NPSN : 60714452 | NSM : 111235030055 | IJOB NO. : MIS/03.0055/2017 | AKTE NOTARIS : NO. 4, MUNYATI SULLAM, S.H., M.H. | Pengesahan Akta Notaris : AHU-119.AH.01.08.TAHUN 2013 / 26 JUNI 2013 | Tanggal Pendirian : 01 JANUARI 1965
Tampilkan postingan dengan label Anik Tutut Sholihah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anik Tutut Sholihah. Tampilkan semua postingan

Senin, Oktober 13, 2025

Belajar Fikih Menyenangkan: Siswa Kelas VI MI Watuagung Praktik Jual Beli di Kantin Madrasah


Watuagung, 13 Oktober 2025 — Suasana belajar tampak berbeda di MI Watuagung pada Senin pagi ini. Siswa-siswi kelas VI tampak antusias mengikuti kegiatan pembelajaran mata pelajaran Fikih bersama Ibu Anik Tutut Sholihah, M.Pd.I, yang akrab disapa Bu Tutut. Pada kesempatan tersebut, beliau mengajar materi “Jual Beli (Al-Bai’)”, sesuai dengan silabus Fikih Kelas VI Madrasah Ibtidaiyah, dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, dan praktik langsung di lingkungan madrasah.

Dalam kegiatan ini, Bu Tutut terlebih dahulu menyampaikan pengertian jual beli dalam Islam, yaitu tukar-menukar barang atau sesuatu yang bernilai dengan akad (ijab qabul) yang dilakukan secara sukarela antara penjual dan pembeli sesuai dengan syariat Islam. Beliau juga menekankan bahwa dalam Islam, jual beli diperbolehkan selama memenuhi rukun dan syaratnya, di antaranya:

  1. Ada penjual dan pembeli yang cakap hukum (baligh dan berakal),

  2. Ada barang atau benda yang diperjualbelikan,

  3. Ada harga atau nilai tukar yang jelas,

  4. Ada ijab qabul (akad) antara kedua belah pihak, serta

  5. Dilakukan dengan kerelaan tanpa unsur penipuan (gharar) atau kecurangan.

Setelah penjelasan teori dan diskusi tentang macam-macam jual beli yang sah dan yang dilarang, siswa kemudian diajak untuk mempraktikkan kegiatan jual beli secara langsung di kantin madrasah. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok: ada yang berperan sebagai penjual, ada yang menjadi pembeli, dan ada juga yang bertugas sebagai pengamat untuk menilai apakah proses jual beli sudah sesuai dengan ketentuan syariat.


Kegiatan praktik tersebut berlangsung meriah dan penuh semangat. Para siswa tampak berinteraksi dengan gembira sambil tetap menerapkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan saling menghargai dalam transaksi. Melalui praktik ini, siswa belajar secara langsung bagaimana menerapkan ajaran Fikih dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal muamalah.

Menurut Bu Tutut, kegiatan ini bertujuan agar siswa tidak hanya memahami konsep jual beli secara teori, tetapi juga mengalami dan merasakan prosesnya secara nyata, sehingga nilai-nilai Islam dapat benar-benar tertanam dalam perilaku mereka.

“Saya ingin anak-anak memahami bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah, tapi juga muamalah seperti jual beli. Dengan praktik ini, mereka bisa belajar jujur, adil, dan bertanggung jawab dalam bertransaksi,” ujar Bu Tutut saat ditemui di sela kegiatan.

Kepala MI Watuagung, Bapak Mustarom, S.Pd.I, turut memberikan apresiasi atas kreativitas guru dalam mengemas pembelajaran yang bermakna. Beliau menyampaikan bahwa pendekatan kontekstual seperti ini sejalan dengan visi madrasah untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkarakter islami.

Dengan kegiatan belajar yang aktif, kreatif, dan menyenangkan ini, siswa kelas VI MI Watuagung tidak hanya memahami materi jual beli dalam Fikih, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.


---------
🖋️ Penulis: Tim Redaksi MI Watuagung
📸 Dokumentasi: Guru Kelas 6 MI Watuagung
📅 Tanggal: Senin, 13 Oktober 2025
Share:

Selasa, Oktober 07, 2025

Belajar Surah At-Tiin Jadi Lebih Menyenangkan, Siswa Kelas 5 MI Watuagung Antusias Ikuti Pembelajaran Qur’an Hadits Bersama Bu Tutut


Watuagung – Suasana belajar tampak berbeda di kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah Watuagung pada hari Selasa, 07 Oktober 2025. Pada jam pelajaran Qur’an Hadits, siswa tampak begitu antusias mengikuti kegiatan pembelajaran yang dipandu oleh Ibu Anik Tutut Sholihah, M.Pd.I, atau yang akrab disapa Bu Tutut.

Materi yang diajarkan kali ini adalah Surah At-Tiin, salah satu surah dalam Al-Qur’an yang mengandung makna mendalam tentang kemuliaan manusia dan pentingnya keimanan serta amal saleh. Pembelajaran ini dikemas dengan metode kuis interaktif, sehingga membuat siswa lebih bersemangat dan aktif dalam memahami isi kandungan ayat-ayatnya.

Dalam kegiatan tersebut, Bu Tutut mengawali pembelajaran dengan membaca bersama surah At-Tiin secara tartil dan benar sesuai tajwid. Setelah itu, beliau menjelaskan makna ayat demi ayat, serta mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari siswa.

“Surah At-Tiin mengingatkan kita bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Namun, manusia bisa menjadi hina apabila tidak beriman dan tidak beramal saleh,” ujar Bu Tutut di sela-sela kegiatan belajar.


Beberapa potongan ayat yang menjadi fokus pembelajaran antara lain:

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1)
“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun.”

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4)
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Melalui penjelasan tersebut, siswa diajak untuk menyadari keistimewaan dirinya sebagai ciptaan Allah dan pentingnya menjaga akhlak mulia, keimanan, serta berbuat baik kepada sesama.

Setelah pemahaman materi, kegiatan dilanjutkan dengan kuis berkelompok. Siswa dibagi menjadi beberapa tim dan saling berlomba menjawab pertanyaan seputar makna, isi, dan pesan moral dari surah At-Tiin. Metode ini tidak hanya menumbuhkan semangat belajar, tetapi juga melatih kerja sama dan sportivitas di antara siswa.

“Belajar dengan cara kuis seperti ini menyenangkan sekali, Bu! Jadi tidak mengantuk dan lebih mudah ingat artinya,” ungkap salah satu siswa dengan penuh semangat.


Bu Tutut berharap kegiatan seperti ini dapat terus diterapkan untuk menumbuhkan minat belajar Al-Qur’an Hadits dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.

“Anak-anak sekarang perlu pendekatan yang interaktif agar nilai-nilai Al-Qur’an tidak hanya dipahami, tapi juga dihayati dalam perilaku mereka sehari-hari,” tambahnya.

Kegiatan pembelajaran ini menjadi bukti bahwa pembelajaran Qur’an Hadits dapat berlangsung menarik, inspiratif, dan bermakna bila dikemas dengan metode yang tepat. Melalui kegiatan seperti ini, MI Watuagung terus berkomitmen menanamkan nilai-nilai keislaman dan karakter mulia kepada setiap peserta didik sejak dini. (My)

Share:

Jumat, Oktober 03, 2025

Keluarga Besar MI Watuagung dan RA Miftahul Huda Gelar Rutinan Istighotsah Jumat Pagi


Watuagung, 03 Oktober 2025Suasana penuh khidmat menyelimuti halaman Madrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek pada Jum’at pagi (03/10). Seluruh siswa MI Watuagung bersama siswa RA Miftahul Huda Watuagung melaksanakan kegiatan rutinan Istighotsah Jumat Pagi, sebuah tradisi spiritual yang telah menjadi agenda tetap madrasah dalam membentuk karakter religius peserta didik.

Kegiatan istighotsah ini dipimpin langsung oleh Bapak Mustarom, S.Pd.I, selaku Kepala MI Watuagung, dengan bacaan istighotsah, tahlil, serta doa bersama yang dipanjatkan penuh kekhusyukan. Seluruh siswa duduk tertib, mengikuti rangkaian doa yang dipandu, sembari melantunkan ayat-ayat dan wirid dengan suara yang lantang namun khidmat.

Dalam sambutannya, Bapak Mustarom, S.Pd.I menyampaikan bahwa istighotsah bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya nyata menanamkan nilai keimanan, kecintaan kepada Allah SWT, serta membentuk jiwa religius sejak dini. “Dengan kegiatan istighotsah ini, kita berharap anak-anak terbiasa dekat dengan Al-Qur’an, dzikir, dan doa. Harapannya, mereka tumbuh menjadi generasi yang kuat iman, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.


Tidak hanya siswa, guru dan tenaga kependidikan dari MI maupun RA turut larut dalam kekhusyukan istighotsah. Kolaborasi antara kedua lembaga ini menegaskan pentingnya sinergi pendidikan Islam sejak usia dini hingga sekolah dasar dalam mencetak generasi yang berkarakter Islami.

Kegiatan rutinan ini ditutup dengan doa bersama agar seluruh warga madrasah senantiasa diberi kesehatan, keberkahan ilmu, serta perlindungan dari Allah SWT. Suasana penuh kedamaian dan spiritualitas tampak menyelimuti seluruh peserta, meninggalkan kesan mendalam bagi siswa maupun guru yang hadir.

Dengan adanya istighotsah setiap Jumat pagi, MI Watuagung bersama RA Miftahul Huda tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga menekankan pembinaan spiritual dan pembentukan karakter, selaras dengan visi madrasah dalam mencetak generasi cerdas, berakhlak mulia, dan berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah. (My-ATS)

Share:

Selasa, September 30, 2025

KBM Bahasa Arab Kelas 5 MI Watuagung: Belajar Kosakata Melalui Percakapan Interaktif


Watuagung, 30 September 2025Proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di MI Watuagung pada hari Selasa berlangsung aktif dan penuh semangat. Ibu Anik Tutut Sholihah, M.Pd.I selaku guru mata pelajaran Bahasa Arab mengampu pembelajaran di kelas 5 dengan materi “Mengenal Kosakata melalui Percakapan tentang Ruang Tamu dan Ruang Belajar”.

Dalam pembelajaran kali ini, Bu Tutut (sapaan akrab beliau) memperkenalkan sejumlah kosakata baru kepada siswa dengan cara mengaitkannya langsung pada situasi percakapan sehari-hari. Beberapa kosakata yang dipelajari di antaranya:

  • غُرْفَةُ الْجُلُوْسِ (ruang tamu)
  • غُرْفَةِ الْمُذَكَرَةِ (ruang belajar)
  • كُرْسِيٌّ (kursi)
  • مَكْتَبٌ (meja belajar)
  • كِتَابٌ (buku)
  • قَلَمٌ (pena)


Metode yang digunakan adalah
role play atau bermain peran. Siswa diajak untuk berpasangan dan melatih dialog sederhana, misalnya:

أَيْنَ أَنْتِ؟” (Di mana kamu?)
أَنَا فِي غُرْفَةِ الْمُذَكَرَةِ.” (Saya berada di ruang belajar.)

Dengan metode ini, siswa tidak hanya menghafal kosakata, tetapi juga memahami penggunaannya dalam konteks kalimat nyata.

Bu Tutut menekankan pentingnya keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran. “Bahasa Arab bukan sekadar dihafalkan, tapi dipraktikkan. Dengan percakapan sederhana, anak-anak akan lebih mudah memahami arti dan fungsi kata dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.


Siswa terlihat antusias, bahkan beberapa dengan percaya diri mampu memperagakan percakapan di depan kelas. Suasana belajar berlangsung menyenangkan karena diselingi dengan permainan tanya jawab dan tepuk semangat agar anak-anak tidak mudah bosan.

Kegiatan ini diakhiri dengan evaluasi singkat berupa latihan menulis kosakata di buku tulis masing-masing serta mengulang kembali dialog secara bersama-sama. Dengan demikian, materi yang sudah dipelajari tidak hanya terekam secara lisan tetapi juga tertulis.

Melalui KBM ini, MI Watuagung terus berkomitmen mencetak generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan memiliki kemampuan berbahasa yang memadai sesuai visi madrasah. (My)

Share:

Sabtu, September 27, 2025

Pembinaan Intensif Ekstrakurikuler Pramuka MI Watuagung: Pemantaban Materi dan Kedisiplinan


Watuagung, Watulimo – Ekstrakurikuler Kepramukaan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, menggelar kegiatan pembinaan intensif untuk empat regu penggalang pada Sabtu, 27 September 2025. Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga sore ini dipandu langsung oleh Pembina Gugusdepan 10.007-10.008 Pangkalan MI Watuagung, Kak Myanto, dengan pendampingan pada sesi siang oleh Kak Dyah dan Kak Tutut.

Sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, para peserta didik tampak antusias mengikuti materi dasar kepramukaan yang ditekankan pada pemantapan hafalan Dasa Darma Pramuka, pengenalan dan penghayatan lagu-lagu pramuka, penguatan yel-yel regu, serta penanaman nilai kedisiplinan. Untuk menjaga suasana tetap hidup, Kak Myanto juga menyelipkan berbagai permainan (game) kepramukaan yang mendidik namun tetap menyenangkan.


“Dasa Darma adalah janji moral seorang pramuka, sehingga setiap penggalang wajib tidak hanya menghafalkan tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Kak Myanto di sela pembinaan. Lagu-lagu dan yel-yel pramuka pun dikumandangkan dengan penuh semangat oleh setiap regu, menambah kekompakan dan kebersamaan di antara para penggalang.

Kegiatan tidak berhenti sampai di situ. Setelah sesi pagi usai, sebagian siswa kembali melanjutkan pembinaan mulai pukul 13.00 hingga 15.30 WIB. Pada sesi sore, materi diarahkan kepada pembekalan keterampilan lapangan. Kak Myanto bersama Kak Dyah dan Kak Tutut memberikan pelatihan Peraturan Baris Berbaris (PBB), permainan tangkap tongkat untuk melatih konsentrasi dan kecepatan, pengenalan selintas semaphore sebagai keterampilan sandi, serta praktik pionering dengan pembuatan dragbar atau tandu pramuka.


Para siswa terlihat bersemangat mengikuti setiap tahapan kegiatan, terutama saat praktik pionering yang membutuhkan kerja sama, kreativitas, dan ketelitian. “Melalui latihan pionering, anak-anak belajar pentingnya kerja tim, keterampilan teknis, sekaligus rasa tanggung jawab dalam sebuah regu,” ujar Kak Dyah menambahkan.

Dengan terselenggaranya pembinaan satu hari penuh ini, diharapkan para penggalang MI Watuagung semakin mantap dalam pengetahuan, keterampilan, serta sikap kedisiplinan yang menjadi ciri khas seorang pramuka sejati. Kegiatan semacam ini juga menjadi bentuk nyata pembinaan karakter sejak dini yang sejalan dengan tujuan pendidikan kepramukaan di madrasah. (My)

Share:

Kamis, September 25, 2025

Pengawas Madrasah Kemenag Trenggalek Apresiasi Pelaksanaan ANBK dan Tindak Lanjuti Monev BOS di MI Watuagung


Watuagung, Watulimo – Kamis, 25 September 2025.
Pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) tahun 2025 di MI Watuagung memasuki hari kedua dengan suasana tertib, aman, dan lancar. Pada kesempatan ini, hadir Ibu Siti Maisukhoh, S.Pd.I., M.Pd.I., selaku Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Trenggalek yang bertugas diwilayah Kecamatan Watulimo, untuk melakukan monitoring pelaksanaan ANBK sekaligus melanjutkan agenda monitoring dan evaluasi (monev) tindak lanjut penggunaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di MI Watuagung serta Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan di RA Miftahul Huda Watuagung, Kecamatan Watulimo.

Dalam sambutannya, Ibu Siti Maisukhoh menyampaikan rasa syukur dan apresiasi terhadap kelancaran kegiatan ANBK di MI Watuagung. “Alhamdulillah, pelaksanaan ANBK di MI Watuagung berjalan dengan baik, lancar, dan aman terkendali sesuai harapan. Hal ini menunjukkan kesiapan madrasah dalam mendukung program nasional peningkatan mutu pendidikan,” ungkapnya.


Lebih lanjut, beliau juga menyoroti langkah progresif MI Watuagung dalam pemanfaatan teknologi informasi. “Saya sangat mengapresiasi perkembangan MI Watuagung yang sudah memanfaatkan teknologi digital dalam manajemen maupun pembelajaran. Ini menjadi bukti bahwa madrasah mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, sekaligus memberikan layanan pendidikan yang lebih efektif dan berkualitas,” tambahnya.

Selain monitoring ANBK, kunjungan ini juga difokuskan pada monev tindak lanjut penggunaan BOS MI dan BOP RA. Menurut beliau, pengelolaan dana BOS dan BOP harus dilakukan secara akuntabel, transparan, dan tepat sasaran agar memberikan dampak langsung terhadap peningkatan mutu layanan pendidikan.


Sementara itu, Kepala MI Watuagung, Bapak Mustarom, S.Pd.I., yang pada saat bersamaan tidak bisa hadir mendampingi karena sedang mengikuti Rapat Dinas Sosialisasi pencairan BPPDGS (Bantuan Penyelenggaraan Pendidikan Diniyah dan Guru Swasta) di Dinas DIKPORA Kabupaten Trenggalek, menyampaikan ucapan terima kasih dan permohonan maaf melalui pesan tertulis. “Saya atas nama keluarga besar MI Watuagung menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas kehadiran Ibu Pengawas yang sudah berkenan melakukan monitoring di madrasah kami. Mohon maaf karena pada saat bersamaan saya tidak bisa mendampingi secara langsung. Kehadiran beliau tentu memberikan motivasi dan energi positif bagi guru dan siswa kami,” ucapnya.

Kunjungan Pengawas Madrasah Kemenag Trenggalek ini diakhiri dengan obrolan-obrolan santai dengan berharap agar pelaksanaan ANBK tahun 2025 membawa manfaat dalam peningkatan mutu pendidikan, serta pengelolaan dana BOP BOS dapat terus mendukung kemajuan madrasah dan RA di Kecamatan Watulimo. (MY-ATS)

Share:

Rabu, September 24, 2025

Ibu Anik Tutut Sholihah Terapkan Metode Diskusi dalam Pembelajaran SKI Kelas 6 MI Watuagung


Watuagung  Suasana kelas 6 MI Watuagung pagi itu tampak hidup dan penuh semangat. Pada Rabu, 26 September 2025, Ibu Anik Tutut Sholihah, M.Pd.I, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang mengampu mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), melaksanakan pembelajaran dengan metode diskusi kelompok. Materi yang dipelajari adalah tentang perjuangan Sunan Bonang sebagai salah satu Wali Songo dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Dalam kegiatan pembelajaran, Bu Tutut (panggilan akrab kesehariannya) mengawali pertemuan dengan apersepsi berupa tanya jawab ringan mengenai siapa saja tokoh Wali Songo yang telah dikenal siswa. Pertanyaan ini memantik rasa ingin tahu peserta didik, sekaligus menghubungkan pengetahuan awal mereka dengan materi yang akan dipelajari.


Setelah itu, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Masing-masing kelompok mendapatkan bagian materi terkait kisah hidup, metode dakwah, hingga peninggalan Sunan Bonang. Bu Tutut memberikan arahan agar setiap kelompok membaca dan memahami materi, kemudian mendiskusikannya untuk disampaikan kembali kepada teman-teman di kelas.

Metode diskusi ini menjadikan suasana belajar lebih interaktif dan kolaboratif. Para siswa tampak antusias dalam bertukar pendapat, saling melengkapi informasi, serta melatih keberanian untuk berbicara di depan kelas. Beberapa siswa bahkan menambahkan pengetahuan dari bacaan lain maupun cerita yang pernah mereka dengar dari orang tua.

Dalam sesi presentasi, setiap kelompok memaparkan hasil diskusinya. Bu Tutut kemudian memberikan penguatan, meluruskan informasi yang kurang tepat, dan menekankan nilai-nilai keteladanan dari Sunan Bonang, seperti kebijaksanaan dalam berdakwah, kesederhanaan, dan kecintaan terhadap seni yang digunakan sebagai media penyebaran Islam.


“Melalui diskusi ini, saya berharap anak-anak tidak hanya menghafal nama tokoh, tetapi juga mampu mengambil pelajaran dari perjuangan para wali, khususnya Sunan Bonang, yang menyebarkan Islam dengan penuh kearifan,” ungkap Bu Tutut di sela kegiatan.

Kegiatan pembelajaran ini ditutup dengan refleksi bersama. Siswa diajak untuk menyimpulkan nilai-nilai penting dari perjuangan Sunan Bonang yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti sikap toleransi, semangat belajar, dan ketekunan dalam beribadah.

Dengan metode diskusi, pembelajaran SKI di kelas 6 MI Watuagung hari itu tidak hanya menjadi sarana menambah pengetahuan sejarah, tetapi juga membangun keterampilan sosial, berpikir kritis, serta menanamkan nilai-nilai luhur Islam dalam jiwa peserta didik. (MY-ATS)

Share:

MI Watuagung Gelar ANBK 2025, Tingkatkan Literasi, Numerasi, dan Kualitas Lingkungan Belajar


Watuagung, WatulimoMadrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung kembali melaksanakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) tahun 2025 pada Rabu-Kamis, 24–25 September 2025. Kegiatan ini diikuti khusus oleh siswa-siswi kelas V (lima) yang telah dipilih sebagai peserta asesmen sesuai ketentuan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Pelaksanaan ANBK 2025 di MI Watuagung berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh semangat. Para siswa mengikuti asesmen menggunakan perangkat komputer (laptop) yang telah disiapkan madrasah dengan dukungan fasilitas jaringan internet yang memadai.

ANBK bukanlah ujian untuk mengukur kelulusan siswa, melainkan instrumen penting dalam memetakan mutu pendidikan. Tiga fokus utama dalam asesmen ini adalah:

  1. Literasi Membaca, untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu memahami, menafsirkan, dan menggunakan informasi dari berbagai jenis teks bacaan.

  2. Numerasi, yang mengukur kemampuan siswa dalam bernalar menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.

  3. Survei Lingkungan Belajar, yang menggali informasi mengenai kondisi lingkungan belajar, termasuk iklim sekolah, kenyamanan siswa, serta dukungan guru dalam proses pembelajaran.

Melalui ANBK, madrasah memperoleh gambaran objektif mengenai kualitas pembelajaran dan kondisi lingkungan belajar. Data hasil asesmen menjadi dasar bagi satuan pendidikan untuk meningkatkan mutu proses belajar mengajar, memperbaiki metode pembelajaran, serta merancang strategi pendidikan yang lebih tepat sasaran.


Bagi siswa, ANBK bermanfaat untuk melatih keterampilan berpikir kritis, pemahaman bacaan, serta pemecahan masalah kontekstual. Sementara itu, bagi guru dan lembaga pendidikan, hasil asesmen membantu dalam mengevaluasi efektivitas pembelajaran yang telah dilakukan, sekaligus menjadi acuan untuk meningkatkan capaian kompetensi siswa.

Kepala MI Watuagung, bapak Mustarom, S.Pd.I. menyampaikan bahwa pihak madrasah berkomitmen penuh untuk menyukseskan ANBK 2025. "ANBK ini bukan sekadar asesmen, tetapi momentum untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran di MI Watuagung. Dengan memahami hasil asesmen, kami bisa merancang langkah-langkah strategis agar mutu pendidikan semakin baik," ungkapnya.

Dengan terselenggaranya ANBK 2025, MI Watuagung berharap dapat berkontribusi dalam membentuk generasi muda yang literat, numerat, serta tumbuh dalam lingkungan belajar yang sehat, nyaman, dan berkualitas. (MY-ATS)

Share:

Selasa, September 16, 2025

Pembelajaran Al-Qur’an Hadits Kelas 6 MI Watuagung: Pendalaman Surat Al-‘Alaq Bersama Ibu Anik Tutut Sholihah, M.Pd.I


Watuagung, 16 September 2025 – Suasana belajar di kelas 6 MI Watuagung Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, tampak penuh semangat pada Selasa (16/09/2025). Pada hari itu, siswa-siswi mengikuti kegiatan pembelajaran mata pelajaran Al-Qur’an Hadits dengan materi pokok bahasan surat Al-‘Alaq, yang dipandu langsung oleh guru pengampu, Ibu Anik Tutut Sholihah, M.Pd.I.

Kegiatan belajar mengajar dimulai dengan pembacaan ayat-ayat Al-‘Alaq secara bergiliran oleh siswa. Hal ini bertujuan untuk melatih kemampuan membaca Al-Qur’an dengan tartil sekaligus menanamkan kepercayaan diri dalam melafalkan ayat-ayat suci. Guru kemudian memberikan bimbingan dalam tajwid, makhraj huruf, dan pemahaman kandungan ayat.

Dalam penjelasannya, Ibu Anik menekankan pentingnya surat Al-‘Alaq sebagai wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui pembelajaran ini, siswa diajak memahami pesan utama ayat, yaitu perintah membaca, pentingnya ilmu pengetahuan, serta pengakuan atas kebesaran Allah SWT sebagai Sang Pencipta.


Para siswa terlihat antusias mengikuti diskusi. Mereka tidak hanya diajak untuk membaca dan menghafal ayat, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Beberapa siswa bahkan menyampaikan pendapat mereka tentang makna “membaca” dalam kehidupan sehari-hari, yang tidak hanya sebatas membaca teks, tetapi juga memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Metode pembelajaran yang digunakan Ibu Anik bersifat interaktif, memadukan antara ceramah, tanya jawab, dan praktik membaca bersama. Hal ini membuat suasana kelas hidup dan menyenangkan.

Kepala MI Watuagung menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan pembelajaran tersebut. Menurutnya, penguatan pemahaman surat-surat dalam Al-Qur’an sangat penting bagi pembentukan karakter Islami siswa.

Dengan adanya pembelajaran surat Al-‘Alaq ini, diharapkan siswa kelas 6 MI Watuagung semakin mencintai Al-Qur’an, memahami makna ayat-ayatnya, serta mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.


------------
Kontributor : Myanto.ID
Fotografer : Tim Media MI Watuagung
.
Share:

Rabu, September 10, 2025

MI Watuagung Gelar Simulasi ANBK 2025, Siapkan Siswa Hadapi Asesmen Nasional Berbasis Komputer


Watuagung, Watulimo – Madrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, menggelar simulasi Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) Tahun 2025 pada Rabu-Kamis, 10–11 September 2025. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas 5 dengan menggunakan laptop secara online di ruangan yang sudah disediakan sesuai dengan juknis yang ada.

Simulasi ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada siswa mengenai teknis pelaksanaan ANBK, sekaligus melatih kesiapan mereka dalam menjawab soal-soal berbasis komputer. Seluruh peserta tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari login ke sistem hingga menyelesaikan soal simulasi sesuai waktu yang ditentukan.

Sebagaimana diketahui, ANBK jenjang MI tahun 2025 dilaksanakan secara nasional dalam dua tahap pada bulan September 2025, yakni:

  • Tahap I: 22–25 September 2025
  • Tahap II: 29 September–2 Oktober 2025


Pelaksanaan ANBK bertujuan untuk memetakan mutu pendidikan di setiap satuan pendidikan, bukan untuk mengukur capaian individu siswa. Instrumen yang digunakan meliputi literasi membaca, numerasi, survei karakter, serta survei lingkungan belajar.

Kepala MI Watuagung menyampaikan bahwa simulasi ini sangat penting agar siswa tidak canggung ketika menghadapi ANBK sebenarnya. “Dengan adanya simulasi, anak-anak bisa terbiasa menggunakan laptop dalam menjawab soal, sehingga saat pelaksanaan resmi nanti mereka lebih percaya diri,” ujarnya.

Selain itu, pihak madrasah juga menekankan pentingnya kerjasama orang tua, guru, serta seluruh warga sekolah untuk mendukung kelancaran ANBK 2025. Dengan persiapan yang matang, diharapkan MI Watuagung dapat memberikan hasil terbaik, sekaligus berkontribusi dalam pemetaan mutu pendidikan di Indonesia.


Kontributor : Myanto-ID
Fotografer : Lia Ernawati
.
Share:

Terjemahkan

Arsip Digital Online

Mars LP Ma'arif NU