NPSN : 60714452 | NSM : 111235030055 | IJOB NO. : MIS/03.0055/2017 | AKTE NOTARIS : NO. 4, MUNYATI SULLAM, S.H., M.H. | Pengesahan Akta Notaris : AHU-119.AH.01.08.TAHUN 2013 / 26 JUNI 2013 | Tanggal Pendirian : 01 JANUARI 1965
Tampilkan postingan dengan label Dyah Nuryatin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dyah Nuryatin. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Oktober 11, 2025

Belajar Menulis dan Berkreasi: Siswa Kelas 1 MI Watuagung Asah Literasi Melalui Kegiatan Menulis Suku Kata "ku" dan Membuat Kartu Nama Binatang


Watuagung, 11 Oktober 2025 — Pembelajaran kreatif dan menyenangkan kembali tampak di ruang kelas 1 (satu) MI Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Pada Sabtu (11/10/2025), Ibu Dyah Nuryatin, S.Pd., selaku guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia, mengajak para siswa belajar menulis suku kata “ku” sekaligus berkreasi membuat kartu nama binatang.

Kegiatan ini menjadi bagian dari penerapan pendekatan Deep Learning (Kurikulum Berbasis Cinta) dengan model pembelajaran Discovery Learning – Kolaboratif, yang menekankan pada penemuan makna melalui aktivitas reflektif dan interaktif.

Dalam pembelajaran tersebut, Ibu Dyah mengawali kegiatan dengan mengajak siswa mengamati berbagai gambar binatang yang telah disiapkan. Setelah itu, guru mengarahkan siswa untuk menemukan dan menuliskan kata-kata yang mengandung suku kata “ku”, seperti kuku, kucing, kukuruyuk, dan kupu-kupu.
Sambil menulis, siswa juga diajak berdiskusi tentang arti kata dan ciri-ciri binatang yang disebutkan.

“Hari ini kita belajar menulis suku kata ‘ku’. Siapa yang tahu binatang apa yang namanya ada ‘ku’-nya? Yuk, kita cari bersama!” ujar Ibu Dyah penuh semangat di tengah suasana belajar yang ceria.


Setelah sesi menulis dan menemukan kata, siswa diarahkan untuk membuat kartu nama binatang. Setiap siswa menggambar binatang pilihannya, menuliskan namanya dengan benar, serta menghias kartu tersebut dengan warna-warna cerah. Hasil karya anak-anak kemudian dipajang di papan literasi kelas, sehingga menumbuhkan rasa bangga dan kepercayaan diri pada diri mereka.

Kegiatan menulis suku kata dan membuat kartu nama binatang ini tidak hanya mengasah kemampuan literasi dasar, tetapi juga melatih siswa untuk bekerja sama, berani berpendapat, dan menghargai hasil karya teman. Pembelajaran kolaboratif ini menjadi bentuk nyata dari implementasi Discovery Learning, di mana siswa menemukan sendiri pengetahuan melalui pengalaman dan eksplorasi yang menyenangkan.

Menurut Ibu Dyah, kegiatan seperti ini sangat efektif untuk siswa kelas rendah.

“Anak-anak belajar dengan lebih bermakna ketika mereka menemukan sendiri jawabannya. Dengan cara seperti ini, mereka tidak hanya menulis, tetapi juga berpikir, berimajinasi, dan berani mengekspresikan diri,” jelasnya.


Kepala MI Watuagung turut mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai wujud inovasi guru dalam menerapkan pembelajaran berbasis Deep Learning. Pendekatan ini terbukti mampu membangun karakter cinta belajar dan rasa ingin tahu siswa sejak dini.

Melalui kegiatan pembelajaran kreatif seperti ini, MI Watuagung terus berkomitmen menghadirkan pengalaman belajar yang cerdas, berakhlak, dan menyenangkan, sesuai dengan visi madrasah: “Terbentuknya generasi yang cerdas, berakhlakul karimah, unggul dalam prestasi, dan berwawasan global.”


---------
🖋️ Penulis: Tim Redaksi MI Watuagung
📸 Dokumentasi: Guru Kelas 1 MI Watuagung
📅 Tanggal: Sabtu, 11 Oktober 2025

Share:

Sabtu, Oktober 04, 2025

Asyiknya Belajar Matematika, Siswa Kelas 1 MI Watuagung Antusias Memahami Materi Pengurangan


Watuagung, Watulimo – Sabtu, 04 Oktober 2025
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di MI Watuagung kembali berlangsung penuh semangat. Pada Sabtu (04/10/2025), pembelajaran Matematika di kelas 1 (satu) yang diampu oleh Ibu Dyah Nuryatin, S.Pd. menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan dengan tema “Asyiknya Belajar Matematika”.

Materi yang diajarkan kali ini adalah pengurangan bilangan sederhana, salah satu kompetensi dasar yang penting untuk dipahami oleh peserta didik kelas awal. Dalam pembelajaran tersebut, Ibu Dyah menjelaskan konsep pengurangan dengan pendekatan konkret melalui benda-benda nyata dan permainan sederhana.

Beliau mengutip contoh soal untuk mempermudah pemahaman siswa:

  • “Jika Ani mempunyai 5 permen, lalu dimakan 2, berapakah sisa permen Ani?”

  • “7 - 3 = ….”

Dengan metode tanya jawab interaktif, siswa dilatih untuk menghitung menggunakan jari tangan, alat peraga, hingga menggambar. Hal ini membantu mereka memahami bahwa pengurangan berarti “mengambil sebagian dari keseluruhan”.


Suasana kelas tampak hidup ketika para siswa diminta maju ke depan untuk mencoba mengerjakan soal di papan tulis. Beberapa siswa bahkan mampu menjawab dengan cepat dan penuh percaya diri. “Saya senang belajar Matematika karena ada hitung-hitungan seperti main tebak-tebakan,” ungkap salah satu siswa dengan wajah gembira.

Ibu Dyah Nuryatin menegaskan bahwa pada usia dini, anak-anak perlu dikenalkan Matematika dengan cara yang menyenangkan agar tidak merasa takut pada pelajaran hitung. “Anak-anak harus dibiasakan melihat Matematika sebagai sesuatu yang mudah dan menyenangkan. Dengan begitu, mereka bisa lebih cepat memahami dasar berhitung, termasuk konsep pengurangan,” ujarnya.

Melalui pembelajaran ini, siswa kelas 1 MI Watuagung tidak hanya belajar angka, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir logis, ketelitian, dan keberanian untuk mencoba. Suasana kelas yang ceria mencerminkan keberhasilan pembelajaran yang berpusat pada siswa, sehingga anak-anak belajar sambil bermain dan tetap mendapatkan pemahaman yang mendalam.

Dengan semangat belajar yang tinggi, diharapkan siswa kelas 1 MI Watuagung semakin mencintai Matematika sejak dini, serta memiliki pondasi yang kuat untuk melanjutkan ke materi-materi berikutnya. (My)

Share:

Sabtu, September 27, 2025

Pembinaan Intensif Ekstrakurikuler Pramuka MI Watuagung: Pemantaban Materi dan Kedisiplinan


Watuagung, Watulimo – Ekstrakurikuler Kepramukaan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, menggelar kegiatan pembinaan intensif untuk empat regu penggalang pada Sabtu, 27 September 2025. Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga sore ini dipandu langsung oleh Pembina Gugusdepan 10.007-10.008 Pangkalan MI Watuagung, Kak Myanto, dengan pendampingan pada sesi siang oleh Kak Dyah dan Kak Tutut.

Sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, para peserta didik tampak antusias mengikuti materi dasar kepramukaan yang ditekankan pada pemantapan hafalan Dasa Darma Pramuka, pengenalan dan penghayatan lagu-lagu pramuka, penguatan yel-yel regu, serta penanaman nilai kedisiplinan. Untuk menjaga suasana tetap hidup, Kak Myanto juga menyelipkan berbagai permainan (game) kepramukaan yang mendidik namun tetap menyenangkan.


“Dasa Darma adalah janji moral seorang pramuka, sehingga setiap penggalang wajib tidak hanya menghafalkan tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Kak Myanto di sela pembinaan. Lagu-lagu dan yel-yel pramuka pun dikumandangkan dengan penuh semangat oleh setiap regu, menambah kekompakan dan kebersamaan di antara para penggalang.

Kegiatan tidak berhenti sampai di situ. Setelah sesi pagi usai, sebagian siswa kembali melanjutkan pembinaan mulai pukul 13.00 hingga 15.30 WIB. Pada sesi sore, materi diarahkan kepada pembekalan keterampilan lapangan. Kak Myanto bersama Kak Dyah dan Kak Tutut memberikan pelatihan Peraturan Baris Berbaris (PBB), permainan tangkap tongkat untuk melatih konsentrasi dan kecepatan, pengenalan selintas semaphore sebagai keterampilan sandi, serta praktik pionering dengan pembuatan dragbar atau tandu pramuka.


Para siswa terlihat bersemangat mengikuti setiap tahapan kegiatan, terutama saat praktik pionering yang membutuhkan kerja sama, kreativitas, dan ketelitian. “Melalui latihan pionering, anak-anak belajar pentingnya kerja tim, keterampilan teknis, sekaligus rasa tanggung jawab dalam sebuah regu,” ujar Kak Dyah menambahkan.

Dengan terselenggaranya pembinaan satu hari penuh ini, diharapkan para penggalang MI Watuagung semakin mantap dalam pengetahuan, keterampilan, serta sikap kedisiplinan yang menjadi ciri khas seorang pramuka sejati. Kegiatan semacam ini juga menjadi bentuk nyata pembinaan karakter sejak dini yang sejalan dengan tujuan pendidikan kepramukaan di madrasah. (My)

Share:

Asyiknya Belajar Basa Jawa: Siswa Kelas 1 MI Watuagung Sinau Perangane Awak


Watuagung – Kegiatan belajar mengajar (KBM) di MI Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek kembali berjalan dengan penuh semangat pada Sabtu, 27 September 2025. Pada kesempatan tersebut, Ibu Dyah Nuryatin, S.Pd.I, selaku guru kelas 1, mengampu mata pelajaran Bahasa Jawa dengan materi Nyebutne Perangane Awak atau menyebutkan bagian-bagian tubuh.

Sejak awal pembelajaran, suasana kelas tampak hidup dan menyenangkan. Ibu Dyah membuka pelajaran dengan sapaan hangat serta memberikan motivasi kepada siswa agar mencintai bahasa daerah, khususnya Basa Jawa Krama Inggil. Hal ini sejalan dengan upaya melestarikan bahasa ibu yang menjadi identitas budaya Jawa.


Dalam penjelasannya, Ibu Dyah memperkenalkan beberapa anggota tubuh dengan menyebutkan istilah dalam bahasa krama inggil. Ia menuturkan dengan jelas:

  • “Sirah punika ingkang tegesipun kepala.”
  • “Mata punika tegesipun mripat.”
  • “Irung punika ingkang ateges grana.”
  • “Cangkem punika tegesipun tutuk.”
  • “Tangan punika ingkang ateges asto.”
  • “Suku punika tegesipun sikil.”

Siswa pun diajak mengulangi secara serempak hingga satu per satu untuk melatih pelafalan dan pemahaman. Dengan metode interaktif, guru juga memberikan permainan tebak-tebakan sederhana, seperti menunjuk bagian tubuh sambil menyebutkan istilahnya. Suasana kelas pun dipenuhi tawa riang, namun tetap serius dalam mempelajari materi.

“Anak-anak kedah saged ngucapaken kanthi bener, amargi basa krama punika minangka tata krama lan unggah-ungguhing bangsa Jawa,” tutur Ibu Dyah dalam pembelajarannya.


Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya membiasakan anak-anak sejak dini untuk menggunakan bahasa Jawa dengan tingkatan yang tepat. Hal ini diharapkan dapat membentuk karakter santun, hormat kepada orang tua, serta mencintai budaya sendiri.

Kegiatan pembelajaran berakhir dengan evaluasi singkat. Siswa diminta maju secara bergantian untuk menyebutkan bagian tubuh yang ditunjukkan guru. Banyak siswa yang berhasil menjawab dengan benar, meski beberapa masih perlu bimbingan.

Dengan pembelajaran yang komunikatif dan menyenangkan, siswa kelas 1 MI Watuagung semakin bersemangat dalam mempelajari bahasa Jawa. Materi tentang perangane awak ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap budaya Jawa sejak usia dini. (My-DN).

Share:

Jumat, September 26, 2025

Pembinaan Ekstrakurikuler Kepramukaan di MI Watuagung: Asah Kreativitas, Disiplin, dan Semangat Kebersamaan


Watuagung, Watulimo – Kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan Kepramukaan di MI Watuagung kembali digelar dengan penuh semangat pada Jumat, 26 September 2025. Bertempat di halaman madrasah, kegiatan yang berlangsung sejak pukul 13.00 hingga 16.00 WIB ini dipandu langsung oleh pembina pramuka, Bapak Murdiyanto—yang akrab disapa Kak Myanto dalam lingkungan kepramukaan—bersama Ibu Dyah Nuryatin atau yang biasa dipanggil Kak Dyah.

Adapun materi yang menjadi pokok pembinaan kali ini mencakup tiga keterampilan dasar kepramukaan, yaitu sandi Morse, lagu-lagu pramuka, serta tali-temali atau pionering. Para siswa tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan, terlebih karena metode pembinaan yang disampaikan penuh dengan praktik langsung dan nuansa kebersamaan.


Dalam sambutannya, Kak Myanto menekankan pentingnya keterampilan pramuka sebagai bekal karakter kedisiplinan dan kreativitas. “Pramuka bukan hanya soal baris-berbaris atau seragam yang dikenakan, tetapi juga latihan nyata untuk melatih kecerdikan, kebersamaan, dan rasa tanggung jawab. Melalui sandi Morse misalnya, anak-anak belajar tentang komunikasi yang penuh kode, sementara dalam pionering mereka belajar kerjasama dan ketelitian,” ujarnya.

Sementara itu, Kak Dyah menambahkan bahwa nyanyian pramuka memiliki peran penting untuk menumbuhkan semangat dan kebanggaan sebagai anggota pramuka. “Dengan lagu-lagu pramuka, kita bisa membangun suasana gembira sekaligus menanamkan nilai kebersamaan. Lagu menjadi sarana paling sederhana, tetapi sangat kuat dalam menumbuhkan rasa cinta pada pramuka dan tanah air,” tutur Kak Dyah di sela-sela kegiatan.

Suasana pembinaan berlangsung interaktif, siswa tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan. Mereka diajak berlatih mengenal sandi Morse melalui permainan sederhana, menyanyikan yel-yel pramuka bersama-sama, serta mengikat tali dalam berbagai bentuk simpul yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan perkemahan.


Kepala MI Watuagung menyampaikan apresiasi atas dedikasi para pembina. Menurutnya, kegiatan pramuka seperti ini menjadi salah satu sarana efektif untuk mengembangkan potensi siswa, baik dalam aspek intelektual maupun sikap sosial.

Dengan selesainya kegiatan pada sore hari itu, diharapkan para siswa semakin bersemangat untuk terus mengasah keterampilan pramuka. Pramuka di MI Watuagung tidak sekadar kegiatan tambahan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pembentukan generasi muda yang tangguh, berdisiplin, dan penuh rasa kebersamaan. (My-DN)

Share:

Terjemahkan

Arsip Digital Online

Mars LP Ma'arif NU