NPSN : 60714452 | NSM : 111235030055 | IJOB NO. : MIS/03.0055/2017 | AKTE NOTARIS : NO. 4, MUNYATI SULLAM, S.H., M.H. | Pengesahan Akta Notaris : AHU-119.AH.01.08.TAHUN 2013 / 26 JUNI 2013 | Tanggal Pendirian : 01 JANUARI 1965
Tampilkan postingan dengan label HSN 2025. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HSN 2025. Tampilkan semua postingan

Sabtu, November 08, 2025

Semangat Santri MI Watuagung Berkobar di Ajang LJS3T Ke-VII Tahun 2025 di Karanggandu Watulimo


Watulimo, 8 November 2025
— Ribuan pelajar santri dari berbagai satuan pendidikan di bawah naungan PC LP. Ma’arif NU Kabupaten Trenggalek tumpah ruah memenuhi Halaman Balai Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo dalam ajang bergengsi Lomba Jelajah Situs Sejarah Santri Trenggalek (LJS3T) ke-VII Tahun 2025, Sabtu (8/11).

Ajang tahunan yang digelar oleh Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif NU (SAKOMA NU) Kwarcab Trenggalek ini menjadi momentum bersejarah bagi para santri untuk meneladani semangat jihad para ulama sekaligus meneguhkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air melalui kegiatan edukatif, religius, dan rekreatif.

Dalam perhelatan tahun ini, panitia menggelar sembilan cabang perlombaan yang sarat makna dan nilai karakter, yaitu:

  1. Hafalan Tahlil Qashar

  2. Lomba Permainan Terompah/Bangkiak

  3. Melukis Logo atau Lambang NU

  4. Hafalan Surat Yasin

  5. Pembacaan Teks Resolusi Jihad

  6. Olimpiade Aswaja

  7. Tebak Tokoh NU dan Lambang Banom NU

  8. Yel-yel Mars Syubbanul Wathon dan Pramuka

  9. Scouting Skill Pionering

Kesembilan cabang lomba ini dirancang untuk mengasah kemampuan religius, kebangsaan, serta keterampilan kepramukaan para peserta.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua PC LP. Ma’arif NU Trenggalek, Dr. Mohib Asrori, S.Pd.I., M.Si., bersama Ketua SAKOMA NU Kwarcab Trenggalek, H. Mahsun Ismail, S.Ag., M.M.

Dalam sambutannya, Dr. Mohib Asrori menegaskan bahwa kegiatan seperti LJS3T merupakan bagian penting dari gerakan pendidikan karakter santri.

“Santri tidak hanya dituntut cerdas dalam akademik, tetapi juga harus kuat dalam spiritual, cinta tanah air, dan siap berjuang menegakkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Melalui kegiatan ini, kita ingin menumbuhkan kembali semangat jihad intelektual dan sosial ala para ulama pendahulu kita,” ujarnya disambut tepuk tangan meriah para peserta.

Sementara itu, H. Mahsun Ismail menambahkan bahwa ajang ini adalah ruang berlatih untuk mencetak kader muda NU yang tangguh dan berwawasan kebangsaan.

“Pramuka Ma’arif harus menjadi pelopor santri yang disiplin, kreatif, dan berjiwa sosial tinggi. LJS3T bukan sekadar lomba, tapi wadah pembentukan karakter dan penguatan ideologi kebangsaan berbasis nilai-nilai Islam Aswaja,” tuturnya.


Dalam kegiatan tersebut, MI Watuagung turut mengirimkan dua regu andalan, masing-masing regu putra dan regu putri, yang tampil penuh semangat di setiap cabang lomba. Dengan pendampingan para Pembina Satuan Pramuka MI Watuagung, para peserta menunjukkan dedikasi luar biasa, bahkan di bawah teriknya matahari dan padatnya jadwal perlombaan.

Kepala MI Watuagung, Bapak Mustarom, memberikan apresiasi tinggi atas semangat para peserta.

“Kami sangat bangga dengan perjuangan anak-anak kami. Mereka menunjukkan semangat santri sejati — pantang menyerah, disiplin, dan tetap ceria meski di tengah terik panas dan persaingan yang ketat. Kegiatan ini bukan semata soal juara, tetapi soal menanamkan nilai perjuangan dan cinta tanah air di dada setiap santri,” ungkapnya.

Para peserta dan pendamping juga merasakan antusiasme luar biasa dari masyarakat sekitar. Ribuan penonton, mulai dari wali santri, guru, hingga warga Desa Karanggandu dan sekitarnya turut menyaksikan jalannya perlombaan dengan penuh semangat. Suasana desa berubah menjadi lautan semangat hijau NU dan keceriaan khas santri Ma’arif.

Melalui kegiatan ini, peserta diajak mengenal jejak perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta memahami nilai sejarah perjuangan Islam Nusantara. Hal ini sejalan dengan semangat Resolusi Jihad yang menjadi ruh pergerakan santri.

MI Watuagung menegaskan komitmennya untuk terus aktif dalam setiap kegiatan yang digagas oleh LP. Ma’arif NU dan SAKOMA NU Trenggalek.

Kegiatan LJS3T menjadi wadah untuk meneguhkan identitas santri MI Watuagung sebagai pelajar yang Religius, Cinta Tanah Air, dan Berkarakter Aswaja. (My)

Share:

Rabu, November 05, 2025

MI Watuagung Ikuti Festival Tahfidzul Qur’an Bil Qalam PC LP Ma’arif NU Trenggalek 2025 di MI Plus Watulimo


Watulimo — Suasana khidmat dan penuh semangat tampak menyelimuti halaman MI Plus Watulimo, Rabu (05/11/2025). Ratusan santri dari berbagai Madrasah Ibtida’iyah (MI) dan Sekolah Dasar (SD) Ma’arif NU se-Kabupaten Trenggalek berkumpul dalam Festival Tahfidzul Qur’an bil Qalam, sebuah ajang perdana yang diselenggarakan oleh PC LP. Ma’arif NU Kabupaten Trenggalek sebagai bagian dari rangkaian besar Semarak Festival Santri Ma’arif NU Trenggalek dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional Tahun 2025.

Kegiatan diikuti oleh sekitar 150 santri delegasi dari berbagai lembaga pendidikan di bawah naungan LP. Ma’arif NU. Tak hanya para peserta, kegiatan ini juga dihadiri oleh para guru pendamping, kepala madrasah, pengurus NU setempat, serta seluruh santri MI Plus Watulimo yang turut menyemarakkan acara sebagai tuan rumah.

Acara dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan prakata panitia, dan sambutan dari Ketua PC LP. Ma’arif NU Trenggalek, Dr. Mohib Asrori, S.Pd.I., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut yang menjadi momentum bersejarah bagi Ma’arif NU Trenggalek.

“Kegiatan Festival Tahfidzul Qur’an bil Qalam ini merupakan kegiatan perdana yang diselenggarakan oleh PC LP. Ma’arif NU Trenggalek. Ini menjadi langkah awal yang insya Allah akan terus kita kembangkan sebagai bentuk pembinaan generasi Qur’ani di lingkungan Ma’arif,” tutur Dr. Mohib Asrori dalam sambutannya.


Lebih lanjut, beliau juga menyampaikan bahwa pada Sabtu, 8 November 2025 mendatang, PC LP. Ma’arif NU Trenggalek akan kembali menggelar Lomba Jelajah Sejarah Situs Santri Trenggalek (LJS3T) ke-7 yang akan berpusat di Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, sebagai bentuk sinergi antara pendidikan, sejarah, dan semangat kebangsaan santri.

Acara pembukaan dilanjutkan dengan Launching Festival Tahfidzul Qur’an bil Qalam oleh H. Ahmad Nahrowi, M.Pd.I, selaku Sekretaris PC LP. Ma’arif NU Trenggalek. Dengan ucapan Basmallah, beliau secara resmi membuka festival tersebut dan menandai dimulainya parade tahfidz dari berbagai delegasi santri.

Dalam parade tahfidz, para santri menampilkan hafalan surah-surah pilihan seperti Surah Al-Kahfi, Yasin, Ar-Rahman, Tabarak, Al-Waqi’ah, serta dilanjutkan dengan juz 30 secara keseluruhan. Suara lantunan ayat-ayat suci yang merdu dan tartil menggema memenuhi ruang kegiatan, menciptakan suasana haru dan spiritual yang mendalam.


Sebagai bagian dari keluarga besar Ma’arif NU Trenggalek, MI Watuagung Kecamatan Watulimo turut berpartisipasi dalam ajang tersebut dengan mengirimkan enam santri terbaiknya. Mereka tampil penuh percaya diri dan semangat, didampingi langsung oleh Bapak Mustarom (Kepala MI Watuagung), bapak Imam Nahrowi dan Ibu Dyah Nuryatin, selaku guru madrasah.

Dalam kesempatan terpisah, Bapak Mustarom menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya terhadap kegiatan ini.

“Kami sangat mengapresiasi PC LP. Ma’arif NU Trenggalek yang telah memprakarsai kegiatan luar biasa ini. Selain mempererat ukhuwah antarlembaga, kegiatan ini juga menjadi ruang yang sangat berharga untuk menumbuhkan semangat cinta Al-Qur’an di kalangan santri sejak dini,” ungkap beliau.

Beliau juga berharap agar kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut setiap tahun dan semakin memperkuat tradisi santri Ma’arif dalam menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah kehidupan masyarakat.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa LP. Ma’arif NU Trenggalek terus berinovasi dalam menghadirkan kegiatan bermakna bagi santri dan lembaga di bawah naungannya — menuju pendidikan Islam yang unggul, berkarakter, dan berlandaskan Al-Qur’an. (My)

Share:

Sabtu, November 01, 2025

Prestasi Gemilang MI Watuagung: Ananda Shelin Raih Juara 1 Lomba Mewarnai Kaligrafi di Festival Santri Ma’arif NU Ke-5


Trenggalek, 1 November 2025 — Kabar membanggakan kembali datang dari keluarga besar MI Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. Salah satu siswi terbaiknya, Ananda Diva Arshelina Sheza Mecca (Shelin), berhasil meraih Juara 1 Lomba Mewarnai Kaligrafi (Fase A) dalam ajang bergengsi Semarak Festival Santri Ma’arif NU Ke-5 HSN Tahun 2025. Kegiatan ini diselenggarakan oleh PC LP. Ma’arif NU Kabupaten Trenggalek dan dipusatkan di SMK Islam 1 Durenan pada hari Sabtu, 1 November 2025.

Lomba yang diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai sekolah dan madrasah di bawah naungan LP Ma’arif NU Kabupaten Trenggalek ini menjadi ajang unjuk kreativitas, kecintaan pada seni islami, serta semangat santri dalam menghidupkan nilai-nilai keindahan kaligrafi. Dari MI Watuagung sendiri, terdapat dua delegasi yang turut serta dalam kompetisi ini, yakni Ananda Diva Arshelina Sheza Mecca (Shelin) untuk Lomba Kaligrafi Fase A, dan Ananda Rona Laili Umatul Khoiroh (Rona) untuk Lomba Kaligrafi Fase B.

Prestasi membanggakan yang diraih Ananda Shelin menjadi bukti nyata bahwa semangat belajar dan berkarya tidak mengenal usia. Dengan ketekunan, kreativitas, dan bimbingan dari para guru serta orangtua, Shelin mampu menorehkan prestasi terbaik di tingkat kabupaten.


Dalam kesempatan terpisah, Bapak Mustarom, S.Pd.I., selaku Kepala MI Watuagung, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas capaian siswanya tersebut.

“Alhamdulillah, prestasi ini merupakan hasil kerja keras, semangat, dan doa bersama. Kami sangat bangga kepada Ananda Shelin yang telah membawa nama baik madrasah di tingkat kabupaten. Tidak lupa, kami juga memberikan apresiasi kepada Ananda Rona yang telah berjuang dengan penuh semangat. Semoga prestasi ini menjadi motivasi bagi seluruh siswa MI Watuagung untuk terus berprestasi dan membawa harum nama madrasah di berbagai bidang,” ujar beliau.

Kemenangan ini menjadi momentum berharga bagi MI Watuagung untuk terus menumbuhkan semangat kompetitif, kreatif, dan religius di kalangan peserta didik. Dengan dukungan penuh dari dewan guru dan orang tua, madrasah yang berlokasi di Kecamatan Watulimo ini berkomitmen untuk mencetak generasi islami yang berprestasi, berakhlak mulia, dan berjiwa santri sejati.

Selamat kepada Ananda Shelin dan Rona!
Teruslah berkarya dan menjadi inspirasi bagi teman-teman MI Watuagung.
“Dari Madrasah, Kita Menginspirasi Negeri!”

Share:

Rabu, Oktober 22, 2025

Santri Bangkit, Negeri Beradab! MI Watuagung Guncang Watulimo dengan Apel Kebangsaan Hari Santri Nasional 2025 yang Penuh Semangat


Watuagung, 22 Oktober 2025
– Halaman Madrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek pagi ini menjelma menjadi lautan putih bersarung dan berkerudung. Ratusan santri dari PAUD, RA Miftahul Huda, dan MI Watuagung bersama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama dan seluruh Badan Otonom (Ansor, Banser, Fatayat NU, Muslimat NU, IPNU, dan IPPNU) dari Ranting Watuagung dan Ngembel memadati lapangan madrasah dalam rangka Apel Kebangsaan Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2025.

Kegiatan yang berlangsung Rabu, 22 Oktober 2025 ini dihadiri secara khidmat oleh jajaran Forkopimcam Watulimo, yakni Camat Watulimo bapak Jati Mustika Dani, S.STP., Kapolsek Watulimo bapak AKP Sunarto, S.Sos., dan Danramil Watulimo, serta turut serta 3 Pilar Desa Watuagung dan Ngembel, para takmir masjid, jamaah yasin, orang tua santri, serta tokoh masyarakat sekitar.


Bertindak sebagai Inspektur Apel, AKP Sunarto, S.Sos. (Kapolsek Watulimo) dengan penuh wibawa menyampaikan amanat Menteri Agama Republik Indonesia. Dalam pesannya yang menggugah semangat, beliau mengajak seluruh santri untuk tidak hanya menjadi pelajar yang taat dan berilmu, tetapi juga menjadi pelopor perubahan dan kemandirian bangsa.

Jadilah santri yang berilmu, berakhlak, dan berdaya. Rawatlah tradisi pesantren, tetapi juga peluklah inovasi zaman. Bawalah semangat pesantren ke ruang publik, ke dunia kerja, ke ranah internasional. Tunjukkan bahwa santri mampu menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton, tegas AKP Sunarto dalam amanatnya yang disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta apel.


Kegiatan apel berlangsung dengan khidmat dan tertib. Bertindak sebagai Komandan Apel adalah Sahabat Murdiyanto, anggota Banser Satkoryon Watulimo sekaligus Pembina Program Unggulan MI Watuagung. Adapun petugas pembaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dibawakan dengan suara merdu oleh Ustadz Imam Nahrowi (Guru MI Watuagung), sementara pembaca UUD 1945 oleh Ibu Suparti (Guru RA), pembaca Ikrar Santri oleh Ibu Fatonah (Kepala RA Miftahul Huda), dan pembaca Resolusi Jihad oleh Bapak Mustarom (Kepala MI Watuagung). Acara ditutup dengan doa penuh haru yang dipimpin oleh Sahabat Mustakim (Ketua GP Ansor Ranting Ngembel).


Suasana makin semarak saat Tim Paduan Suara dari Fatayat NU Ranting Watuagung dan Ngembel, diiringi oleh barisan Banser Watulimo, menampilkan koreografi kebangsaan yang menggugah semangat dan menumbuhkan rasa cinta tanah air di kalangan santri dan hadirin. Sorak takbir dan yel-yel "Siapa Kita ... Kader NU, NKRI ... Harga Mati, Pancasila ... Jaya!" bergema menggema di udara Watulimo pagi itu.

Usai apel, Camat Watulimo, Bapak Jati Mustika Dani, S.STP., menyampaikan apresiasi tinggi atas pelaksanaan apel kebangsaan yang megah dan penuh semangat ini.

“Hari Santri bukan hanya milik pesantren, tetapi milik seluruh anak bangsa. Semangat santri harus kita tanamkan di semua lini kehidupan — kerja keras, keikhlasan, dan cinta tanah air. Saya bangga melihat sinergi luar biasa antara lembaga pendidikan, NU, dan pemerintah desa di Watuagung dan Ngembel ini,” tutur Camat Watulimo.


Sementara itu, Murdiyanto, selaku perwakilan panitia dan Komandan Apel, menyampaikan rasa syukur dan bangganya atas suksesnya kegiatan tersebut.

“Apel Kebangsaan ini adalah bukti nyata bahwa santri siap menjaga bangsa, mencintai tanah air, dan meneruskan perjuangan ulama. Terima kasih atas kehadiran Forkopimcam Watulimo, Jam’iyyah NU, Banom, dan seluruh masyarakat yang turut berpartisipasi,” ujarnya penuh semangat.

Kegiatan bersejarah ini menjadi momentum kebanggaan bagi seluruh warga madrasah, masyarakat Watuagung, Desa Ngembel dan sekitarnya. Di tengah berkibarnya bendera merah putih dan gema shalawat, semangat Hari Santri 2025 yang mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia” terasa hidup dan nyata.

Apel Kebangsaan di MI Watuagung bukan sekadar seremoni, melainkan simbol kebangkitan moral, spiritual, dan intelektual santri Indonesia. Semangat santri akan terus menyala, membawa cahaya pesantren ke seluruh penjuru negeri — dari Watulimo untuk Indonesia dan dunia. (My)


----------
Dokumentasi selengkapnya dapat diunduh DISINI
Share:

Selasa, Oktober 21, 2025

Doa Kebangsaan Hari Santri Nasional 2025: Malam Penuh Berkah dan Cinta Tanah Air di MI Watuagung Watulimo


Watuagung, 21 Oktober 2025 — Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2025, keluarga besar PAUD, RA Miftahul Huda, dan MI Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek menggelar Doa Kebangsaan yang penuh khidmat dan makna pada Selasa malam Rabu, 21 Oktober 2025. Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut berlangsung di halaman MI Watuagung dan diikuti oleh para siswa dari tiga lembaga pendidikan, dewan guru, orang tua/wali murid, pengurus dan komite madrasah, serta jamaah yasin setempat.

Kegiatan dimulai dengan pembukaan dan sambutan dari Kepala MI Watuagung, Bapak Mustarom, yang dalam pesannya menekankan pentingnya meneladani semangat perjuangan para santri dalam menjaga keutuhan bangsa.

“Santri bukan hanya mereka yang belajar di pesantren, tetapi setiap insan yang menjadikan ilmu, iman, dan cinta tanah air sebagai jalan hidupnya. Mari kita doakan negeri ini agar tetap aman, damai, dan diberkahi Allah SWT,” tutur beliau dalam sambutannya yang disambut dengan takbir dan tepuk tangan hadirin.


Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Komite MI Watuagung, Bapak Muniri, yang mengapresiasi sinergi antara lembaga pendidikan, orang tua, dan masyarakat dalam memperingati momentum nasional yang sarat nilai religius dan kebangsaan ini.

“Hari Santri adalah momentum untuk meneguhkan kembali peran pendidikan Islam dalam mencetak generasi yang cerdas, berakhlak, dan cinta tanah air. Mari kita rawat kebersamaan ini agar MI Watuagung dan lembaga di bawah naungan Miftahul Huda semakin maju dan barokah,” ungkap beliau penuh semangat.

Acara dilanjutkan dengan istighotsah dan dzikir kebangsaan yang dipimpin oleh Ustadz Murdiyanto, diikuti dengan penuh kekhusyukan oleh seluruh peserta. Lantunan doa dan shalawat menggema di seluruh area madrasah, menciptakan suasana religius dan damai yang menggetarkan jiwa.

Puncak acara ditandai dengan Doa Kebangsaan yang dipimpin secara bergantian oleh KH. Suratman, Kyai Muniri, dan KH. Muyani. Dalam doa bersama itu, para jamaah memohon kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia senantiasa diberi kedamaian, kekuatan, serta dijauhkan dari segala bala dan perpecahan.


Malam Doa Kebangsaan ini menjadi simbol kebersamaan antara lembaga pendidikan, masyarakat, dan para ulama dalam menguatkan nilai keislaman dan kebangsaan. Tidak hanya sebagai bentuk peringatan Hari Santri, tetapi juga sebagai manifestasi cinta tanah air dan komitmen menjaga warisan perjuangan para kiai dan santri yang telah mengorbankan segalanya demi kemerdekaan dan kejayaan Indonesia.

Dengan berakhirnya acara, seluruh peserta meninggalkan tempat dengan hati yang tenang dan penuh harapan, membawa semangat baru untuk terus menghidupkan nilai-nilai santri dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga semangat Hari Santri ini menumbuhkan generasi yang kuat dalam iman, luas dalam ilmu, dan teguh dalam menjaga bangsa,” ujar Ustadz Murdiyanto di akhir acara.


------
Penulis: Tim Redaksi MI Watuagung
Dokumentasi: Humas MI Watuagung Watulimo

Share:

Jumat, Oktober 17, 2025

Keluarga Besar MI Watuagung dan RA Miftahul Huda Gelar Ziarah Masyayikh dan Tokoh NU: Menyambut Hari Santri Nasional 2025 dengan Spirit Keteladanan Ulama



Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2025, Keluarga Besar PAUD, RA Miftahul Huda, dan MI Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek menggelar kegiatan Ziarah Masyayikh dan Tokoh NU, pada Jum’at, 17 Oktober 2025. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa dari tiga lembaga tersebut, para dewan guru, orang tua/wali murid, serta segenap pengurus dan komite madrasah dengan penuh khidmat dan antusias.

Kegiatan ziarah dimulai pukul 07.30 WIB dengan titik kumpul di halaman MI Watuagung. Setelah pembukaan dan pengarahan, seluruh peserta melanjutkan perjalanan menuju makam para Masyayikh dan tokoh Nahdlatul Ulama setempat yang telah berjasa besar dalam dakwah Islam dan pendidikan di Watulimo.

Dalam sambutannya, Kepala MI Watuagung, Bapak Mustarom, menyampaikan bahwa kegiatan ziarah ini bukan hanya bentuk penghormatan kepada para ulama pendahulu, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter bagi para santri sejak dini.

Melalui kegiatan ziarah ini, kita ingin menanamkan nilai ta’dhim (penghormatan) kepada para guru dan ulama. Anak-anak perlu belajar bahwa kemajuan pendidikan dan agama yang mereka nikmati hari ini tidak lepas dari perjuangan para Masyayikh terdahulu. Semangat inilah yang menjadi napas Hari Santri,” ungkapnya.



Acara kemudian dilanjutkan dengan dzikir dan tahlil yang dipimpin oleh Bapak Kyai Muniri, selaku Ketua Komite MI Watuagung. Dalam doanya, beliau menegaskan pentingnya menjaga warisan spiritual dan perjuangan ulama NU agar tetap hidup di hati para santri dan generasi muda.

Ziarah bukan sekadar datang ke makam, tapi mengenang jasa, meneladani perjuangan, dan mendoakan mereka agar kita senantiasa mendapat keberkahan ilmu serta istiqamah di jalan ahlussunnah wal jama’ah,” tutur beliau penuh haru.

Selanjutnya, pembacaan doa dipimpin secara bergantian oleh Bapak Kyai Kasijo (Pengurus MI Watuagung) dan Ust. Murdiyanto (Pembina Ekstrakurikuler dan Program Unggulan MI Watuagung). Dalam doanya, Ust. Murdiyanto mengajak seluruh peserta agar menjadikan semangat Hari Santri sebagai momentum memperkuat komitmen belajar, berakhlak, dan berjuang dengan semangat keikhlasan santri sejati.

“Santri adalah simbol pengabdian tanpa pamrih. Mari kita jadikan Hari Santri sebagai pengingat bahwa ilmu dan akhlak harus berjalan seiring, sebagaimana yang dicontohkan para ulama kita,” ujarnya.


Kegiatan ziarah berjalan dengan penuh khusyuk dan tertib hingga menjelang siang. Para siswa tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan, sementara para guru dan wali murid memberikan pendampingan dengan penuh kebersamaan dan kekeluargaan.

Menjelang akhir kegiatan, seluruh peserta berfoto bersama sebagai dokumentasi dan simbol kebersamaan keluarga besar PAUD, RA Miftahul Huda, dan MI Watuagung dalam meneladani perjuangan para pendahulu.

Melalui kegiatan ini, semangat “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia” yang menjadi tema Hari Santri Nasional 2025 benar-benar terasa hidup dalam jiwa seluruh peserta — menguatkan tekad untuk terus melahirkan generasi santri yang berakhlak, berilmu, dan cinta tanah air. (My)

Share:

Rabu, Oktober 15, 2025

Ziarah Masyayikh dan Tokoh NU: LP Ma’arif NU Watulimo Teladani Perjuangan Ulama Menyambut Hari Santri 2025


Dalam rangka menyambut dan memeriahkan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2025, Majelis Wakil Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (MWC LP. Ma’arif NU) Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek melaksanakan kegiatan Ziarah Masyayikh dan Tokoh NU, pada Rabu, 15 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian peringatan HSN, sebagai wujud penghormatan dan rasa terima kasih kepada para ulama, pendiri, serta pejuang Nahdlatul Ulama yang telah berkontribusi besar terhadap dakwah Islam dan pendidikan di wilayah Watulimo.

Ziarah diikuti oleh pengurus MWC LP. Ma’arif NU Watulimo, para Kepala Madrasah anggota Kelompok Kerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah (K3MI) Ma’arif NU Watulimo, serta perwakilan dari SMA Islam Watulimo. Kegiatan ini dipimpin oleh Ustadz Khoirudin, S.Pd.I (Kepala MI Pakel) dan Ustadz Syamsul Huda, S.Pd.I (Guru MI Karanggandu) yang bertindak sebagai pembimbing doa dan pengarah perjalanan ziarah.

Adapun rute ziarah dimulai dari makam/maqbarah Eyang Sorengpati di Sambu/Klowongan — tokoh yang dikenal sebagai babat alas wilayah Watulimo — dilanjutkan ke makam almarhum K.H. Imam Musaji di Watulimo, yang merupakan mantan Ketua MWC NU sekaligus Ketua LP. Ma’arif NU Watulimo. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke makam Mbah Nuraddin di Thukul Gemaharjo (tokoh penyebar Islam di wilayah Gemaharjo), makam K.H. Abu Syamsuddin di Prigi (mantan Rais Syuriyah MWC NU Watulimo), makam Tumenggung Alap-alap di Jurangmangu–Prigi, dan diakhiri di maqbarah Pondok Pesantren Darul Muttaqin Karanggandu.

Dari MI Watuagung, hadir secara langsung Bapak Mustarom, S.Pd.I selaku Kepala Madrasah, yang turut serta bersama rombongan ziarah dari awal hingga akhir kegiatan. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan historis bagi para pendidik di lingkungan LP. Ma’arif NU.

“Ziarah ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Kita menelusuri jejak perjuangan para ulama yang telah menanamkan dasar keislaman, keilmuan, dan ke-NU-an di bumi Watulimo,” ujar Mustarom dengan penuh takzim.


Suasana menjadi semakin khidmat ketika rombongan tiba di maqbarah K.H. Imam Musaji, di mana beberapa siswa MI Plus Watulimo turut bergabung mengikuti kegiatan doa bersama. Hal ini menjadi momen bersejarah sekaligus penuh makna, mengingat almarhum K.H. Imam Musaji semasa hidupnya pernah menjabat sebagai Kepala MI Plus Watulimo, sehingga kehadiran para siswa menjadi bentuk penghormatan kepada sosok guru dan ulama yang pernah membimbing mereka secara langsung maupun tidak langsung.

Kegiatan ziarah ini berlangsung dengan tertib, penuh kekhusyukan, dan diselimuti suasana kebersamaan. Di setiap makam yang dikunjungi, rombongan bersama-sama membacakan tahlil dan doa sebagai bentuk penghormatan serta memohon keberkahan dari perjuangan para ulama terdahulu.

Bagi keluarga besar MI Watuagung, kegiatan ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya meneladani perjuangan para ulama dan guru-guru terdahulu, sekaligus memperkokoh semangat santri dalam menyambut Hari Santri Nasional tahun ini dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.”

Dengan semangat hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman), kegiatan Ziarah Masyayikh dan Tokoh NU ini menjadi pengingat bahwa perjuangan para pendahulu tidak boleh dilupakan, melainkan harus terus dilanjutkan oleh generasi penerus — para guru, santri, dan pelajar — yang siap menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah serta mengabdi untuk agama, bangsa, dan negara. (My)


Dokumentasi selengkapnya Klik DISINI

Share:

Selasa, September 23, 2025

Hari Santri 2025: Menag Tegaskan Pesantren sebagai Motor Peradaban dan Generasi Kompetitif Global


MI Watuagung News – Menteri Agama Republik Indonesia, H. Nasaruddin Umar, secara resmi membuka rangkaian peringatan Hari Santri 2025 sekaligus meluncurkan logo resmi Hari Santri 2025. Acara bersejarah ini berlangsung di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Senin (22/9/2025).

Dalam sambutannya, Menag menyampaikan bahwa peluncuran tahun ini dipusatkan di Tebuireng sebagai titik awal berbagai kegiatan yang akan digelar di sejumlah daerah. “Puncak peringatan Hari Santri akan dipusatkan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII),” ungkapnya.

Menurut Menag, Hari Santri bukan sekadar peringatan historis, melainkan momentum untuk meneguhkan komitmen generasi santri ke depan. Pesantren, kata Nasaruddin, adalah motor peradaban yang mempersiapkan generasi kompetitif, baik di tingkat nasional maupun global.

“Santri dituntut menguasai ilmu agama sekaligus sains modern agar mampu menjawab tantangan global. Santri adalah generasi antre, yang siap membawa kekuatan umat dengan identitas Islam inklusif,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya melahirkan intelektual, tetapi juga pribadi dengan kepekaan moral, sosial, dan spiritual. Keseimbangan antara logika dan rasa inilah yang diyakini menjadi modal utama santri untuk memimpin bangsa.

Menag juga menyoroti peran besar pesantren dalam skala global. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar menjadi kiblat peradaban Islam dunia, berbekal tradisi moderasi pesantren, serta stabilitas politik dan ekonomi nasional.

Sebagai bentuk komitmen, pemerintah terus mendorong pengembangan pesantren, mulai dari pendidikan gratis, penguatan ekonomi umat, hingga program sosial yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Menag juga mengapresiasi kemajuan pesantren yang kian pesat sejak lahirnya Undang-Undang Pondok Pesantren.

“Santri kini tidak hanya menjadi guru atau ustadz, tapi juga telah berkiprah sebagai diplomat, polisi, hingga pengusaha. Mereka penuh percaya diri dan berperan penting di berbagai sektor,” jelasnya.

Menutup sambutannya, Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kemandirian pesantren tetap harus terjaga, namun pemerintah tetap berkewajiban memberikan perhatian. Bahkan, dalam waktu dekat akan diterbitkan ketetapan tentang pendirian direktorat khusus di bawah eselon I yang fokus menangani pesantren.

Tim Redaksi MI Watuagung melihat bahwa semangat yang disampaikan Menag menjadi inspirasi bagi seluruh santri, termasuk di MI Watuagung, untuk terus menumbuhkan semangat belajar, menjaga tradisi pesantren, serta siap menjawab tantangan zaman dengan bekal ilmu agama dan pengetahuan modern.


Logo Hari Santri Nasional 2025 dapat diunduh DISINI

Share:

Terjemahkan

Arsip Digital Online

Mars LP Ma'arif NU