menguatkan. Kekompakan antara guru dan siswa, sinergi antara sekolah dan masyarakat, serta komitmen bersama dalam menjaga nilai-nilai luhur pendidikan, inilah yang sejatinya membuahkan keberhasilan.

Oleh karena itu, penting untuk menanamkan kesadaran bahwa pendidikan bukanlah arena untuk mengagungkan kecerdasan semata. Pendidikan adalah perjalanan panjang yang membutuhkan tekad yang bulat, istiqomah dalam langkah, dan kebersamaan yang kuat. Dengan itulah lembaga pendidikan akan tumbuh berkembang, dan siswa akan menemukan jati dirinya sebagai insan berprestasi yang bermanfaat bagi kehidupan.


-----------
Penulis : Murdiyanto
Pemerhati Pendidikan / Pembina Eskul MI Watuagung
Share:

Sabtu, September 27, 2025

Pembinaan Intensif Ekstrakurikuler Pramuka MI Watuagung: Pemantaban Materi dan Kedisiplinan


Watuagung, Watulimo – Ekstrakurikuler Kepramukaan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, menggelar kegiatan pembinaan intensif untuk empat regu penggalang pada Sabtu, 27 September 2025. Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga sore ini dipandu langsung oleh Pembina Gugusdepan 10.007-10.008 Pangkalan MI Watuagung, Kak Myanto, dengan pendampingan pada sesi siang oleh Kak Dyah dan Kak Tutut.

Sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, para peserta didik tampak antusias mengikuti materi dasar kepramukaan yang ditekankan pada pemantapan hafalan Dasa Darma Pramuka, pengenalan dan penghayatan lagu-lagu pramuka, penguatan yel-yel regu, serta penanaman nilai kedisiplinan. Untuk menjaga suasana tetap hidup, Kak Myanto juga menyelipkan berbagai permainan (game) kepramukaan yang mendidik namun tetap menyenangkan.


“Dasa Darma adalah janji moral seorang pramuka, sehingga setiap penggalang wajib tidak hanya menghafalkan tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Kak Myanto di sela pembinaan. Lagu-lagu dan yel-yel pramuka pun dikumandangkan dengan penuh semangat oleh setiap regu, menambah kekompakan dan kebersamaan di antara para penggalang.

Kegiatan tidak berhenti sampai di situ. Setelah sesi pagi usai, sebagian siswa kembali melanjutkan pembinaan mulai pukul 13.00 hingga 15.30 WIB. Pada sesi sore, materi diarahkan kepada pembekalan keterampilan lapangan. Kak Myanto bersama Kak Dyah dan Kak Tutut memberikan pelatihan Peraturan Baris Berbaris (PBB), permainan tangkap tongkat untuk melatih konsentrasi dan kecepatan, pengenalan selintas semaphore sebagai keterampilan sandi, serta praktik pionering dengan pembuatan dragbar atau tandu pramuka.


Para siswa terlihat bersemangat mengikuti setiap tahapan kegiatan, terutama saat praktik pionering yang membutuhkan kerja sama, kreativitas, dan ketelitian. “Melalui latihan pionering, anak-anak belajar pentingnya kerja tim, keterampilan teknis, sekaligus rasa tanggung jawab dalam sebuah regu,” ujar Kak Dyah menambahkan.

Dengan terselenggaranya pembinaan satu hari penuh ini, diharapkan para penggalang MI Watuagung semakin mantap dalam pengetahuan, keterampilan, serta sikap kedisiplinan yang menjadi ciri khas seorang pramuka sejati. Kegiatan semacam ini juga menjadi bentuk nyata pembinaan karakter sejak dini yang sejalan dengan tujuan pendidikan kepramukaan di madrasah. (My)

Share:

Jumat, September 26, 2025

Pembinaan Ekstrakurikuler Kepramukaan di MI Watuagung: Asah Kreativitas, Disiplin, dan Semangat Kebersamaan


Watuagung, Watulimo – Kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Kepramukaan di MI Watuagung kembali digelar dengan penuh semangat pada Jumat, 26 September 2025. Bertempat di halaman madrasah, kegiatan yang berlangsung sejak pukul 13.00 hingga 16.00 WIB ini dipandu langsung oleh pembina pramuka, Bapak Murdiyanto—yang akrab disapa Kak Myanto dalam lingkungan kepramukaan—bersama Ibu Dyah Nuryatin atau yang biasa dipanggil Kak Dyah.

Adapun materi yang menjadi pokok pembinaan kali ini mencakup tiga keterampilan dasar kepramukaan, yaitu sandi Morse, lagu-lagu pramuka, serta tali-temali atau pionering. Para siswa tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan, terlebih karena metode pembinaan yang disampaikan penuh dengan praktik langsung dan nuansa kebersamaan.


Dalam sambutannya, Kak Myanto menekankan pentingnya keterampilan pramuka sebagai bekal karakter kedisiplinan dan kreativitas. “Pramuka bukan hanya soal baris-berbaris atau seragam yang dikenakan, tetapi juga latihan nyata untuk melatih kecerdikan, kebersamaan, dan rasa tanggung jawab. Melalui sandi Morse misalnya, anak-anak belajar tentang komunikasi yang penuh kode, sementara dalam pionering mereka belajar kerjasama dan ketelitian,” ujarnya.

Sementara itu, Kak Dyah menambahkan bahwa nyanyian pramuka memiliki peran penting untuk menumbuhkan semangat dan kebanggaan sebagai anggota pramuka. “Dengan lagu-lagu pramuka, kita bisa membangun suasana gembira sekaligus menanamkan nilai kebersamaan. Lagu menjadi sarana paling sederhana, tetapi sangat kuat dalam menumbuhkan rasa cinta pada pramuka dan tanah air,” tutur Kak Dyah di sela-sela kegiatan.

Suasana pembinaan berlangsung interaktif, siswa tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan. Mereka diajak berlatih mengenal sandi Morse melalui permainan sederhana, menyanyikan yel-yel pramuka bersama-sama, serta mengikat tali dalam berbagai bentuk simpul yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan perkemahan.


Kepala MI Watuagung menyampaikan apresiasi atas dedikasi para pembina. Menurutnya, kegiatan pramuka seperti ini menjadi salah satu sarana efektif untuk mengembangkan potensi siswa, baik dalam aspek intelektual maupun sikap sosial.

Dengan selesainya kegiatan pada sore hari itu, diharapkan para siswa semakin bersemangat untuk terus mengasah keterampilan pramuka. Pramuka di MI Watuagung tidak sekadar kegiatan tambahan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembentukan generasi muda yang tangguh, berdisiplin, dan penuh rasa kebersamaan. (My-DN)

Share:

Rabu, September 24, 2025

Pengembangan Diri dan Pembinaan Ekstrakurikuler: MI Watuagung Tanamkan Nilai Islami dan Semangat Kepramukaan


Watuagung, 24 September 2025 MI Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk generasi islami, berkarakter, dan berprestasi melalui kegiatan Asah Pengembangan Diri dan Pembinaan Program Ekstrakurikuler. Acara ini dibimbing langsung oleh pembina sekaligus guru MI Watuagung, Bapak Murdiyanto, dengan rangkaian kegiatan yang sarat akan nilai religius, kedisiplinan, dan semangat kebersamaan.

Kegiatan diawali dengan pembiasaan membaca doa “Kalamun Qodim...” yang dibacakan bersama sebelum dan setelah proses pembelajaran. Tradisi ini menjadi penguat karakter religius siswa, khususnya dalam mendukung program madrasah lainnya yakni Tahfidzul Qur’an Juz 30 dan Juz 1.

Setelah itu, para siswa diperkenalkan dengan berbagai materi ekstrakurikuler. Bapak Murdiyanto menekankan pentingnya keterlibatan siswa dalam kegiatan Kepramukaan, karena pramuka menjadi wadah yang melatih kemandirian, tanggung jawab, kepemimpinan, dan cinta tanah air.

“Kepramukaan bukan hanya sekadar baris-berbaris atau yel-yel semata. Lebih dari itu, pramuka adalah tempat belajar menjadi pribadi yang jujur, amanah, adil, dan penuh kepedulian terhadap sesama. Di MI Watuagung, kami juga mengenalkan Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif NU (SAKOMA) dengan sembilan pilar yang selaras dengan nilai keislaman dan kebangsaan,” jelas Murdiyanto saat memberikan arahan.

Adapun 9 Pilar SAKOMA NU yang disampaikan antara lain:

  1. As Shidqu (jujur),

  2. Al Amanah wal Wafa bil ‘Ahdi (amanah dan menepati janji),

  3. Al ‘Adalah (adil),

  4. At Ta’awun (tolong-menolong),

  5. Al Istiqomah (istiqomah),

  6. Tawassuth dan I’tidal (moderat dan seimbang),

  7. Tasamuh (toleran),

  8. Tawazun (harmonis),

  9. Amar Ma’ruf Nahi Munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran).


Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berbagai aktivitas khas pramuka, mulai dari latihan yel-yel penuh semangat, pengenalan kode morse, hingga praktik senam semaphore. Suasana kegiatan berlangsung meriah namun tetap edukatif, dengan siswa tampak antusias mengikuti setiap sesi.

Kepala MI Watuagung, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi besar atas inisiatif pembinaan ini.
“Kami berharap melalui kegiatan pengembangan diri dan ekstrakurikuler ini, siswa MI Watuagung tidak hanya cerdas dalam ilmu, tetapi juga tangguh dalam akhlak, disiplin dalam kehidupan, dan mampu membawa nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah ke dalam lingkungan masyarakat,” ujarnya.

Dengan adanya program pembinaan yang terintegrasi antara keagamaan dan ekstrakurikuler ini, MI Watuagung berupaya menyiapkan peserta didik yang siap menghadapi tantangan zaman, tanpa kehilangan jati diri sebagai muslim yang berakhlakul karimah. (MY)

Share:

Senin, September 22, 2025

Dukungan Orang Tua sebagai Pondasi Keberhasilan Anak dalam Belajar di Sekolah

Foto : Kampus MI Watuagung - 22/09/2025

Keberhasilan seorang anak dalam menempuh pendidikan tidak pernah lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari kualitas pembelajaran di sekolah, semangat belajar yang tumbuh dalam diri anak, hingga peran keluarga, khususnya orang tua. Dalam konteks ini, dukungan orang tua menjadi salah satu syarat utama keberhasilan anak di sekolah. Tanpa keterlibatan aktif dari orang tua, sehebat apa pun metode pembelajaran yang diberikan guru di kelas, sering kali tidak berjalan maksimal.

Orang tua adalah guru pertama bagi seorang anak. Sejak kecil, anak belajar berbicara, bersikap, hingga membentuk karakter melalui bimbingan orang tuanya. Maka, ketika anak mulai memasuki dunia sekolah formal, peran orang tua tidak serta merta berhenti. Justru, dukungan orang tua menjadi kunci yang memastikan anak mampu menghadapi berbagai tantangan belajar. Dukungan ini bukan hanya dalam bentuk materi, seperti menyediakan seragam, buku, atau fasilitas belajar, melainkan juga berupa perhatian, motivasi, dan keterlibatan emosional.

Banyak penelitian pendidikan menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan perhatian dan dukungan dari orang tuanya cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi. Misalnya, orang tua yang rutin menanyakan pelajaran apa yang dipelajari hari itu, memberikan semangat saat anak merasa kesulitan, atau memberi penghargaan sederhana atas pencapaiannya, akan menumbuhkan rasa percaya diri anak. Ia merasa dihargai, dicintai, dan dipahami. Rasa inilah yang kemudian menumbuhkan dorongan internal untuk terus berusaha dan meraih prestasi yang lebih baik.

Selain itu, keterlibatan orang tua juga terlihat dalam menjalin komunikasi dengan guru. Sekolah dan rumah seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan bersinergi dalam mendukung tumbuh kembang anak. Ketika orang tua rajin menghadiri pertemuan wali murid, memahami perkembangan belajar anak, serta mau berdiskusi dengan guru tentang kendala yang dihadapi, maka jalan menuju keberhasilan anak semakin terbuka. Sinergi ini menciptakan suasana pendidikan yang lebih sehat, di mana anak tidak merasa tertekan, tetapi justru merasa didukung dari dua arah: rumah dan sekolah.

Namun, realitas di lapangan masih menunjukkan adanya orang tua yang kurang memberikan dukungan optimal. Ada yang terlalu sibuk bekerja sehingga abai terhadap pendidikan anak, ada pula yang beranggapan bahwa keberhasilan anak sepenuhnya tanggung jawab sekolah. Sikap seperti ini tentu tidak tepat, sebab pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Sekolah berperan sebagai lembaga formal yang memberikan ilmu, sementara orang tua bertugas menciptakan iklim belajar yang kondusif di rumah. Tanpa kehadiran kedua unsur ini, keberhasilan anak akan sulit tercapai.

Dengan demikian, dukungan orang tua bukan hanya menjadi faktor tambahan, tetapi justru syarat penting yang menentukan keberhasilan anak dalam belajar di sekolah. Anak yang didampingi, diberi perhatian, dan dimotivasi oleh orang tuanya akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih bersemangat, mandiri, dan percaya diri. Oleh karena itu, mari para orang tua menyadari betapa besar peran mereka dalam membangun masa depan anak. Pendidikan yang baik bukan hanya soal sekolah yang berkualitas, melainkan juga tentang orang tua yang hadir dengan cinta, perhatian, dan dukungan yang tulus.


--------
Penulis : Murdiyanto
Pemerhati Pendidikan - Ketua BSA Trenggalek
Share:

Terjemahkan

Arsip Digital Online

Mars LP Ma'arif NU