NPSN : 60714452 | NSM : 111235030055 | IJOB NO. : MIS/03.0055/2017 | AKTE NOTARIS : NO. 4, MUNYATI SULLAM, S.H., M.H. | Pengesahan Akta Notaris : AHU-119.AH.01.08.TAHUN 2013 / 26 JUNI 2013 | Tanggal Pendirian : 01 JANUARI 1965
Tampilkan postingan dengan label KBM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KBM. Tampilkan semua postingan

Senin, Oktober 13, 2025

Belajar Fikih Menyenangkan: Siswa Kelas VI MI Watuagung Praktik Jual Beli di Kantin Madrasah


Watuagung, 13 Oktober 2025 — Suasana belajar tampak berbeda di MI Watuagung pada Senin pagi ini. Siswa-siswi kelas VI tampak antusias mengikuti kegiatan pembelajaran mata pelajaran Fikih bersama Ibu Anik Tutut Sholihah, M.Pd.I, yang akrab disapa Bu Tutut. Pada kesempatan tersebut, beliau mengajar materi “Jual Beli (Al-Bai’)”, sesuai dengan silabus Fikih Kelas VI Madrasah Ibtidaiyah, dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, dan praktik langsung di lingkungan madrasah.

Dalam kegiatan ini, Bu Tutut terlebih dahulu menyampaikan pengertian jual beli dalam Islam, yaitu tukar-menukar barang atau sesuatu yang bernilai dengan akad (ijab qabul) yang dilakukan secara sukarela antara penjual dan pembeli sesuai dengan syariat Islam. Beliau juga menekankan bahwa dalam Islam, jual beli diperbolehkan selama memenuhi rukun dan syaratnya, di antaranya:

  1. Ada penjual dan pembeli yang cakap hukum (baligh dan berakal),

  2. Ada barang atau benda yang diperjualbelikan,

  3. Ada harga atau nilai tukar yang jelas,

  4. Ada ijab qabul (akad) antara kedua belah pihak, serta

  5. Dilakukan dengan kerelaan tanpa unsur penipuan (gharar) atau kecurangan.

Setelah penjelasan teori dan diskusi tentang macam-macam jual beli yang sah dan yang dilarang, siswa kemudian diajak untuk mempraktikkan kegiatan jual beli secara langsung di kantin madrasah. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok: ada yang berperan sebagai penjual, ada yang menjadi pembeli, dan ada juga yang bertugas sebagai pengamat untuk menilai apakah proses jual beli sudah sesuai dengan ketentuan syariat.


Kegiatan praktik tersebut berlangsung meriah dan penuh semangat. Para siswa tampak berinteraksi dengan gembira sambil tetap menerapkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan saling menghargai dalam transaksi. Melalui praktik ini, siswa belajar secara langsung bagaimana menerapkan ajaran Fikih dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal muamalah.

Menurut Bu Tutut, kegiatan ini bertujuan agar siswa tidak hanya memahami konsep jual beli secara teori, tetapi juga mengalami dan merasakan prosesnya secara nyata, sehingga nilai-nilai Islam dapat benar-benar tertanam dalam perilaku mereka.

“Saya ingin anak-anak memahami bahwa Islam tidak hanya mengatur ibadah, tapi juga muamalah seperti jual beli. Dengan praktik ini, mereka bisa belajar jujur, adil, dan bertanggung jawab dalam bertransaksi,” ujar Bu Tutut saat ditemui di sela kegiatan.

Kepala MI Watuagung, Bapak Mustarom, S.Pd.I, turut memberikan apresiasi atas kreativitas guru dalam mengemas pembelajaran yang bermakna. Beliau menyampaikan bahwa pendekatan kontekstual seperti ini sejalan dengan visi madrasah untuk membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkarakter islami.

Dengan kegiatan belajar yang aktif, kreatif, dan menyenangkan ini, siswa kelas VI MI Watuagung tidak hanya memahami materi jual beli dalam Fikih, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.


---------
🖋️ Penulis: Tim Redaksi MI Watuagung
📸 Dokumentasi: Guru Kelas 6 MI Watuagung
📅 Tanggal: Senin, 13 Oktober 2025
Share:

Sabtu, Oktober 11, 2025

Belajar Menulis dan Berkreasi: Siswa Kelas 1 MI Watuagung Asah Literasi Melalui Kegiatan Menulis Suku Kata "ku" dan Membuat Kartu Nama Binatang


Watuagung, 11 Oktober 2025 — Pembelajaran kreatif dan menyenangkan kembali tampak di ruang kelas 1 (satu) MI Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Pada Sabtu (11/10/2025), Ibu Dyah Nuryatin, S.Pd., selaku guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia, mengajak para siswa belajar menulis suku kata “ku” sekaligus berkreasi membuat kartu nama binatang.

Kegiatan ini menjadi bagian dari penerapan pendekatan Deep Learning (Kurikulum Berbasis Cinta) dengan model pembelajaran Discovery Learning – Kolaboratif, yang menekankan pada penemuan makna melalui aktivitas reflektif dan interaktif.

Dalam pembelajaran tersebut, Ibu Dyah mengawali kegiatan dengan mengajak siswa mengamati berbagai gambar binatang yang telah disiapkan. Setelah itu, guru mengarahkan siswa untuk menemukan dan menuliskan kata-kata yang mengandung suku kata “ku”, seperti kuku, kucing, kukuruyuk, dan kupu-kupu.
Sambil menulis, siswa juga diajak berdiskusi tentang arti kata dan ciri-ciri binatang yang disebutkan.

“Hari ini kita belajar menulis suku kata ‘ku’. Siapa yang tahu binatang apa yang namanya ada ‘ku’-nya? Yuk, kita cari bersama!” ujar Ibu Dyah penuh semangat di tengah suasana belajar yang ceria.


Setelah sesi menulis dan menemukan kata, siswa diarahkan untuk membuat kartu nama binatang. Setiap siswa menggambar binatang pilihannya, menuliskan namanya dengan benar, serta menghias kartu tersebut dengan warna-warna cerah. Hasil karya anak-anak kemudian dipajang di papan literasi kelas, sehingga menumbuhkan rasa bangga dan kepercayaan diri pada diri mereka.

Kegiatan menulis suku kata dan membuat kartu nama binatang ini tidak hanya mengasah kemampuan literasi dasar, tetapi juga melatih siswa untuk bekerja sama, berani berpendapat, dan menghargai hasil karya teman. Pembelajaran kolaboratif ini menjadi bentuk nyata dari implementasi Discovery Learning, di mana siswa menemukan sendiri pengetahuan melalui pengalaman dan eksplorasi yang menyenangkan.

Menurut Ibu Dyah, kegiatan seperti ini sangat efektif untuk siswa kelas rendah.

“Anak-anak belajar dengan lebih bermakna ketika mereka menemukan sendiri jawabannya. Dengan cara seperti ini, mereka tidak hanya menulis, tetapi juga berpikir, berimajinasi, dan berani mengekspresikan diri,” jelasnya.


Kepala MI Watuagung turut mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai wujud inovasi guru dalam menerapkan pembelajaran berbasis Deep Learning. Pendekatan ini terbukti mampu membangun karakter cinta belajar dan rasa ingin tahu siswa sejak dini.

Melalui kegiatan pembelajaran kreatif seperti ini, MI Watuagung terus berkomitmen menghadirkan pengalaman belajar yang cerdas, berakhlak, dan menyenangkan, sesuai dengan visi madrasah: “Terbentuknya generasi yang cerdas, berakhlakul karimah, unggul dalam prestasi, dan berwawasan global.”


---------
🖋️ Penulis: Tim Redaksi MI Watuagung
📸 Dokumentasi: Guru Kelas 1 MI Watuagung
📅 Tanggal: Sabtu, 11 Oktober 2025

Share:

Rabu, Oktober 08, 2025

Menarik Pola, Menemukan Makna — Siswa Kelas 4 MI Watuagung Belajar Pola Bilangan dengan Cara Seru


Watuagung, 08 Oktober 2025 — Suasana belajar tampak penuh semangat di ruang kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung pada hari Rabu pagi. Kegiatan pembelajaran kali ini adalah pelajaran Matematika yang diampu oleh Ibu Widia Maya Sari, S.Pd., dengan materi menarik bertema “Pola Bilangan” pada Bab 3: Pola Gambar dan Bilangan.

Dalam kegiatan pembelajaran tersebut, Ibu Widia mengajak para siswa memahami konsep pola dengan menggunakan metode “Tarik Pola Bilangan”, yaitu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada keterlibatan aktif siswa dalam menemukan dan menarik kesimpulan pola dari deret angka dan bentuk gambar secara mandiri maupun berkelompok.

Materi yang disampaikan antara lain mengenai:

“Pola bilangan adalah urutan bilangan yang memiliki keteraturan tertentu. Setiap bilangan dalam pola memiliki hubungan dengan bilangan sebelumnya, misalnya bertambah atau berkurang dengan jumlah yang sama, atau mengikuti bentuk tertentu seperti kelipatan, pangkat, maupun deret ganjil-genap.”


Dengan metode Tarik Pola Bilangan ini, siswa diajak untuk menelusuri contoh-contoh pola seperti:

  • 2, 4, 6, 8, 10, … (pola bilangan genap)

  • 1, 3, 5, 7, 9, … (pola bilangan ganjil)

  • 1, 2, 4, 8, 16, … (pola bilangan berpangkat dua)

  • serta pola gambar seperti segitiga, persegi, dan susunan titik yang bertambah secara teratur.

Melalui kegiatan menarik garis, menghitung, dan mengamati perubahan pola, siswa tampak antusias mengungkap “rahasia” di balik setiap deret bilangan. Ibu Widia menuturkan bahwa metode ini membantu siswa berpikir logis, sistematis, dan menemukan konsep matematika secara menyenangkan.

“Anak-anak bukan hanya menghafal angka, tetapi benar-benar memahami bagaimana suatu pola terbentuk. Dari situ mereka bisa menalar dan memprediksi angka berikutnya dengan percaya diri,” ujar Ibu Widia.


Kegiatan pembelajaran ditutup dengan sesi refleksi, di mana siswa menyimpulkan bahwa setiap pola memiliki aturan yang tetap, dan menemukan pola membantu mereka dalam berbagai perhitungan matematika di bab-bab berikutnya.

Dengan penerapan metode yang kreatif dan kontekstual seperti ini, MI Watuagung terus berupaya menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, dan menyenangkan agar siswa semakin mencintai dunia angka dan logika. (My)

Share:

Selasa, Oktober 07, 2025

Serunya Belajar IPS Kelas 6: Mengenal dan Mengamalkan Nilai-Nilai Pancasila Bersama Pak Eko Purwanto


Watuagung - Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di MI Watuagung pada Selasa (07/10/2025) berlangsung penuh semangat, khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas VI yang diampu oleh Bapak Eko Purwanto, S.Pd. Materi pembelajaran kali ini membahas tentang “Pengamalan Sila-Sila dalam Pancasila” dengan menggunakan metode Tanya Jawab, yang membuat suasana kelas menjadi hidup, komunikatif, dan menyenangkan.

Dalam pembelajaran tersebut, Pak Eko mengajak para siswa untuk memahami makna dan contoh nyata dari setiap sila Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menjelaskan bahwa Pancasila tidak hanya sekadar hafalan, tetapi pedoman dalam bersikap dan bertindak di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.


Berikut kutipan materi pelajaran yang disampaikan:

“Setiap sila dalam Pancasila mengandung nilai luhur yang harus diamalkan oleh seluruh warga negara Indonesia.

  • Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa, berarti kita wajib beriman dan bertakwa kepada Tuhan, serta menghormati perbedaan agama.

  • Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, menuntun kita agar saling menghargai dan menolong sesama.

  • Sila Ketiga: Persatuan Indonesia, mengajarkan pentingnya cinta tanah air dan menjaga persatuan bangsa.

  • Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mengajarkan untuk bermusyawarah dalam mengambil keputusan bersama.

  • Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mengingatkan kita untuk bersikap adil dan menghargai hak orang lain.”

Melalui metode tanya jawab, siswa-siswi terlihat aktif menjawab dan memberi contoh penerapan sila-sila tersebut dalam kehidupan nyata, seperti gotong royong di lingkungan sekolah, menghormati guru, berdoa sebelum belajar, hingga berbagi dengan teman yang membutuhkan.


Menurut Pak Eko, metode tanya jawab dipilih karena dapat melatih keaktifan berpikir siswa sekaligus memperkuat pemahaman konsep secara langsung.

“Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya tahu makna Pancasila, tetapi juga bisa merasakan bagaimana menerapkannya dalam keseharian,” tutur beliau.

Salah satu siswa, Nabila, mengaku senang dengan pembelajaran hari ini karena bisa langsung berdiskusi dan memberikan pendapatnya.

“Belajar IPS jadi seru, soalnya bisa tanya langsung ke Pak Eko dan saling tukar pendapat sama teman-teman,” ujarnya dengan antusias.

Kegiatan belajar ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan nilai-nilai Pancasila dapat ditanamkan secara menyenangkan dan kontekstual. Melalui pembelajaran IPS seperti ini, siswa MI Watuagung diharapkan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan berjiwa Pancasila sejati.


--------------
🖋️ Penulis: Tim Redaksi MI Watuagung
📸 Dokumentasi: Kelas VI MI Watuagung
Share:

Belajar Surah At-Tiin Jadi Lebih Menyenangkan, Siswa Kelas 5 MI Watuagung Antusias Ikuti Pembelajaran Qur’an Hadits Bersama Bu Tutut


Watuagung – Suasana belajar tampak berbeda di kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah Watuagung pada hari Selasa, 07 Oktober 2025. Pada jam pelajaran Qur’an Hadits, siswa tampak begitu antusias mengikuti kegiatan pembelajaran yang dipandu oleh Ibu Anik Tutut Sholihah, M.Pd.I, atau yang akrab disapa Bu Tutut.

Materi yang diajarkan kali ini adalah Surah At-Tiin, salah satu surah dalam Al-Qur’an yang mengandung makna mendalam tentang kemuliaan manusia dan pentingnya keimanan serta amal saleh. Pembelajaran ini dikemas dengan metode kuis interaktif, sehingga membuat siswa lebih bersemangat dan aktif dalam memahami isi kandungan ayat-ayatnya.

Dalam kegiatan tersebut, Bu Tutut mengawali pembelajaran dengan membaca bersama surah At-Tiin secara tartil dan benar sesuai tajwid. Setelah itu, beliau menjelaskan makna ayat demi ayat, serta mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari siswa.

“Surah At-Tiin mengingatkan kita bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Namun, manusia bisa menjadi hina apabila tidak beriman dan tidak beramal saleh,” ujar Bu Tutut di sela-sela kegiatan belajar.


Beberapa potongan ayat yang menjadi fokus pembelajaran antara lain:

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1)
“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun.”

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4)
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Melalui penjelasan tersebut, siswa diajak untuk menyadari keistimewaan dirinya sebagai ciptaan Allah dan pentingnya menjaga akhlak mulia, keimanan, serta berbuat baik kepada sesama.

Setelah pemahaman materi, kegiatan dilanjutkan dengan kuis berkelompok. Siswa dibagi menjadi beberapa tim dan saling berlomba menjawab pertanyaan seputar makna, isi, dan pesan moral dari surah At-Tiin. Metode ini tidak hanya menumbuhkan semangat belajar, tetapi juga melatih kerja sama dan sportivitas di antara siswa.

“Belajar dengan cara kuis seperti ini menyenangkan sekali, Bu! Jadi tidak mengantuk dan lebih mudah ingat artinya,” ungkap salah satu siswa dengan penuh semangat.


Bu Tutut berharap kegiatan seperti ini dapat terus diterapkan untuk menumbuhkan minat belajar Al-Qur’an Hadits dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.

“Anak-anak sekarang perlu pendekatan yang interaktif agar nilai-nilai Al-Qur’an tidak hanya dipahami, tapi juga dihayati dalam perilaku mereka sehari-hari,” tambahnya.

Kegiatan pembelajaran ini menjadi bukti bahwa pembelajaran Qur’an Hadits dapat berlangsung menarik, inspiratif, dan bermakna bila dikemas dengan metode yang tepat. Melalui kegiatan seperti ini, MI Watuagung terus berkomitmen menanamkan nilai-nilai keislaman dan karakter mulia kepada setiap peserta didik sejak dini. (My)

Share:

Sabtu, Oktober 04, 2025

Asyiknya Belajar Matematika, Siswa Kelas 1 MI Watuagung Antusias Memahami Materi Pengurangan


Watuagung, Watulimo – Sabtu, 04 Oktober 2025
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di MI Watuagung kembali berlangsung penuh semangat. Pada Sabtu (04/10/2025), pembelajaran Matematika di kelas 1 (satu) yang diampu oleh Ibu Dyah Nuryatin, S.Pd. menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan dengan tema “Asyiknya Belajar Matematika”.

Materi yang diajarkan kali ini adalah pengurangan bilangan sederhana, salah satu kompetensi dasar yang penting untuk dipahami oleh peserta didik kelas awal. Dalam pembelajaran tersebut, Ibu Dyah menjelaskan konsep pengurangan dengan pendekatan konkret melalui benda-benda nyata dan permainan sederhana.

Beliau mengutip contoh soal untuk mempermudah pemahaman siswa:

  • “Jika Ani mempunyai 5 permen, lalu dimakan 2, berapakah sisa permen Ani?”

  • “7 - 3 = ….”

Dengan metode tanya jawab interaktif, siswa dilatih untuk menghitung menggunakan jari tangan, alat peraga, hingga menggambar. Hal ini membantu mereka memahami bahwa pengurangan berarti “mengambil sebagian dari keseluruhan”.


Suasana kelas tampak hidup ketika para siswa diminta maju ke depan untuk mencoba mengerjakan soal di papan tulis. Beberapa siswa bahkan mampu menjawab dengan cepat dan penuh percaya diri. “Saya senang belajar Matematika karena ada hitung-hitungan seperti main tebak-tebakan,” ungkap salah satu siswa dengan wajah gembira.

Ibu Dyah Nuryatin menegaskan bahwa pada usia dini, anak-anak perlu dikenalkan Matematika dengan cara yang menyenangkan agar tidak merasa takut pada pelajaran hitung. “Anak-anak harus dibiasakan melihat Matematika sebagai sesuatu yang mudah dan menyenangkan. Dengan begitu, mereka bisa lebih cepat memahami dasar berhitung, termasuk konsep pengurangan,” ujarnya.

Melalui pembelajaran ini, siswa kelas 1 MI Watuagung tidak hanya belajar angka, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir logis, ketelitian, dan keberanian untuk mencoba. Suasana kelas yang ceria mencerminkan keberhasilan pembelajaran yang berpusat pada siswa, sehingga anak-anak belajar sambil bermain dan tetap mendapatkan pemahaman yang mendalam.

Dengan semangat belajar yang tinggi, diharapkan siswa kelas 1 MI Watuagung semakin mencintai Matematika sejak dini, serta memiliki pondasi yang kuat untuk melanjutkan ke materi-materi berikutnya. (My)

Share:

Jumat, Oktober 03, 2025

Pembelajaran Al-Qur’an Hadist di MI Watuagung: Ibu Khusnul Khotimah, S.Pd. Tanamkan Nilai Kesabaran dan Keseimbangan Dunia-Akhirat


Watuagung, Watulimo — Pada Jum’at, 03 Oktober 2025, kegiatan pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung Kecamatan Watulimo berlangsung khidmat dan penuh semangat. Salah satu kegiatan belajar mengajar (KBM) yang menarik perhatian adalah pelajaran Al-Qur’an Hadist yang diampu oleh Ibu Khusnul Khotimah, S.Pd. untuk kelas 2 (dua). Materi yang disampaikan kali ini adalah Surah Al-‘Ashr dan Surah At-Takatsur, dua surah pendek namun sarat dengan makna mendalam bagi kehidupan sehari-hari.

Dalam pembelajaran, Ibu Khusnul Khotimah tidak hanya mengajarkan bacaan dan hafalan surah, tetapi juga menguraikan kandungan maknanya. Beliau menjelaskan bahwa Surah Al-‘Ashr berisi pesan penting tentang waktu, keimanan, amal saleh, serta nasihat untuk saling menasihati dalam kesabaran.

“وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ”

(Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran).

Melalui ayat ini, Ibu Khusnul menekankan bahwa anak-anak harus belajar menghargai waktu, berbuat baik, serta membiasakan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

Sementara itu, ketika membahas Surah At-Takatsur, beliau menjelaskan tentang bahaya sikap lalai terhadap kehidupan akhirat karena terlalu sibuk mengejar harta dan kesenangan dunia.

“أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ”

(Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur).


Dalam penjelasannya, Ibu Khusnul mengingatkan para siswa agar tidak hanya terpaku pada hal-hal duniawi, tetapi juga senantiasa mengingat Allah dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.

Suasana kelas 2 MI Watuagung terlihat hidup. Anak-anak dengan penuh semangat membaca bersama-sama, menghafal ayat, dan menjawab pertanyaan guru terkait makna surah. Ibu Khusnul pun sesekali memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengatur waktu belajar dan bermain, serta saling membantu teman.

Kepala MI Watuagung mengapresiasi metode pembelajaran yang diterapkan. Beliau menyebutkan bahwa pembelajaran seperti ini sangat penting untuk membentuk karakter siswa sejak dini agar tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlakul karimah, dan memiliki kesadaran spiritual yang kuat.

Dengan pembelajaran yang menyenangkan, penuh makna, dan dekat dengan kehidupan anak-anak, kegiatan ini diharapkan tidak hanya berhenti pada aspek kognitif semata, tetapi juga membekas dalam sikap dan perilaku peserta didik di kehidupan sehari-hari. (My)

Share:

Rabu, Oktober 01, 2025

Belajar Seru dengan Metode Card Sort, Siswa Kelas 4 MI Watuagung Dalami Hak dan Kewajiban di Rumah


Watuagung, 1 Oktober 2025Suasana belajar di kelas 4 MI Watuagung pada Rabu (01/10) tampak begitu hidup dan penuh antusias. Pada hari itu, mata pelajaran Pendidikan Pancasila dengan Bab “Aku Anak Disiplin” materi Hak dan Kewajiban di Rumah berlangsung dengan metode pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, yaitu Card Sort.

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ini diampu langsung oleh guru kelas, Ibu Widia Maya Sari, S.Pd., yang dikenal penuh inovasi dalam mengajar. Sejak awal, beliau mengajak siswa untuk memahami bahwa menjadi anak disiplin berarti mampu menyeimbangkan hak dan kewajiban, terutama di lingkungan keluarga.

Dalam paparannya, Ibu Widia menekankan bahwa hak adalah segala sesuatu yang layak diterima setiap anggota keluarga, seperti kasih sayang, perhatian, dan kesempatan untuk belajar. Sementara itu, kewajiban adalah segala sesuatu yang harus dilaksanakan oleh seorang anak, misalnya membantu orang tua, menjaga kebersihan rumah, dan menaati aturan keluarga.

Beliau mengutip salah satu poin penting materi:

“Di rumah, anak memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang dan perlindungan dari orang tua. Namun, anak juga memiliki kewajiban untuk berbakti kepada orang tua, menaati aturan rumah, serta menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan keluarga.”

Metode Card Sort yang digunakan membuat siswa lebih aktif dan partisipatif. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, lalu diberikan kartu yang berisi contoh perilaku sehari-hari. Ada kartu bertuliskan hak seperti “mendapat makanan sehat” atau “beristirahat setelah belajar,” dan ada pula kartu kewajiban seperti “merapikan tempat tidur” serta “membantu membersihkan rumah.”


Setiap kelompok diminta untuk memilah kartu sesuai kategori hak atau kewajiban. Diskusi singkat pun berlangsung seru, karena ada beberapa kartu yang memancing perdebatan sehat antar siswa. Dengan arahan guru, mereka akhirnya bisa memahami bahwa hak dan kewajiban selalu berjalan beriringan, bukan untuk dipisahkan, melainkan untuk dilaksanakan secara seimbang.

Salah satu siswa, dengan penuh semangat mengatakan, “Kalau saya sudah diberi hak untuk sekolah, berarti saya wajib belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak boleh malas!” Pernyataan ini disambut tepuk tangan teman-teman sekelasnya.

Melalui metode Card Sort, pembelajaran terasa lebih bermakna. Tidak hanya sekadar mendengarkan penjelasan, tetapi siswa benar-benar terlibat aktif dalam memilah, mengkategorikan, dan memahami isi materi.

Di akhir pembelajaran, Ibu Widia Maya Sari menutup dengan pesan, “Anak yang disiplin adalah anak yang tahu haknya, sekaligus melaksanakan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab. Dengan begitu, kehidupan keluarga akan menjadi lebih harmonis.”

Kegiatan belajar hari itu berjalan lancar dan penuh keceriaan. Selain menambah wawasan tentang hak dan kewajiban, siswa juga terlatih untuk berpikir kritis, bekerja sama, dan menumbuhkan sikap disiplin sejak dini. (My)

Share:

Selasa, September 30, 2025

KBM Bahasa Arab Kelas 5 MI Watuagung: Belajar Kosakata Melalui Percakapan Interaktif


Watuagung, 30 September 2025Proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di MI Watuagung pada hari Selasa berlangsung aktif dan penuh semangat. Ibu Anik Tutut Sholihah, M.Pd.I selaku guru mata pelajaran Bahasa Arab mengampu pembelajaran di kelas 5 dengan materi “Mengenal Kosakata melalui Percakapan tentang Ruang Tamu dan Ruang Belajar”.

Dalam pembelajaran kali ini, Bu Tutut (sapaan akrab beliau) memperkenalkan sejumlah kosakata baru kepada siswa dengan cara mengaitkannya langsung pada situasi percakapan sehari-hari. Beberapa kosakata yang dipelajari di antaranya:

  • غُرْفَةُ الْجُلُوْسِ (ruang tamu)
  • غُرْفَةِ الْمُذَكَرَةِ (ruang belajar)
  • كُرْسِيٌّ (kursi)
  • مَكْتَبٌ (meja belajar)
  • كِتَابٌ (buku)
  • قَلَمٌ (pena)


Metode yang digunakan adalah
role play atau bermain peran. Siswa diajak untuk berpasangan dan melatih dialog sederhana, misalnya:

أَيْنَ أَنْتِ؟” (Di mana kamu?)
أَنَا فِي غُرْفَةِ الْمُذَكَرَةِ.” (Saya berada di ruang belajar.)

Dengan metode ini, siswa tidak hanya menghafal kosakata, tetapi juga memahami penggunaannya dalam konteks kalimat nyata.

Bu Tutut menekankan pentingnya keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran. “Bahasa Arab bukan sekadar dihafalkan, tapi dipraktikkan. Dengan percakapan sederhana, anak-anak akan lebih mudah memahami arti dan fungsi kata dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.


Siswa terlihat antusias, bahkan beberapa dengan percaya diri mampu memperagakan percakapan di depan kelas. Suasana belajar berlangsung menyenangkan karena diselingi dengan permainan tanya jawab dan tepuk semangat agar anak-anak tidak mudah bosan.

Kegiatan ini diakhiri dengan evaluasi singkat berupa latihan menulis kosakata di buku tulis masing-masing serta mengulang kembali dialog secara bersama-sama. Dengan demikian, materi yang sudah dipelajari tidak hanya terekam secara lisan tetapi juga tertulis.

Melalui KBM ini, MI Watuagung terus berkomitmen mencetak generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan memiliki kemampuan berbahasa yang memadai sesuai visi madrasah. (My)

Share:

Pembelajaran Interaktif “Things in the Classroom” Bersama Ibu Lia Ernawati, S.Pd. di MI Watuagung


Watuagung (30/09) – Suasana kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung tampak begitu hidup pada kegiatan belajar mengajar (KBM) Bahasa Inggris yang diampu oleh Ibu Lia Ernawati, S.Pd. Materi yang diajarkan kali ini adalah seputar “Things in the Classroom” atau benda-benda yang ada di dalam kelas.

Dengan penuh semangat, Ibu Lia mengawali pembelajaran dengan memperkenalkan kosakata sederhana yang dekat dengan keseharian siswa, seperti book (buku), table (meja), chair (kursi), pencil (pensil), dan eraser (penghapus). Sambil memegang dan menunjuk benda-benda tersebut, beliau mengucapkan kata dalam Bahasa Inggris dengan jelas, lalu mengajak siswa untuk menirukannya bersama-sama.

“Anak-anak, ini namanya book. Ayo kita ucapkan bersama-sama, satu… dua… tiga… book,” ujar Ibu Lia dengan intonasi yang menyenangkan.


Metode pembelajaran yang diterapkan adalah metode langsung (direct method) dengan pendekatan visual dan praktik langsung. Siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi juga melihat, menunjuk, bahkan memegang benda-benda yang dimaksud. Hal ini membuat anak-anak lebih mudah mengingat dan memahami kosakata baru.

Untuk memperkuat pemahaman, Ibu Lia juga mengajak siswa bermain games edukatif seperti guessing game (tebak-tebakan benda). Seorang siswa diminta menutup mata, sementara guru menunjuk salah satu benda di kelas. Lalu siswa lain diminta menyebutkan dalam Bahasa Inggris, misalnya: “This is a chair.” Suasana pun menjadi riang dan penuh tawa, namun tetap dalam nuansa belajar yang serius.

Di akhir pembelajaran, siswa diminta menyebutkan kembali beberapa kosakata yang telah dipelajari. Sebagian besar siswa tampak antusias dan berhasil mengingat kata-kata baru dengan baik.

“Saya senang sekali belajar Bahasa Inggris. Ternyata eraser itu artinya penghapus,” ungkap salah seorang siswa dengan bangga.


Kepala MI Watuagung memberikan apresiasi atas cara mengajar Ibu Lia yang kreatif dan menyenangkan. Menurutnya, pembelajaran Bahasa Inggris yang dikemas secara kontekstual akan semakin memotivasi siswa untuk mencintai bahasa asing sejak dini.

Dengan metode yang tepat, pembelajaran Bahasa Inggris di MI Watuagung bukan hanya sekadar mengenal kosakata, tetapi juga membentuk rasa percaya diri siswa dalam berkomunikasi sederhana. (My)

Share:

Senin, September 29, 2025

Siswa Kelas 6 MI Watuagung Antusias Belajar Pecahan Bersama Bapak Eko Purwanto


Watuagung – Senin, 29 September 2025, suasana ruang kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek tampak hidup dan penuh semangat. Pada pagi hari tersebut, kegiatan belajar mengajar (KBM) dilaksanakan dengan materi Matematika yang membahas tentang Pecahan. Guru pengampu, bapak Eko Purwanto, S.Pd., tampil sebagai fasilitator utama dalam memberikan pemahaman kepada para siswa.

Dalam penyampaian materinya, bapak Eko menjelaskan bahwa pecahan merupakan bagian dari keseluruhan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. “Pecahan adalah bilangan yang menyatakan bagian dari suatu keseluruhan. Contohnya, jika sebuah kue dibagi menjadi 4 bagian yang sama, maka satu potong kue itu dapat ditulis sebagai ¼,” ujar beliau di hadapan siswa.

Penjelasan dilanjutkan dengan pengenalan berbagai jenis pecahan, seperti pecahan biasa, pecahan campuran, dan pecahan desimal. Bapak Eko juga memberikan latihan soal sederhana agar siswa dapat langsung mengaplikasikan konsep yang baru dipelajari. Salah satu contoh soal yang diberikan adalah: “Sebuah kebun dibagi menjadi 8 petak. Jika 3 petak ditanami jagung, maka berapa pecahan bagian kebun yang ditanami jagung?”

Siswa tampak antusias menjawab soal tersebut. Dengan bimbingan guru, mereka menyimpulkan bahwa bagian kebun yang ditanami jagung ditulis sebagai ³/₈. Metode pembelajaran interaktif yang digunakan membuat siswa lebih mudah memahami konsep pecahan sekaligus melihat keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.


Bapak Eko menekankan pentingnya menguasai materi pecahan karena menjadi dasar untuk memahami operasi hitung lanjut, seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian pecahan. “Jika anak-anak mampu memahami pecahan dengan baik, maka langkah untuk mempelajari materi berikutnya akan lebih mudah,” tambahnya.

Kegiatan pembelajaran berlangsung dengan penuh semangat. Para siswa terlihat aktif bertanya dan berdiskusi, bahkan beberapa siswa mencoba memberikan contoh sendiri dari pengalaman mereka, seperti membagi buah, kue, maupun waktu belajar.

Dengan suasana kelas yang kondusif, KBM Matematika di kelas 6 MI Watuagung pada hari ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan keterampilan berpikir logis dan aplikatif kepada siswa. Hal ini sejalan dengan tujuan madrasah untuk membentuk generasi yang cerdas, unggul dalam prestasi, dan mampu menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. (My-ATS)

Share:

Sabtu, September 27, 2025

Asyiknya Belajar Basa Jawa: Siswa Kelas 1 MI Watuagung Sinau Perangane Awak


Watuagung – Kegiatan belajar mengajar (KBM) di MI Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek kembali berjalan dengan penuh semangat pada Sabtu, 27 September 2025. Pada kesempatan tersebut, Ibu Dyah Nuryatin, S.Pd.I, selaku guru kelas 1, mengampu mata pelajaran Bahasa Jawa dengan materi Nyebutne Perangane Awak atau menyebutkan bagian-bagian tubuh.

Sejak awal pembelajaran, suasana kelas tampak hidup dan menyenangkan. Ibu Dyah membuka pelajaran dengan sapaan hangat serta memberikan motivasi kepada siswa agar mencintai bahasa daerah, khususnya Basa Jawa Krama Inggil. Hal ini sejalan dengan upaya melestarikan bahasa ibu yang menjadi identitas budaya Jawa.


Dalam penjelasannya, Ibu Dyah memperkenalkan beberapa anggota tubuh dengan menyebutkan istilah dalam bahasa krama inggil. Ia menuturkan dengan jelas:

  • “Sirah punika ingkang tegesipun kepala.”
  • “Mata punika tegesipun mripat.”
  • “Irung punika ingkang ateges grana.”
  • “Cangkem punika tegesipun tutuk.”
  • “Tangan punika ingkang ateges asto.”
  • “Suku punika tegesipun sikil.”

Siswa pun diajak mengulangi secara serempak hingga satu per satu untuk melatih pelafalan dan pemahaman. Dengan metode interaktif, guru juga memberikan permainan tebak-tebakan sederhana, seperti menunjuk bagian tubuh sambil menyebutkan istilahnya. Suasana kelas pun dipenuhi tawa riang, namun tetap serius dalam mempelajari materi.

“Anak-anak kedah saged ngucapaken kanthi bener, amargi basa krama punika minangka tata krama lan unggah-ungguhing bangsa Jawa,” tutur Ibu Dyah dalam pembelajarannya.


Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya membiasakan anak-anak sejak dini untuk menggunakan bahasa Jawa dengan tingkatan yang tepat. Hal ini diharapkan dapat membentuk karakter santun, hormat kepada orang tua, serta mencintai budaya sendiri.

Kegiatan pembelajaran berakhir dengan evaluasi singkat. Siswa diminta maju secara bergantian untuk menyebutkan bagian tubuh yang ditunjukkan guru. Banyak siswa yang berhasil menjawab dengan benar, meski beberapa masih perlu bimbingan.

Dengan pembelajaran yang komunikatif dan menyenangkan, siswa kelas 1 MI Watuagung semakin bersemangat dalam mempelajari bahasa Jawa. Materi tentang perangane awak ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap budaya Jawa sejak usia dini. (My-DN).

Share:

Jumat, September 26, 2025

Pembelajaran Interaktif Bahasa Indonesia: Siswa Kelas 2 MI Watuagung Belajar Mengenali Tanda di Tempat Umum


Watuagung, 26 September 2025Proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di MI Watuagung kembali berlangsung penuh semangat pada Jum’at (26/09). Kali ini, pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas 2 (dua) dibimbing langsung oleh Ibu Khusnul Khotimah, S.Pd. dengan materi Bab: Berhati-hati di Mana Saja, khususnya pokok bahasan mengenali tanda pada tempat umum.

Dalam kegiatan tersebut, Bu Khotim (panggilan akrabnya) menekankan pentingnya siswa mengenal berbagai tanda yang biasa ditemukan di tempat-tempat umum, seperti jalan raya, sekolah, rumah sakit, maupun fasilitas publik lainnya. Beliau menuturkan, “Anak-anak harus bisa membaca tanda di sekitar kita. Misalnya, tanda dilarang merokok, tanda hati-hati ada listrik, atau tanda dilarang masuk. Semua itu memberi pesan agar kita lebih berhati-hati demi keselamatan diri sendiri maupun orang lain.”


Pembelajaran berlangsung interaktif. Guru tidak hanya menjelaskan melalui buku teks, tetapi juga menghadirkan contoh nyata berupa gambar tanda-tanda umum yang diperlihatkan kepada siswa. Dengan cara ini, siswa lebih mudah mengenali dan memahami arti tanda tersebut.

Bu Khotim juga memberikan beberapa latihan sederhana. Para siswa diminta menyebutkan arti dari simbol tertentu, serta menirukan tindakan yang sesuai dengan peringatan yang ada. Misalnya, ketika ditunjukkan gambar tanda “Hati-hati, lantai basah”, siswa secara serempak menirukan gerakan berjalan pelan agar tidak terpeleset.

Menurut beliau, pemahaman mengenai tanda-tanda umum ini penting ditanamkan sejak dini. “Meskipun mereka masih kelas 2, kesadaran berhati-hati perlu dibangun. Dengan mengenali tanda, anak-anak belajar menjaga diri dan lebih disiplin dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.


Kegiatan belajar mengajar pun berjalan lancar dengan antusiasme tinggi dari para siswa. Mereka tampak aktif bertanya dan menjawab, bahkan beberapa di antaranya mampu menyebutkan tanda lain yang sering dilihat di lingkungan sekitar rumah.

Dengan metode pembelajaran yang menyenangkan dan aplikatif, diharapkan siswa kelas 2 MI Watuagung tidak hanya cerdas dalam memahami teks pelajaran, tetapi juga semakin waspada serta memiliki kesadaran tinggi untuk berhati-hati di mana saja. (My)

Share:

Rabu, September 24, 2025

Ibu Anik Tutut Sholihah Terapkan Metode Diskusi dalam Pembelajaran SKI Kelas 6 MI Watuagung


Watuagung  Suasana kelas 6 MI Watuagung pagi itu tampak hidup dan penuh semangat. Pada Rabu, 26 September 2025, Ibu Anik Tutut Sholihah, M.Pd.I, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang mengampu mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), melaksanakan pembelajaran dengan metode diskusi kelompok. Materi yang dipelajari adalah tentang perjuangan Sunan Bonang sebagai salah satu Wali Songo dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Dalam kegiatan pembelajaran, Bu Tutut (panggilan akrab kesehariannya) mengawali pertemuan dengan apersepsi berupa tanya jawab ringan mengenai siapa saja tokoh Wali Songo yang telah dikenal siswa. Pertanyaan ini memantik rasa ingin tahu peserta didik, sekaligus menghubungkan pengetahuan awal mereka dengan materi yang akan dipelajari.


Setelah itu, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Masing-masing kelompok mendapatkan bagian materi terkait kisah hidup, metode dakwah, hingga peninggalan Sunan Bonang. Bu Tutut memberikan arahan agar setiap kelompok membaca dan memahami materi, kemudian mendiskusikannya untuk disampaikan kembali kepada teman-teman di kelas.

Metode diskusi ini menjadikan suasana belajar lebih interaktif dan kolaboratif. Para siswa tampak antusias dalam bertukar pendapat, saling melengkapi informasi, serta melatih keberanian untuk berbicara di depan kelas. Beberapa siswa bahkan menambahkan pengetahuan dari bacaan lain maupun cerita yang pernah mereka dengar dari orang tua.

Dalam sesi presentasi, setiap kelompok memaparkan hasil diskusinya. Bu Tutut kemudian memberikan penguatan, meluruskan informasi yang kurang tepat, dan menekankan nilai-nilai keteladanan dari Sunan Bonang, seperti kebijaksanaan dalam berdakwah, kesederhanaan, dan kecintaan terhadap seni yang digunakan sebagai media penyebaran Islam.


“Melalui diskusi ini, saya berharap anak-anak tidak hanya menghafal nama tokoh, tetapi juga mampu mengambil pelajaran dari perjuangan para wali, khususnya Sunan Bonang, yang menyebarkan Islam dengan penuh kearifan,” ungkap Bu Tutut di sela kegiatan.

Kegiatan pembelajaran ini ditutup dengan refleksi bersama. Siswa diajak untuk menyimpulkan nilai-nilai penting dari perjuangan Sunan Bonang yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti sikap toleransi, semangat belajar, dan ketekunan dalam beribadah.

Dengan metode diskusi, pembelajaran SKI di kelas 6 MI Watuagung hari itu tidak hanya menjadi sarana menambah pengetahuan sejarah, tetapi juga membangun keterampilan sosial, berpikir kritis, serta menanamkan nilai-nilai luhur Islam dalam jiwa peserta didik. (MY-ATS)

Share:

Senin, September 15, 2025

Pembelajaran Matematika Materi Pecahan di Kelas 5 MI Watuagung Berjalan Aktif dan Menyenangkan


Watuagung, (15/09) — Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di MI Watuagung Kecamatan Watulimo pada hari Senin, 15 September 2025 berlangsung penuh semangat. Di kelas 5, para siswa mengikuti pembelajaran Matematika dengan materi Pecahan yang dipandu langsung oleh guru kelas sekaligus wali kelas, Ibu Lia Ernawati, S.Pd.

Dalam proses pembelajaran, Bu Lia menggunakan metode interaktif dengan melibatkan siswa secara aktif. Materi pecahan dijelaskan melalui contoh-contoh soal kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti membagi kue, menghitung bagian dari kelompok, hingga penyajian data sederhana. Hal ini membuat siswa lebih mudah memahami konsep pecahan tidak hanya secara teori, tetapi juga dalam praktik nyata.

Selain penjelasan guru, kegiatan pembelajaran juga disertai dengan latihan soal individu dan kelompok. Siswa tampak antusias saat diminta maju ke papan tulis untuk mengerjakan soal, sementara teman-temannya memberikan dukungan. Bu Lia tidak hanya memberikan materi, tetapi juga memotivasi siswa agar percaya diri dan berani mengemukakan pendapat.


Suasana kelas berjalan kondusif, penuh keceriaan, namun tetap terarah pada tujuan pembelajaran. Dengan cara ini, siswa tidak hanya terampil menghitung pecahan, tetapi juga terlatih bekerja sama, berpikir kritis, serta berani tampil di depan kelas.

Melalui kegiatan KBM hari ini, diharapkan siswa kelas 5 MI Watuagung semakin memahami materi pecahan dengan baik, serta dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Upaya Bu Lia Ernawati, S.Pd. dalam menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna menjadi salah satu bukti nyata komitmen MI Watuagung dalam meningkatkan kualitas pendidikan.


------
Kontributor : Myanto.ID
Dokumentasi : Lia Ernawati
Foto Kegiatan KBM selengkapnya unduh DISINI
.
Share:

Terjemahkan

Arsip Digital Online

Mars LP Ma'arif NU